Opini Virus Corona Dalam Kacamata Lingkungan

Virus Corona Dalam Kacamata Lingkungan

Virus Corona Dalam Kacamata Lingkungan
Ilustrasi (Anna Shvets/Pexels)
Hari Guru Dinkes Tangsel

Pelitabanten.com – Pada akhir tahun 2019 hingga saat ini perhatian masyarakat dunia sedang terpusat pada kemunculan suatu penyakit baru. Penyakit ini disebabkan oleh sebuah virus yang dikenal dengan SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2). Virus ini menginfeksi bagian pernapasan manusia. Gejala yang dialami oleh pasien corona berbeda-beda, mulai dari penyakit pernapasan ringan hingga serius bahkan dapat berakibat kematian. Pola penyebarannya sangat signifikan cepat, sebab virus ini dapat ditularkan melalui cairan tubuh pasien corona, seperti air liur atau cairan yang berasal ketika batuk dan bersin (WHO, 2020).

Virus corona mampu merubah dunia 180. Aktivitas dunia yang sudah menjadi ‘kebiasaan’ seolah dipaksa untuk berhenti. Pekerjaan yang biasa dilakukan di luar ruangan kini dilakukan di dalam ruangan (Work From Home). Segala aspek kehidupan merasakan dampak dari adanya virus ini. Sektor ekonomi, pendidikan, sosial, bahkan lingkungan merasakan dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Virus corona memberikan tantangan substansial pada sistem sosio-ekologi yang berbeda, dengan dampak yang jelas pada aspek lingkungan. Hal inilah yang mendorong manusia untuk dapat beradaptasi dengan baik dan melakukan usaha-usaha yang mampu menjawab setiap tantangan akibat dari adanya virus ini.

Salah satu bidang yang sangat krusial dan penting dalam kehidupan manusia yaitu lingkungan. Virus corona juga berdampak pada lingkungan dengan skala waktu jangka panjang dan jangka pendek. Sama seperti halnya mata uang yang memiliki dua sisi yang berbeda, dampak yang di timbulkan dari adanya virus ini pun memiliki dua bagian yang berbeda, yaitu dampak positif dan negatif. Namun terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkan, kali ini akan di kupas mengenai dampak positif virus corona terhadap lingkungan.

Baca Juga:  Eksistensi Industri Teater di Tengah Badai Pandemik

Manusia menjadi tokoh utama pada setiap perubahan yang ada di dunia. Pencemaran lingkungan baik pada air, tanah maupun udara tidak terlepas dari adanya campur tangan manusia. Polusi udara dari peningkatan gas emisi rumah kaca yang berasal dari industri, transportasi dan juga perusahaan sudah menjadi permasalahan bersama sejak dahulu. Kemunculan virus corona menjadi ‘pahlawan’ jangka pendek pada permasalahan ini. Polusi akibat gas emisi menurun, hal ini berkesinambungan dengan adanya isolasi di berbagai daerah sehingga aktivitas manusia dibatasi bahkan pada skala industry.

Di china, penurunan polusi gas emisi N2O dan CO sekitar 50% akibat penutupan industri berat, kemudian di bidang transportasi seperti kendaraan dan pesawat terbang yang awalnya menyumbangkan masingmasing 72% dan 11%  gas emisi rumah kaca kini menurun sekitar 17%. Bahkan di Indonesia sendiri, tercatat bahwa penurunan gas emisi mencapai sekitar 40% (CREA,2020), inilah yang menjadi alasan tentang fenomena langit cerah di kota-kota besar seperti Jakarta, Banten dan daerah industri lainnya yang biasanya di lingkupi polusi udara dari industri dan kendaraan. Penurunan polusi udara ini meningkatkan persentase udara bersih dan sehat yang berdampak baik pada pengurangan penyakit gangguan pernapasan dan hujan asam.

Dampak positif lainnya yaitu pada keberlangsungan ekosistem di alam. keberadaan berbagai jenis tumbuhan dan satwa di alam merupakan keberagaman hayati. Dalam keberagaman hayati inilah dibutuhkan keseimbangan ekosisitem yang baik agar dapat berjalan dengan semestinya.

Virus Corona yang menuntut manusia untuk membatasi kegiatan memberikan ruang bebas bagi ekosistem di alam. Burung-burung termasuk burung nasar mulai bermunculan kembali, penyerbukan tumbuhan karena serangga mulai terjadi besar-besaran bahkan ekosistem di dalam laut pun semakin baik dengan berkurangnya penangkapan ikan secara ilegal dan besar-besaran yang memicu kerusakan di laut. Sungai-sungai di berbagai belahan dunia seperti sungai gangga dan yamuna di India mulai jernih karena berkurangnya endapan limbah rumah tangga dan industri bahkan di Italia polusi suara yang berdampak pada stresnya makhluk laut seperti ikan paus kini mulai menurun dan migrasi pun menjadi lebih tenang.

