Fenomena Kenakalan Bocah, Setiap Dosa Anak Akan Dilimpahkan ke Orang Tua

Fenomena Kenakalan Bocah, Setiap Dosa Anak Akan Dilimpahkan ke Orang Tua
Diskusi Kopi Item Pokja WHTR di Mall @AlamSutera. Ramadhan 1443 H Jum'at (15/4). Foto Pelitabanten.com

KOTA TANGERANG, Pelitabanten.com – Minggu kedua Ramadhan 1443 Hijriah, Pokja Wartawan Harian Tangerang Raya (WHTR) kembali menggelar diskusi bersama Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Komarudin.

Kali ini, diskusi membahas mengenai gangguan di pertengahan Ramadhan seperti tawuran antar kelompok remaja hingga melibatkan anak bocah usia belasan.

Diskusi berlangsung di Mall @Alam Sutera pada Jumat, (15/4/2022) secara Khusus menghadirkan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kak Seto Mulyadi.

Dihadiri juga Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang Abdullah Talib, dan Sekretaris Satpol PP Kota Tangerang Selatan Sapta Mulya.

Yang menarik dari pembahasan tersebut, Pelitabanten.com mengutip penyampaian Abdullah Talib, Wakil Ketua MUI Kota Tangerang bahwa “Setiap dosa dosa yang dibuat anak itu akan dilimpahkan ke orang tuanya. Maka ini dasarnya adalah orang tua sebagai pendidik awal atas karunia yang telah Allah titipkan. Maka, tebarkanlah kasih sayang, maka engkau akan mendapatkan kasih sayang,” kata Abdullah.

Kapolres Komarudin mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan di Kota Tangerang masih adanya tindak kejahatan jalanan yang dilakukan oleh anak bocah usia dini.

“Tolok ukur kita bukan lagi berapa banyak yang kami anak dan remaja yang kami amankan, tapi kita balik lagi seberapa mampu kita untuk mencegahnya,” tutur dia.

Menurutnya, penanganan jangka pendek harus dilakukan, fenomena kejahatan dilakukan oleh anak-anak modusnya semakin beragam.

Komarudin mencontohkan, dimulai dari penggunaan media sosial (medsos) hingga game online yang menjadi pemicunya.

“Perlu adanya peranan orang tua dalam membentuk karakter anak, Harus peduli dengan kondisi saat ini. jangan sampai anak-anak kita melakukan hal yang merugikan diri sendiri maupun bangsa dan negara. Dikhawatirkan negara kita tidak lagi memiliki generasi yang cerdas,” paparnya.

Dalam diskusi Kak Seto menjelaskan, untuk mencegah terjadinya kejahatan yang dilakukan oleh anak, diperlukan ruang bebas berekspresi untuk menyalurkan kreatifitas pada masa pencarian jati diri, sehingga kreatifitas anak yang tengah bergejolak itu dapat disalurkan ke hal yang positif.

Lalu Kata Kak Seto, komunikasi pada ruang lingkup keluarga juga sangat dibutuhkan sebagai bentuk hak dengar keinginan anak dalam keluarga.

“Kedekatan anak dengan keluarga, maka orang tua dapat mengawasi dengan mudah. Kita harus mengacu pada satu impian bangsa ini, dan pemerintah sudah mencanangkan program Indonesia Layak Anak (IDOLA) dan ini kemudian dirangsang ke tingkat kota, kabupaten layak anak, kemudian kecamatan layak anak, RW layak anak, RT layak anak, hingga keluarga layak anak,” katanya.

“Dulu Bung Karno pernah mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Tapi kita tambahkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai anak-anak, karena anak adalah masa depan bangsa,” tuturnya.

Sekretaris Dinas Satpol PP Kota Tangerang Selatan Sapta Mulyana menuturkan, Dia kerap kali menemukan anak-anak hingga remaja yang beraktivitas hingga dini hari, itu berpotensi menimbulkan gangguan seperti bentrokan antar kelompok.

Maka, peran orang tua untuk mengawasi anak-anaknya agar tidak terpengaruh konten maupun seruan di media sosial yang dapat menjerumuskannya ke hal-hal yang dapat merugikan segalanya.

“Ini trik untuk orang tua, awasi anak-anak ketika ibu dan bapak tengah sibuk bekerja, pilihlah YouTube khusus untuk anak-anak, dan juga terapkan fitur pembatasan waktu di telepon selularnya,” sarannya.