Kurungan Rumah (Cerpen)

Kurungan Rumah (Cerpen)
ILUSTRASI (Foto: piqsels.com)

Pelitabanten.com – Aslan menyesali keputusannya menikah dengan Tati. Di usia tujuh tahun pernikahan mereka, ia makin memahami kalau mereka bukanlah pasangan yang serasi. Dahulu, ia mengira bahwa Tati akan menjadi istri yang sabar dan tenang, tetapi ternyata, Tati adalah sosok yang emosional dan suka membesar-besarkan masalah terkait urusan rumah tangga mereka.

Belakangan waktu, Aslan merasa ditimpuk beban bertubi-tubi atas sikap Tati yang kerap merongronginya dengan beragam persoalan. Entah soal rencana pembelian mobil baru, pemasangan kemera pemantau, pembuatan pagar rumah, hingga perbaikan atap yang bocor. Padahal, ia punya banyak urusan publik yang mesti ia tangani sebagai seorang polisi.

Tentu Aslan tidak bermaksud menyepelekan tuntutan Tati. Ia hanya perlu waktu untuk menyelesaikan persoalan tersebut satu per satu. Tetapi karena dasarnya tidak sabar, Tati senantiasa mendesak agar permintaan dan perintahnya segera ditunaikan. Kalau tidak demikian, Tati akan bercerocos, atau bungkam dan melalaikan tugasnya sebagai istri.

Kadang-kadang, Aslan tersulut emosi atas sikap Tati. Ia bahkan sesekali kelepasan dan melontarkan gertakan. Namun untungnya, ia selalu mampu menahan diri untuk tidak bermain tangan. Ia senantiasa tersadar bahwa Tati adalah ibu dari anak-anaknya, sehingga ia mesti menghindari tindakan yang bisa menghancurkan keluarganya.

Meski hubungannya dengan Tati dipenuhi beragam masalah, Aslan terus saja bersabar. Ia bertahan, meskipun tidak bahagia. Namun rasa penyesalan atas pernikahannya itu, makin menggerayangi hatinya. Ia bahkan makin sering berkhayal-khayal, seandainya waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan memilih untuk menikah dengan Tati.

Akhirnya, di tengah keadaan itu, Aslan kerap terkenang pada Mila, seorang wanita pemalu dan bersikap lembut, yang merupakan salah satu mantan kekasihnya di masa lalu. Ia kerap berangan-angan, seandainya ia memilih Mila sebagai pendamping hidupnya, ia pasti akan hidup tenang dan bahagia.

Karena kecenderungan hatinya kepada Mila, Aslan kerap terpikir untuk menemui sang pujaan dan menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Ia bahkan beberapa kali hendak berangkat ke pulau seberang, ke kota kediaman Mila, untuk bertemu dan memadu kasih. Tetapi niatnya selalu batal, entah karena ia tak berdaya mempertahankan alasannya di depan Tati yang curigaan dan cemburuan, atau karena Tati tiba-tiba jatuh sakit.

Namun hasrat Aslan untuk menyeleweng, tidaklah lenyap. Meski tidak secara langsung, ia tetap berbuat serong melalui ponsel. Ia kerap berbagi cerita dengan Mila perihal kehidupan rumah tangga mereka yang ternyata sama-sama tidak harmonis. Sebagaimana dirinya, Mila pun tidak bahagia dengan pasangan hidupnya yang pencemburu dan pengekang. Mereka seolah sama-sama tahanan rumah yag ingin melarikan diri untuk hidup bersama.

Demi kelanggengan hubungan rahasianya dengan Mila, Aslan pun melakukan komunikasi dengan hati-hati. Ia baru akan berkontak dengan Mila saat ia berada di luar rumah. Ia pun telah memasang kode kuncian pada layar ponselnya. Ia tentu tak ingin kejadian enam bulan yang lalu terulang, ketika Tati murka setelah mendapati pesan menggoda lewat Whatsapp di ponselnya, yang tergeletak di meja ruang tamu, dengan layar terbuka: Kamu lagi ngapain, Sayang.

“Beraninya kau macam-macam dengan wanita lain, he?” dakwa Tati kala itu, dengan raut berang.

Aslan pun terkejut dan lekas mengambil ponselnya dari tangan Tati. Ia lalu menyaksikan nomor telepon Mila di layar. Tetapi ia berusaha bersikap tenang, kemudian melontarkan kilahan, “Jangan berprasangka buruk, Bu. Pesan ini hanya berasal dari orang yang iseng. Lihatlah,” katanya, lalu menunjukkan layar ponselnya kepada sang istri, “Buktinya, nomor pengirim ini belum tersimpan di ponselku. Pesan dari nomor ini, juga baru pertama kali masuk ke ponselku.”