Baca Juga:  Menjadi Guru Produktif Selama Pandemi dengan Menulis Artikel Populer di Media Massa

Kebiasaan manusia di era pandemi ini pun membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Maraknya ‘hobi’ menanam dan memelihara tanaman hias memberikan pandangan nyaman lingkungan hijau. Berbagai spesies tumbuhan mulai bermunculan bahkan beberapa diantaranya menjadi semakin banyak jumlahnya. Ini merupakan dampak positif dari tidak terpakainya lahan kosong di rumah dan menyeimbangkan ekosistem lingkungan di rumah.

Virus corona ternyata memberikan banyak dampak positif terhadap lingkungan pada skala kecil bahkan global. Untuk dapat terus merasakan keadaan seperti ini, ada banyak cara yang dapat kita lakukan sebagai seorang individu dan masyarakat dunia. Cara tersebut diantaranya yaitu mengurangi kegiatan yang berhubungan dengan menghasilkan gas emisi NO2 dan CO berlebih, seperti dengan memilih menggunakan kendaraan umum, kemudian pemilahan limbah rumah tangga yang baik dan penanggulangan berlanjut limbah industri sehingga dapat meningkatkan dampak jangka panjang lingkungan bersih, cara yang paling mudah dilakukan uaitu dengan melakukan 3R (Rruse,Reduce dan Recycle) sehingga limbah yang ada mendapatkan perlakukan yang tepat.

Untuk limbah seperti masker yang menjadi kebutuhan di masa pandemi kali ini pun harus diperhatikan penggunaannya, masker yang digunakan sekali pakai dan menjadi limbah harus ditangani dengan tepat pula. Cara yang dapat dilakukan untuk masker yang kita gunakan adalah dengan melakukan 4D yaitu Dicuci dengan disinfektan dan sabun, Dilipat, Digunting dan Dibuang ke tempat sampah, kemudian penanaman berbagai jenis pohon dan tanaman di lingkungan rumah dengan tujuan meningkatkan udara bersih dan cadangan pasokan oksigen yang baik.

Baca Juga:  Cara Mudah Membuat Akuaponik di Dalam Ember

Serta yang paling utama adalah meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan dengan tidak merusak ekosistem yang ada untuk menjaga keseimbangannya. Memperhatikan udara, tanah dan juga air yang menjadi sumber kehidupan bagi kita dan makhluk hidup lainnya. Virus corona saat ini seakan ingin memberitahu kita bagaimana cara untuk ‘memanjakan’ lingkungan di bumi tercinta ini, maka dari itu sebaiknya kita sebagai ‘penghuni’ harus lebih peka, peduli bahkan memanjakan apa yang sudah ada.

REFERENSI:

  • Centre for Research on Energy and Clean Air. 2021. Transboundary Air Pollution in the Jakarta, Banten, and West Java Provinces.
    energyandcleanair,org/publications/transboundary-air-pollution-in-the-jakartabanten-and-west-java-provinces/ . Diakses pada 10 Maret : 14. 05
  • Cheval, Sorin. Cristian Mihai, etc. 2020. Observed and Potential Impact of the COVID-19 Pandemic on the Evironment. International Journal of Evironmental Research and Public Health. Vol 17 : 1 – 25. mdpi,com/1660-4601/17/11/4140 . Diaksss pada 10 Maret 2020 : 14.24
  • Helm, Dieter. 2020. The Enviromental Impact of the coronavirus. Journal of Eviromental and Research Economi. Vol 76 : 21-38. link,springer,com/content/pdf/10.1007/s10640-020-00426-z.pdf . Diakses pada 10 Maret 2021 : 15.22
  • Rume, Tanjena. S.M. Didar Ul Islam. 2020. Eviromental effects of COVID-19 pandemic and potential strategies of sustainability. www.cell.com/heliyon . Diakses pada 8 Maret 2021 : 11.14
  • Verma, A.K., Sadguru Prakash. 2020. Impact Of Covid-19 On Evironment and Society. Journal of global biosciences. Vol 9(5) : 7352 – 7363. papers,ssrn,com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3644567 . Diakses pada 10 Maret 2021 : 13.45
  • World Health Organization. 2020. Coronavirus.
    google,com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.who.int/healt h-
    topics/coronavirus&ved=2ahUKEwjQzeGe66rvAhXYb30KHfnlAjAQFjAAegQIAx AC&usg=AOvVaw3VDAlU6UyNqVdsdqVfwV2E&cshid=1615559757266 . Diakses pada 10 Maret 2021 : 13. 25

Penulis: Elsan Courtney Safira (Serang, Banten)