Munculnya Fenomena Ghosting dalam Pembelajaran Daring

Munculnya Fenomena Ghosting dalam Pembelajaran Daring
Ilustrasi (August de Richelieu/Pexels)

Pelitabanten.com – Akhir-akhir ini kata ghosting menjadi trending topik di media sosial. Kata ini populer setelah setelah beredar berita tentang kandasnya hubungan antara putra petinggi tanah airi dengan seorang wanita di negeri tetangga. Hubungan antara sang pria dengan wanita tersebut awalnya  berjalan baik, namun belakangan sang pria menghilang tanpa jejak maupun kabar dan berita. Sebetulnya istilah ghosting bukanlah hal yang baru, kata ghosting sendiri sempat menjadi perbincangan sekitar tahun 2017, dimana pada pada saat itu fenomena kencan online tengah marak di kalangan masyarakat.  Secara umum kata ghosting biasanya dipakai dalam hal yang berkaitan dengan hubungan asmara.

Sebagian kalangan mendefinisikan bahwa ghosting merujuk pada perilaku atau tindakan memutuskan komunikasi secara tiba-tiba dengan seseorang tanpa pemberitahuan atau penjelasan apapun kepada orang tersebut. Sementara itu menurut Oxford dictionary ghosting ialah praktik mengakhiri hubungan pribadi dengan seseorang secara tiba-tiba dan menghentikan komunikasi tanpa penjelasan. Dalam kalimat populernya ghosting banyak yang mengartikan dengan“ditinggal saat Anda sedang sayang-sayangnya”.

Dewasa ini, ghosting ternyata tidak hanya terjadi dalam hubungan asmara saja. Dalam dunia pendidikan yang sekarang ini masih diberlakukan kebijakan belajar daring, fenomena ghosting juga terjadi. Pandemi covid-19 telah banyak merubah tatanan sistem pendidikan, termasuk cara guru dalam mengajar. Pembelajaran daring mengharuskan siswa memiliki akses, berupa jaringan internet dan tentu saja ketersediaan smartphone. Tidak semua siswa, terutama dari kalangan menengah ke bawah yang mampu memenuhi hal tersebut, sehingga tidak jarang banyak siswa yang selama pembelajaran daring “ghosting” karena tidak memiliki akses untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Ketidaksiapan guru pada saat awal menghadapi perubahan tercermin dari masih banyak guru yang hanya memfoto materi dan tugasnya melalui grup WA, tidak ada interaksi dua arah dengan siswa. Hal ini tidak jarang membuat siswa menjadi jenuh dan dapat  memicu terjadinya fenomena ghosting dalam pembelajaran. Siswa yang mengalami kejenuhan belajar, akan malas mengikuti kegiatan pembelajaran, dan pada akhirnya tidak mau mengikuti pembelajaran sama sekali.

Seiring berjalannya waktu, lambat laun kompetensi guru dalam penguasaan teknologi mengalami kemajuan. Banyak workshop, seminar dan pelatihan tentang teknologi pembelajaran yang digelar oleh berbagai pihak, baik yang berskala daerah maupun nasional. Sehingga saat ini sudah banyak guru yang melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan platform dan aplikasi pembelajaran. Guru sudah mampu mengelola kelas seperti di dunia nyata dengan menggunakan virtual meeting seperti Zoom dan GoogleMeet. Dengan diberikan penjelasan materi secara langsung oleh guru, siswa tidak lagi terlalu kesulitan dalam memahami materi maupun dalam mengerjakan penugasan yang diberikan.

Ketika guru sudah beradaptasi mempergunakan teknologi seperti video conference, ternyata ada permasalahan lain yang muncul. Banyak guru yang ditinggalkan murid tanpa keterangan di tengah-tengah pembelajaran yang dilakukan secara online. Gurunya sudah berbusa-busa menjelaskan materi pembelajaran sementara di seberang sana siswanya tidak diketahui aktifitasnya. Tidak jarang siswa hilang dari pembelajaran tanpa respon dan penjelasan sementara namanya masih tertera di ruang Zoom atau Google Meet namun microphone dan kameranya dimatikan.

Manusia atau siswa pada umumnya bisa mempertahankan konsentrasi saat kelas virtual selama 10 menit pertama. Setelah itu, fokus mulai berkurang dan perhatian akan teralihkan ke hal yang lain. Setelah 10 menit berlalu, fokus bisa kembali hanya dalam hitungan detik saja. Namun, setelah 30 menit, siswa akan kehilangan fokus setelah 3 atau 4 menit, karena tubuh mulai merasa lelah. Setelah 30 menit, siswa akan mulai gelisah, memainkan alat-alat tulis, membuka chat di ponsel, menonton YouTube ataupun membuka aplikasi lain di ponsel. Kemudian di menit 40 hingga 50, siswa sudah tidak bisa lagi mendengarkan atau mengikuti kelas dengan seksama. Siswa akan merasa ingin untuk meninggalkan meeting seperti mengambil air minum, atau sekedar pergi ke toilet.  Siswa sudah tidak tertarik lagi dengan kelas online dan seketika menghilang seperti hantu.

Menyikapi fenomena ghosting yang merambah ke dunia pendidikan, khususnya saat pembelajaran daring, perlu perhatian khusus dari guru. Ghosting dalam pembelajaran daring tentunya akan membuat kegiatan belajar menjadi tidak optimal, bahkan bukan tidak mungkin akan berakibat pada tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Guru perlu meningkatkan kreatifitas dan berinovasi agar pembelajaran daring tetap menyenangkan dan mampu memotivasi siswa untuk tetap bersemangat belajar.

Yulia Enshanty, S.PdPenulis: Yulia Enshanty, S.Pd (Guru Geografi SMAN 1 Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat)

Pemerhati dan penikmat musik, bergabung dengan Pelita Banten pada tahun 2017 sebagai Jurnalis