Seolah tak percaya, Tati pun mendengkus kesal. Sesaat berselang, ia lantas mewanti-wanti dengan penuh emosi, “Kau jangan macam-macam, ya. Kalau kau sampai berbuat serong dengan wanita lain, aku akan melaporkanmu, dan kau akan dipecat dari kepolisian. Kehidupan kita akan hancur.”

“Ah, tidak mungkin aku mengkhianatimu. Jangan berpikir yang tidak-tidak,” balas Aslan, penuh penekanan.

Tati melengos judes. Ia tampak setengah hati menerima penegasan Aslan. “Baiklah kalau begitu. Semoga benar-benar tidak.” Ia kemudian memandang Aslan dengan tatapan yang tajam, lantas menuding-nuding dengan jari telunjuknya. “Ingat baik-baik, kita sudah punya anak. Kalau terjadi apa-apa dengan hubungan kita, maka anak kita akan jadi korban. Kita akan kehilangan muka sebagai orang tua,” tuturnya, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Seketika, Aslan mengembuskan napas yang panjang untuk melegakan perasaannya.

Aslan memang beruntung waktu itu. Ia hanya menghapal nomor telepon Mila dan tidak menyimpannya di daftar kontaknya. Pun, ia rutin mengarsipkan utas percakapan mereka. Karena itu, Tati bisa menerima kilahannya, sehingga ia lolos dari petaka. Bagaimanapun, separuh hatinya tetap ingin mempertahankan rumah tangganya demi anak semata wayangnya, entah sampai kapan, meski ia harus hidup menderita atas sikap Tati.

Namun akibat peristiwa itu, Aslan mesti menambah kesabarannya, sebab Tati makin mencurigainya. Tati jadi lebih sering menginterogasinya kalau ia hendak keluar rumah di luar jam kerja. Tati pun jadi kerap meneleponnya kalau telat pulang kerja, atau pergi tanpa pemberitahuan. Karena itulah, gerak-geriknya jadi sangat terbatas, sebab ia mesti merespons dan mematuhi perintah Tati demi menghindari pertengkaran.

Tetapi kadang-kadang, ia menyadari juga kalau sikap pengekangan Tati telah menyelamatkannya dari banyak masalah. Karena sikap Tati, ia bisa mempertahankan rumah tangga mereka demi masa depan anak mereka. Karena sikap Tati pula, ia lolos dari tindakan perselingkuhan secara langsung yang mengancam karirnya.

Dan akhirnya, tiga hari yang lalu, di masa cutinya, saat ia tengah dalam perjalanan pulang selepas membeli makanan cepat saji permintaan Tati, ketenteraman Aslan pun terusik. Pasalnya, ia kembali berteleponan dengan Mila, setelah sebelumnya perempuan itu menyatakan ingin mengungkapkan hal penting melalui pesan Wahtsapp.

“Apa yang ingin engkau obrolkan denganku?” tanya Aslan kemudian, selepas basa-basi yang singkat.

“Aku sangat merindukanmu. Aku sangat ingin bertemu denganmu,” jawab Mila, dengan nada penuh harapan.

Aslan pun mendengkus kalut. Dengan keinsafan yang mulai tumbuh di dalam hatinya, ia lantas membalas, “Aku kira, sebaiknya kita akhiri hubungan rahasia kita, cukup sampai di sini. Bagaimanapun, kita sama-sama sudah menikah. Mustahil kita bisa bersama.”

Mila sontak merajuk. “Tetapi aku mencintaimu, dan aku ingin hidup denganmu. Aku tak tahan lagi untuk hidup bersama suamiku, dan rela menceraikannya demi kau.” Ia lantas menjeda dan mengambil napas. “Aku harap, kau sanggup melakukan hal yang sama demi aku. Kau pun tidak lagi tahan untuk hidup bersama istrimu, kan?”

Diam-diam, Aslan kebingungan. Ia lantas mendiskusikan hati dan pikirannya.

“Jika kita memang telah terjebak dalam ikatan pernikahan kita masing-masing, sedang kita saling mencintai, kita seharusnya melakukan upaya apa pun untuk bisa bersatu. Bukan begitu?” selisik Mila, menagih jawaban persetujuan.

