Indonesia Minim Toleransi?

Indonesia Minim Toleransi?
Ilustrasi (ISTIMEWA)

Pelitabanten.com – Indonesia merupakan sebuah bangsa besar yang di dalamnya terdapat berbagai etnis, suku, agama, bahasa, dan budaya. Di Indonesia terdapat enam agama resmi dan kepercayaan-kepercayaan lokal di setiap daerahnya.

Menurut Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian dalam Negeri, Prof. Dr. Zudan Arif Fakhrullah mengatakan “Berdasarkan data Kependudukan (Adminduk) per Juni 2021, jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 272.229.372 jiwa, dimana 137.521.557 jiwa adalah laki-laki dan 134.707.815 jiwa adalah perempuan.”

Dari data tersebut tercatat 236,53 juta jiwa beragama Islam; 20,4 juta jiwa beragama Kristen; 8,42 juta jiwa beragama Katolik; 4,67 juta jiwa beragama Hindu; 2,04 juta jiwa beragama Buddha; 73,02 ribu jiwa beragama Konghucu; dan 102,52 ribu jiwa menganut aliran kepercayaan terdahulu.

Kebebasan beragama telah termaktub dalam Undang – Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 29 Ayat 2, yang berbunyi: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”.

Dalam UUD 1945 pasal 28E ayat 1 dan 2 juga disebutkan mengenai sebuah kebebasan, yang berbunyi:

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.”

Dalam buku Toleransi Beragama karya Dwi Ananta Devi, dijelaskan bahwa toleransi beragama adalah “Sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau sistem keyakinan dan penganut agama-agama lain.”

Toleransi yang baik bukan berarti kita harus ikut apa yang dilakukan oleh orang lain. Melainkan adanya rasa saling terbuka, saling memahami satu sama lain, saling menghormati dan mengakui adanya perbedaan-perbedaan di masyarakat.

Hilangnya rasa toleransi di Indonesia bisa menyebabkan perpecahan antar masyarakat. Hal itu dapat berujung dengan munculnya -konflik sosial di masyarakat dan hilangnya rasa persaudaraan.

Banyaknya agama atau kepercayaan di Indonesia, sering kali menjadi konflik yang tak kunjung usai. Akhir-akhir ini sering terjadi singgung-menyinggung antara agama satu dengan agama lainnya.

Beberapa tahun terakhir ini banyak sekali perilaku intoleransi yang ada di Indonesia, seperti terjadinya penolakan terhadap pembangunan ibadah, mewajibkan non-Muslim memakai kerudung di sekolah, dan lain-lain.

Ternyata intoleransi tidak hanya terjadi di kehidupan nyata. Dalam sosial pun banyak pula tindakan intoleransi, seperti yang dalam sebuah postingan, ada yang membanding-bandingkan antar agama, menjelek-jelekkan agama lain, bahkan ada yang terang-terangan menyampaikan ujaran kebencian yang berdalih ‘dakwah’.

Hal ini banyak membuat netizen geram dengan postingan tersebut, banyak yang berkomentar bahwa ‘Indonesia minim toleransi’. Apakah hal itu benar terjadi? Atau hal itu merupakan provokasi dari oknum-oknum yang ada di sosial media?

Adanya sikap intoleran ini disebabkan karena kurangnya informasi yang diterima, yang berujung pada penyerapan informasi yang salah dan sikap antipati. Anggapan bahwa kita bisa hidup sendiri atau hanya dengan orang-orang yang satu kaum dengan kita itu sangat mengurangi semangat dalam bersikap toleransi di masyarakat.

Terlihat dari beberapa kejadian di Indonesia baik di dunia nyata maupun sosial media, Indonesia memang sedang berada di fase ‘minim toleransi’. Perilaku-perilaku tersebut sebenarnya hanyalah perbuatan oknum tidak bertanggung jawab yang ingin memecah belahkan persatuan di Indonesia

Diketahui bahwa oknum yang sengaja membuat postingan – postingan intoleransi di sosial media, hanyalah untuk mendapatkan viewers yang banyak dari postingan tersebut.

Hanya segelintir orang yang berperilaku intoleransi, karena masih banyak sekali sikap toleransi terhadap perbedaan yang tercermin dari perilaku-perilaku masyarakat.

Beberapa perilaku toleransi di masyarakat, seperti umat non-Kristen membantu gereja pada waktu misa Natal, umat non-Islam membantu penjagaan masjid ketika hari Lebaran, dan lain-lain.

Sebenarnya kita sebagai masyarakat yang cerdas harus pandai untuk memilah dan memilih apa yang sebaiknya di posting dalam sosial media. Karena apa yang di sosial media itu bersifat publik, dan semua orang bisa saja berkomentar tentang apapun itu.

Kita juga harus paham mengenai etika-etika dalam menggunakan sosial media yang baik dan benar, karena setiap persepsi orang itu berbeda-beda, maka kita harus pandai memahami kondisi tersebut.

Karena Tuhan menciptakan manusia dari latar belakang yang berbeda, nilai toleransi membawa manfaat besar bagi perkembangan kehidupan. Perbedaan ini tidak dapat disangkal dan alami.

Bagaimana cara menumbuhkan sikap toleransi agama dalam diri?

  • Pahami bahwa banyaknya perbedaan di Indonesia

Indonesia dihuni bukan hanya dari satu agama, suku, bahasa, budaya saja, melainkan ada bermacam-macam agama, suku, bahasa, dan budaya di Indonesia. Dengan banyaknya perbedaan itu, kita harus bisa saling menghormati satu sama lain.

  • Manusia adalah makhluk sosial

Untuk menumbuhkan toleransi, perlu diketahui bahwa sejatinya manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain.

  • Tidak mengganggu orang lain saat ia melakukan ibadah

Cara ini sangat penting untuk dilakukan, karena ketika kita tidak ingin diganggu saat beribadah, maka kita juga tidak boleh mengganggu orang lain dalam beribadah.

  • Bijak dalam menggunakan sosial media

Sosial media banyak digunakan saat ini, maka kita harus bijak dalam bersosial media. Jangan sampai orang lain tersakiti dengan postingan atau komentar kita di sosial media.

Apa pentingnya mempunyai sikap toleransi?

  • Menghindari adanya konflik
  • Kerukunan antar umat beragama
  • Mempererat persatuan dan kesatuan di Indonesia

Begitu pentingnya sikap toleransi di masyarakat, jika masih saja ada yang bersikap intoleransi, maka perlunya sebuah tindakan kepada semua tindakan intoleransi yang dilakukan, agar adanya rasa jera pelaku intoleransi.

Maka dari itu kita sebagai warga negara yang baik harus memahami dan mempelajari tentang moderasi beragama, agar rasa toleransi itu tetap berdiri kokoh di antara umat-umat beragama dan agar terhindar dari konflik-konflik sosial yang dapat merusak rasa persaudaraan kita.

Desti Putri NurbaitiPenulis: Desti Putri Nurbaiti (Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah )

Pemerhati dan penikmat musik, bergabung dengan Pelita Banten pada tahun 2017 sebagai Jurnalis