Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kesehatan Manusia

Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kesehatan Manusia
ILUSTRASI: Dampak Kebakaran Hutan (Generative AI)

Pelitabanten.com — Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga berdampak langsung pada kesehatan manusia. Saat kebakaran terjadi, asap terbawa angin dan menyebar jauh dari tempat kebakaran. Jadi, orang yang tidak berada di dekat titik kebakaran tetap merasakan dampaknya lewat udara yang tercemar (World Health Organization, 2026).

Kebanyakan orang menganggap asap kebakaran hanya membuat udara tidak nyaman, mata terasa perih, atau pandangan menjadi kabur. Tetapi, asap mengandung banyak polutan yang masuk ke tubuh kita ketika kita bernapas. Salah satu polutan tersebut adalah PM2.5, partikel sangat kecil yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru. Asap karhutla juga mengandung karbon monoksida dan nitrogen dioksida yang dapat mengganggu kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2026). Jadi, kabut asap bukan hanya masalah lingkungan, tapi juga masalah kesehatan.

Mengapa asap kebakaran berbahaya?

PM2.5 menjadi bagian asap yang penting untuk diperhatikan karena ukurannya sangat kecil sehingga bisa masuk ke dalam paru-paru. Paparan asap dapat membuat mata terasa perih, batuk, tenggorokan tidak nyaman, dan sesak napas. Bagi orang yang memiliki asma atau penyakit paru, asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada. Dampak asap tidak sama pada semua orang. Ada yang hanya merasakan gangguan ringan, ada juga yang lebih mudah mengalami masalah pernapasan. Karena itu, kondisi kesehatan dan seberapa banyak seseorang terpapar asap perlu diperhatikan.

Dari mana asal asap kebakaran?

Sumber utama kabut asap adalah kebakaran hutan dan lahan. Musim kemarau membuat tanah lebih kering dan mudah terbakar, sementara angin membawa asap ke wilayah lain. Di Indonesia, risiko karhutla menjadi perhatian khusus selama musim

kemarau 2026, terutama antara bulan Juli hingga September (Kementerian Kesehatan RI, 2026). Selain kondisi alam, aktivitas manusia juga dapat memicu kebakaran. Karena itu, mencegah kebakaran sejak awal sangat penting untuk mengurangi pencemaran udara dan dampaknya pada kesehatan.

Apa dampaknya bagi kesehatan?

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan menjadi masalah kesehatan masyarakat karena mengandung banyak polutan yang mengganggu sistem pernapasan. Paparan asap kebakaran juga menimbulkan risiko lebih tinggi bagi kelompok tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dan ibu hamil lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran, sehingga perlindungan bagi mereka perlu mendapat perhatian khusus (Wardle et al., 2026). Selain itu, paparan asap berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Ini menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya membuat udara tidak nyaman, tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Baca Juga: Visitasi Praktik Mandiri Perawat di Panggarangan, Dinkes Lebak Dorong Peningkatan Mutu Pelayanan kepada Masyarakat

Bagaimana cara mengurangi paparan asap?

Ada beberapa langkah sederhana saat kualitas udara memburuk. Masyarakat dapat memantau kualitas udara sebelum keluar rumah, dan mengurangi aktivitas di luar jika udara buruk. Menggunakan masker yang tepat saat berada di luar juga dapat membantu mengurangi paparan partikel di udara. Ketika asap pekat, masyarakat bisa menutup pintu dan jendela agar udara tercemar tidak masuk ke dalam ruangan (Kementerian Kesehatan RI, 2026). Namun, melindungi diri bukan satu-satunya solusi. Pencegahan kebakaran juga sangat penting. Semakin sedikit kebakaran, semakin kecil risiko masyarakat terkena dampak asap.

Kesadaran masyarakat sangat penting. Kabut asap tidak boleh dianggap biasa hanya karena sering terjadi. Saat kualitas udara menurun, masyarakat harus sadar bahwa kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan. Menjaga lingkungan berarti menjaga kesehatan masyarakat. Akhirnya, asap kebakaran bukan sekadar membuat langit terlihat keruh. Asap membawa polutan yang mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Dengan memperhatikan kualitas udara, mengurangi paparan, dan ikut

mencegah kebakaran, kita dapat membantu mengurangi dampak kabut asap pada kesehatan manusia.

Penulis: Muhamad Farlan Rizki Evandi merupakan pelajar kelas 12 di SMAS Islamic
Village yang memiliki ketertarikan pada bidang sains, lingkungan, dan penulisan.

IG : @farlan.ev