
LEBAK, Pelitabanten.com– Sejarah ilmu pengetahuan di Indonesia ternyata punya peran penting dalam peta sains global. Hal itu mengemuka dalam Gelar Wicara bertajuk ”Indonesia dalam Sejarah Sains, Sains dalam Sejarah Indonesia” yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Anggota DPR RI Komisi X, Bonnie Triyana.
Acara tersebut berlangsung di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Jum’at (7/8/2026). Forum ini menjadi ruang strategis untuk menelusuri jejak sains di Nusantara sekaligus merumuskan arah pengembangan ilmu pengetahuan ke depan.
Hadir sebagai narasumber Budi Gustama, Dosen Sejarah Universitas Padjadjaran; Luthfi Adam, Dosen SGPP Indonesia; Rahadian Rundjan, Kolumnis http://Historia.id; Ahmad Najib Burhani, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek; serta Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek.
Para pembicara sepakat bahwa perkembangan sains di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial, politik, dan budaya. Penguatan literasi sains disebut sebagai kunci untuk mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berbasis pengetahuan.
Bonnie Triyana, Anggota DPR RI Komisi X, menyoroti masih adanya ketimpangan akses pendidikan, salah satunya di wilayah Baduy, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
“Pembangunan pendidikan harus jadi prioritas. Kita butuh masyarakat yang punya tradisi berpikir kritis, rasional, dan berbasis ilmu pengetahuan,” tegas Bonnie.
Baca Juga: Lebak Youth Fest 2026, Belia Hasbi Jayabaya: Serukan Penguatan Karakter Generasi Muda Lebak Selatan
Ia juga mengupas konsep produk kolonial sains, yakni aktivitas penelitian pada masa kolonial yang lebih berorientasi pada kepentingan penjajah. Contohnya pemetaan wilayah, eksplorasi sumber daya alam, penelitian botani, hingga pengembangan ilmu kedokteran.
“Aktivitas ilmiah saat itu difokuskan untuk memperkuat ekonomi dan kontrol terhadap wilayah jajahan,” ujarnya.
Dirjen Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menegaskan pentingnya memahami sejarah sains untuk merumuskan kebijakan yang inklusif dan relevan.
“Indonesia bisa menjadi laboratorium dunia. Kita punya kekayaan ilmu sosial dan alam yang luar biasa. Dari sinilah lahir khazanah pengetahuan yang bisa melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar,” kata Najib.
Senada, Luthfi Adam menegaskan bahwa Indonesia sudah sejak lama berkontribusi dalam sejarah sains global. Ia mencontohkan penelitiannya tentang sejarah global ilmu botani.
“Jangan anggap Indonesia tidak punya peran. Banyak sumber yang sudah meneliti dan membuktikan kontribusi Indonesia dalam sains global,” jelas Luthfi.
Baca Juga: Aktivis Iyeng Soroti Kinerja Camat Cibadak, Desak Peningkatan Pelayanan Publik
Gelar wicara ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menguatkan posisi Indonesia, tidak hanya sebagai pengguna ilmu pengetahuan, tapi juga sebagai penghasil gagasan dan riset yang mendunia. (MIR)













