Oleh:
Diki Kurniawan (DPC GMNI Pandeglang)
PANDEGLANG, Pelitabanten.com– Bulan Juni bukanlah bulan yang biasa dalam sejarah bangsa Indonesia. Di bulan inilah, sosok proklamator sekaligus bapak bangsa, Ir. Soekarno, lahir (06 Juni 1901) dan wafat (21 Juni 1970). Oleh karena itu, bulan Juni diperingati sebagai Bulan Bung Karno, bukan sekadar mengenang riwayat hidupnya, tetapi menggali kembali semangat perjuangan dan pemikirannya untuk menjawab tantangan zaman.
Bagi kami, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pandeglang, Bulan Bung Karno adalah momen penting untuk menghidupkan kembali api nasionalisme, semangat kebangsaan, dan cita-cita Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Dalam situasi global yang terus berubah cepat, kita diingatkan bahwa ide-ide Bung Karno tetap relevan sebagai fondasi bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Bung Karno dan Pandeglang: Membumikan Nasionalisme
Di daerah seperti Pandeglang, nasionalisme bukan hanya slogan—ia harus menjadi praktik harian: dalam sikap terhadap kemiskinan, dalam keberpihakan kepada rakyat kecil, dalam menjaga budaya lokal, serta dalam keberanian melawan ketidakadilan. Pandeglang memiliki sejarah panjang perjuangan, dan semangat Bung Karno semestinya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan itu.
DPC GMNI Pandeglang melihat bahwa tantangan kita hari ini bukan sekadar ancaman dari luar, tetapi juga kealpaan internal: lunturnya semangat gotong royong, meningkatnya apatisme politik, dan ketimpangan sosial yang masih merajalela. Di tengah tantangan tersebut, Bung Karno mengajarkan kepada kita pentingnya revolusi mental — sebuah ajakan untuk mengubah cara berpikir bangsa, dari inferior menjadi penuh percaya diri, dari individualisme menuju kolektivisme.
Meneguhkan Marhaenisme di Tengah Krisis
Bung Karno memperkenalkan konsep Marhaenisme sebagai ideologi perjuangan kelas tertindas. Dalam konteks hari ini, Marhaen adalah petani yang tergantung pada cuaca, buruh yang terpinggirkan dalam sistem ekonomi liberal, mahasiswa yang kehilangan orientasi perjuangan, dan rakyat kecil yang tak didengar suaranya. Oleh karena itu, GMNI Pandeglang menyerukan agar ideologi Marhaenisme kembali ditegakkan sebagai panduan sikap: berpihak kepada rakyat, menolak segala bentuk penindasan, dan melawan ketidakadilan struktural.
Seruan Aksi dan Refleksi
Selama Bulan Bung Karno ini, GMNI Pandeglang mengajak seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat untuk :
1. Menggelar diskusi ideologi dan pemikiran Bung Karno, agar kita tidak buta arah dalam menghadapi dinamika zaman.
2. Mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, sebagai bentuk konkret dari semangat gotong royong.
3. Mendorong pemerintah daerah untuk mengimplementasikan kebijakan pro-rakyat, sesuai dengan semangat Trisakti.
Bulan Juni bukan hanya waktu untuk mengenang Bung Karno, tetapi juga untuk mewujudkan cita-citanya. Sebab Bung Karno tidak hanya meninggalkan warisan sejarah, tetapi juga tugas ideologis: membangun Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Sebagaimana Bung Karno berkata :
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya sendiri.”
GMNI Jaya !
Marhaen Menang !
GMNI Pandeglang
Mewujudkan Sosialisme Indonesia, Mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. (*)