
Pelitabanten.com – Pagi belum sepenuhnya terang, tetapi sebagian ibu sudah memulai pekerjaannya. Menyiapkan sarapan. Membangunkan anak. Mengurus kebutuhan keluarga. Membersihkan rumah. Mencuci pakaian. Memasak. Mendampingi anak belajar. Memastikan semuanya baik-baik saja. Lalu, esok hari, semuanya dimulai kembali. Tidak ada jam masuk. Tidak ada jam pulang. Tidak selalu ada hari libur. Bahkan ketika sakit, pekerjaan di rumah sering kali tetap menunggu.
Namun, ketika seorang ibu berkata, “Aku lelah,” respons yang diterimanya kadang justru sederhana: “Namanya juga ibu.” Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Bahkan mungkin diucapkan tanpa maksud buruk. Namun, ketika terus-menerus digunakan untuk merespons kelelahan seorang ibu, kalimat tersebut perlahan dapat membuat lelah menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Seolah-olah karena ia seorang ibu, maka ia harus mampu menanggung semuanya. Padahal, menjadi ibu rumah tangga bukan berarti seseorang terbebas dari tekanan psikologis.
Sebagai seorang peneliti yang menaruh perhatian pada isu kesehatan psikologis perempuan dan keluarga, saya mencoba melihat lebih dekat fenomena burnout (kelelahan psikologis) yang dialami ibu rumah tangga. Selama ini, pekerjaan domestik kerap dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan seorang ibu. Namun, di balik rutinitas yang dilakukan setiap hari, ada kemungkinan kelelahan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan psikologis.
Melalui penelitian yang saya lakukan di tiga kecamatan di Kota Cilegon, saya mencoba memahami bagaimana burnout hadir dalam kehidupan ibu rumah tangga. Penelitian tersebut melibatkan ibu rumah tangga yang telah menikah sekurang-kurangnya tiga tahun, tidak bekerja secara formal, dan bersedia menjadi partisipan penelitian.
Hasilnya cukup mengusik
Sebanyak 21% partisipan berada pada kategori burnout tinggi, 75% berada pada kategori sedang, dan hanya 4% berada pada kategori rendah. Tentu, angka tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk menggambarkan seluruh ibu rumah tangga di Kota Cilegon. Namun, temuan ini setidaknya memberi kita alasan untuk berhenti sejenak dan bertanya: jangan-jangan selama ini kita terlalu terbiasa menganggap kelelahan ibu sebagai sesuatu yang normal?
Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah menyelesaikan banyak pekerjaan. Ia berkaitan dengan kelelahan emosional dan psikologis yang dapat muncul ketika tuntutan berlangsung terus-menerus, sementara kesempatan untuk beristirahat, mendapatkan dukungan, atau memulihkan diri sangat terbatas. Menariknya, temuan kuantitatif tersebut diperkuat melalui wawancara mendalam dengan para partisipan. Dari cerita para ibu, terlihat bahwa beban domestik bukan hanya persoalan banyaknya pekerjaan. Ada beban emosional yang sering kali tidak terlihat. Seorang ibu bukan hanya memasak. Ia juga memikirkan apakah anak-anaknya sudah makan dengan cukup. Ia bukan hanya membersihkan rumah. Ia juga memikirkan mengapa rumah yang baru saja dirapikan kembali berantakan. Ia bukan hanya mendampingi anak belajar. Ia juga bisa merasa bersalah ketika kesabarannya habis. Ia mengingat jadwal anak, kebutuhan rumah, makanan yang harus tersedia, pakaian yang harus dicuci, hingga berbagai hal kecil yang mungkin tidak pernah masuk dalam daftar pekerjaan resmi.
Baca Juga: Dikeluhkan Ibu Rumah Tangga, Harga Ayam Potong dan Telur di Kota Tangerang Mahal
Dan ketika semua itu selesai atau setidaknya dianggap selesai, sering kali tidak ada yang bertanya, “Hari ini kamu bagaimana?” Di sinilah persoalan burnout pada ibu rumah tangga perlu kita lihat dengan lebih serius. Selama ini, kita cukup sering berbicara tentang kesehatan mental anak dan remaja. Kita juga semakin terbuka membicarakan kelelahan para pekerja. Namun, bagaimana dengan ibu yang setiap hari menjadi tempat pulang bagi seluruh anggota keluarga? Kita meminta ibu menjadi pendengar yang baik bagi anak, menjadi pasangan yang suportif, mengurus rumah, mendidik anak, menjaga suasana keluarga, tetap sabar, dan tetap kuat.
Tetapi di tengah begitu banyak tuntutan itu, kita terkadang lupa bahwa ibu juga manusia. Ibu bisa lelah, bisa jenuh, juga bisa merasa kehilangan dirinya sendiri. Ibu pun membutuhkan tempat untuk didengarkan. Karena itu, dukungan terhadap ibu rumah tangga tidak cukup hanya berupa nasihat seperti “sabar”, “bersyukur”, atau “jangan terlalu dipikirkan”. Nasihat tersebut mungkin lahir dari niat yang baik. Namun, seseorang yang sedang kelelahan tidak selalu membutuhkan tambahan nasihat.
Terkadang, yang ia butuhkan hanyalah seseorang yang bersedia duduk di sampingnya dan berkata, “Aku tahu kamu sudah berusaha.” Dalam perspektif bimbingan dan konseling, ruang untuk didengarkan semacam ini menjadi penting. Ibu perlu memiliki kesempatan untuk mengenali kondisi dirinya, memahami sumber tekanan, mengelola emosi, membangun strategi menghadapi masalah, serta menemukan kembali keberdayaan dirinya. Dalam kondisi tertentu, layanan konseling juga dapat menjadi salah satu bentuk dukungan profesional bagi ibu yang menghadapi tekanan psikologis yang terus menumpuk. Namun, menjaga kesejahteraan seorang ibu tidak boleh menjadi pekerjaan rumah ibu seorang diri.
Suami perlu hadir bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pasangan yang berbagi tanggung jawab dan beban kehidupan sehari-hari. Keluarga perlu memahami bahwa pekerjaan domestik bukan pekerjaan yang otomatis menjadi ringan hanya karena dilakukan di dalam rumah. Lingkungan sosial pun perlu berhenti menjadikan kemampuan seorang ibu mengurus semuanya sebagai ukuran keberhasilan seorang perempuan. Sebab ibu yang meminta bantuan bukan berarti lemah. Ibu yang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri bukan berarti egois. Ibu yang ingin beristirahat bukan berarti mengabaikan keluarganya. Dan ibu yang merasa lelah bukan berarti tidak bersyukur atas keluarganya.
Sebab di balik keluarga yang tampak baik-baik saja, bisa jadi ada seorang ibu yang setiap hari berusaha keras agar semuanya tetap baik-baik saja. Maka, mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap kelelahan ibu sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja sebagai bagian dari peran menjadi seorang ibu. Jika selama ini ibu selalu menjadi tempat semua orang pulang, mungkin sekarang saatnya kita menyediakan satu ruang untuknya. Satu ruang untuk beristirahat, satu ruang untuk didengarkan, sebab ibu juga manusia.
Penulis: Fitri Husaibatul Khairat, M.Pd. (Dosen Bimbingan dan Konseling Institut Daarul Qur’an)
Baca Juga: Simfoni yang Menumbuhkan Mimpi : Riuh Hari Pertama Masuk Sekolah