Dengan begitu saja, benih kesetiaan Aslan kepada Tati, jadi layu. Hatinya kembali jatuh ke dalam kubangan cinta yang terlarang. Hingga akhirnya, ia membalas, “Baiklah. Aku akan menyusun rencana untuk berangkat ke kotamu. Aku akan mengabarimu segera.”

Tak lama berselang, obrolan mereka berakhir.

Setelah percakapan itu, Aslan pun memikirkan cara untuk bisa menemui Mila. Dan pada hari itu juga, ia menemukan alasan yang tepat. Ia mengaku punya tugas khusus di pulau seberang, barang empat hari. Namun Tati tidak percaya dan menagih bukti penugasannya. Ia pun kelimpungan dan tak bisa memberi bukti. Tetapi demi Mila, ia berkeras pergi dengan alasan yang terus ia tegaskan tanpa bukti itu. Hingga akhirnya, mereka bertengkar hebat.

Namun kali itu, Aslan memaksa untuk pergi. Ia tak lagi memedulikan amarah Tati yang menudingnya hendak berlaku serong entah dengan siapa di pulau seberang. Ia tak mau mengalah demi Mila. Tetapi pada akhirnya, ia gagal juga berangkat, meski ia telah membeli tiket pesawat. Pasalnya, Tati tiba-tiba jatuh dari atas tangga lantai dua rumahnya, hingga mengalami pendarahan di kepala. Tati pun dilarikan ke rumah sakit, dan ia mesti berjaga. Dengan kepasrahan, ia lalu mengabari Mila soal kendalanya itu, dan Mila menerima dengan berat hati.

Namun mengejutkannya, tak lama setelah itu, Aslan menyaksikan berita di layar televisi. Kabarnya, sebuah pesawat dengan nomor penerbangan sebagaimana yang nyaris ia tumpangi, telah hilang kontak. Seketika, ia merasa bersyukur atas kebatalan keberangkatannya. Pun, ia merasa beruntung memiliki Tati yang telah menyelamatkannya dari ancaman maut.

Hingga akhirnya, hari ini, Aslan makin menyesali pengkhianatan terselubungnya terhadap Tati. Ia sadar telah keliru menyikapi watak Tati. Terlebih, setelah ia menyaksikan berita lain di layar televisi, dengan topik yang tak kalah mencengangkan. Sebuah berita yang menyatakan bahwa seorang lelaki ditemukan bersimbah darah di rumahnya dengan beberapa luka tikaman di perutnya. Dan sang lelaki tiada lain adalah suami Mila.

Pada berita tersebut, pihak kepolisian dan sejumlah saksi kemudian memberikan keterangan. Mereka menduga bahwa pelaku penikaman adalah istri korban sendiri. Itu berdasar pada kenyataan bahwa istri korban telah menghilang entah ke mana. Karena itu, aparat kepolisian tengah berusaha menemukan istri korban tersebut.

Seketika, buyarlah bayangan manis Mila di benak Aslan. Ia tak mengira bahwa sosok perempuan yang ia kenal lembut itu, ternyata sanggup melakukan tindakan yang brutal. Ia pun tak menyangka kalau ia telah menambatkan perasaannya kepada seorang wanita yang sadis. Karena itu, ia makin menyesal telah berkhianat terhadap Tati untuk seseorang yang ternyata sama sekali tidak lebih baik.

Akhirnya, kini, ia kembali mengokohkan cintanya kepada Tati. Ia telah menyadari bahwa Tati adalah sosok yang tepat untuk mengimbangi dirinya. Ia memahami bahwa Tati adalah belahan jiwanya. Sebab itu pula, ia bertekad untuk tidak lagi berkomunikasi dan berhubungan dengan Mila.

Hingga akhirnya, saat hari menjelang malam, sebuah pesan singkat dari pengirim dengan nomor telepon yang tidak ia kenali, masuk ke ponselnya: Kau di mana? Sekarang aku ada di kapal. Aku hendak menyeberang ke kotamu. Mungkin tiga jam lagi aku akan sampai. Jadi tolong, jemput aku di pelabuhan. Aku ingin bertemu denganmu. Banyak persoalan yang ingin aku ceritakan.

Aslan pun kelimpungan. Ia yakin pengirim pesan itu adalah Mila.***

Ramli Lahaping. Bloger (sarubanglahaping.blogspot.com). Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).

Pemerhati dan penikmat musik, bergabung dengan Pelita Banten pada tahun 2017 sebagai Jurnalis