Beranda News

Masalah dan Strategi Menurunkan AKI dan AKB

Agus Gojali, NPM : 20240000112, Mahasiswa Universitas Indonesia Maju (UIMA).
Agus Gojali, NPM : 20240000112, Mahasiswa Universitas Indonesia Maju (UIMA).
- Advertisement -

Oleh:
Agus Gojali
NPM: 20240000112
Mahasiswa Universitas Indonesia Maju (UIMA)

JAKARTA, Pelitabanten.com– Kesehatan ibu dan bayi merupakan salah satu indikator utama dalam menilai keberhasilan sistem pelayanan kesehatan suatu negara. Dengan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), mencerminkan kualitas Kesehatan Masyarakat. Hal ini merupakan modal dasar untuk membangun masyarakat yang produktif dan berdaya saing. Warga negara yang sehat adalah aset bagi bangsa karena mereka dapat berkontribusi secara maksimal dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, dan pertahanan.

Dalam konteks pembangunan, menjaga kesehatan adalah bentuk tanggung jawab terhadap negara. Sebuah bangsa yang sehat adalah bangsa yang kuat, yang mampu mempertahankan diri dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar. Saat ini ancaman yang dihadapi adalah masalah AKI dan AKB.

Akar Masalah

Menurut data dari World Health Organization (WHO), angka kematian ibu (AKI) sangat memprihatinkan, pada tahun 2020 sekitar 287.000 wanita meninggal selama dan setelah kehamilan serta persalinan. Hampir 95% dari seluruh kematian ibu terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah ke bawah, dan sebagian besar dari kematian tersebut sebenarnya bisa dicegah.

- Advertisement -

Tingginya jumlah kematian ibu di beberapa wilayah di dunia mencerminkan kesenjangan dalam akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Di Indonesia hingga saat ini, angka kematian ibu (AKI) masih berkisar di sekitar 305 per 100.000 Kelahiran Hidup, belum mencapai target yang ditetapkan oleh Sustainable Development Goals atau SDGs, yaitu 70 per 100.000 Kelahiran Hidup pada tahun 2030

Penyebab kematian ibu salah satunya komplikasi yang terjadi selama dan setelah kehamilan dan persalinan. Sebagian besar komplikasi terjadi selama kehamilan dapat ditangani dan sebagian besar komplikasi terjadi sebelum kehamilan dapat dicegah dengan mengakses layanan berkualitas tinggi sebelum kehamilan, selama kehamilan, persalinan dan setelah persalinan. Banyak kematian ibu yang dapat dicegah dengan meningkatkan akses terhadap layanan yang diberikan kepada ibu selama kehamilan, saat melahirkan, dan setelah melahirkan.

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terutama dalam hal pelayanan kesehatan ibu dan anak. meskipun telah terjadi berbagai kemajuan di sektor kesehatan, AKI dan AKB masih menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian khusus. Data yang menunjukkan masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan dan bayi dalam usia neonatal maupun pasca-neonatal mengindikasikan adanya tantangan dalam sistem pelayanan kesehatan, mulai dari aksesibilitas, kualitas layanan, hingga kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan dan kelahiran yang aman.

Penyebab kematian Ibu  banyak  disebabkan oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, kelainan jantung dan pembuluh darah, sementara penyebab kematian pada  bayi adalah Berat Bayi Baru Lahir Rendah (BBLR), asfiksia, kelainan kongenital, sepsis. Berdasarkan ketersediaan fasilitas Kesehatan, permasalahan yang dihadapi antara lain keterbatasan ketersediaan Jejaring RS yang mampu memberikan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), ketersediaan Bank Darah Rumah Sakit (BDRS), Ventilator di ICU dan NICU serta masih terbatasnya jangkauan pelayanan  Ambulans SPGDT 119 untuk percepatan rujukan dalam penanganan kegawatdaruratan Maternal Neonatal.

Strategi Penanganan

Penyebab kematian ini salah satunya disebabkan oleh penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal belum optimal karena keterbatasan sarana dan prasarana, masih terlambatnya pengambilan keputusan di tingkat keluarga, masyarakat serta lambatnya penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama maupun di Rumah Sakit. Jika hal ini dibiarkan, masalah ini tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga mencerminkan kesenjangan dalam system Kesehatan.

Berkenaan dengan hal diatas, penanganan yang tepat sejak di fasilitas pelayanan kesehatan pertama, khususnya menemukan kegawatdaruratan dan cepat mencari pertolongan yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan Kesehatan dan mencegah kejadian AKI dan AKB. Semoga dengan menurunkan angka kematian ibu dan bayi, dapat memperkuat fondasi pembangunan yang maju dan berdaya saing, di mana setiap warganya memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dan hak atas hidup yang layak sejak dalam kandungan. (*)

- Advertisement -