Resesi Ekonomi Global, Ini Dampaknya Bagi Indonesia

Andi Luvito

Pelitabanten.com – Kondisi ekonomi yang terjadi di dunia mengalami kekhawatiran dan ketidakpastian. Krisis ekonomi menjadi bayang bayang kelam bagi perekonomian dunia saat ini. Hal ini akan memberikan dampak bagi ekonomi secara global. Apa yang terjadi saat ini memberikan pemahaman kepada semua orang bahwa begitu pentingnya dalam melakukan investasi.

Menurut Bank Dunia dalam laporan Global Economic Prospect June 2022 (GEP), menjelaskan bahwa tekanan inflasi yang begitu tinggi diberbagai negara tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Sejumlah negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang ikut terseret dalam resesi ekonomi yang akan terjadi pada 2023 mendatang akibat adanya inflasi yang terus meningkat.

Tetapi berbeda dengan Indonesia sendiri, resesi ekonomi masih dikatakan aman dibandingkan dengan negara-negara lain khususnya negara Asia. Survey terbaru dari Bloomberg menyebutkan bahwa Indonesia masuk kedalam negara Asia yang berpotensi mengalami resesi ekonomi. Dari 15 Negara Asia, negara Indonesia berada di urutan 14 dengan persentase 3%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menambahkan, jika sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih terkendali. Potensi Indonesia mengalami resesi akan relatif rendah dibandingkan dengan negara negara lainnya. Hal ini yang menyebabkan tingkat katakutan masyarakat Indonesia akan adanya resesi ekonomi berkurang.

Meski begitu, ada beberapa hal yang dikhawatirkan oleh Sri Mulyani. Apa saja?

dilansir dari CNBC Indonesia Dia menjelaskan bahwa terdapat “triple horror” yang menjadi ancaman dunia saat ini diantaranya lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga dan juga pertumbuhan ekonomi global yang melemah. Salah satu faktor adanya inflasi yaitu terjadinya kenaikan harga barang. Hal ini disebabkan karena adanya perang Rusia – Ukraina. Inflasi diperkirakan akan terjadi dan mengalami lonjakan pada bulan September 2022 sebagai imbas adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

“Dulu tantangan dan ancaman bagi masyarakat adalah pandemi, sekarang tantangan dan ancaman bagi masyarakat adalah kenaikan barang barang tersebut,” kata Sri Mulyani beberapa waktu lalu dalam acara UOB Economic Outlook 2023. “Ini telah memberikan dampak di satu sisi APBN penerimaan negara akan naik. Namun disisi lain, masyarakat juga akan merasakan rambatan dari inflasi global.” Lanjut dia menambahkan.

Resesi sendiri merupakan fenomena turunnya perekonomian dunia yang dipicu oleh inflasi. Lalu bagaimana cara kita dalam menyikapi adanya inflasi sebagai masyarakat? Sebaiknya untuk mengindari menabung di bank ditengah resesi yang akan terjadi tahun 2023. Inflasi hanya akan membuat uang yang ada ditabungan akan tergerus oleh inflasi. Saat menghadapi resesi ini, sebaiknya masyarakat juga harus mulai beralih menyimpan dananya pada produk – produk investasi. Banyak sekali instrumen investasi yang tersedia saat ini contohnya seperti emas, tanah ataupun saham. Beberapa investasi yang akan memberikan kita ketenangan ekonomi dimasa yang akan datang walaupun terjadi resesi ekonomi bahkan inflasi.

Resesi ekonomi bagi masyarakat dengan pengetahuan rendah akan menyebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan dan kegelapan. Milenial saat ini tentu akan mencari jalan untuk melewati dan juga memperkecil dampak yang ditimbulkan. Tidak hanya bagi masyarakat dengan ekonomi rendah tapi juga bagi semua lapisan masyarakat. Hal ini yang menyebabkan semua orang harus mewaspadai adanya resesi ekonomi global yang terjadi. PHK yang terjadi di berbagai perusahaan dan juga kenaikan harga bahan pokok menjadi salah satu dampak akibat resesi ekonomi yang terjadi. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian sehingga pendapatan dan perekonomian masyarakat akan mengalami kesusahan.

Adanya hal tersebut, pemerintah harus mampu membuat sebuah keputusan yang mampu memberikan keuntungan bagi semua pihak dan kalangan. Karena jika tidak, akan menyebabkan kesengsaraan dan ketidakstabilan ekonomi dalam sebuah negara. Berbagai keputusan yang dianggap mampu membantu semua kalangan terutama menengah kebawah. Masyarakat yang begantung akan pekerjaan utama mereka demi mencukupi kebutuhan keluarga dan kebutuhan pokok yang sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Penulis : Andi Luvito (Karyawan Swasta, sebagai Accounting Sedang menempuh pendidikan Magister Akuntansi Universitas Pamulang)