Opini Guru Pelanggeng Pembelajaran Online

Guru Pelanggeng Pembelajaran Online

Guru Pelanggeng Pembelajaran Online
Ilustrasi (mmi9/Pixabay)

Pelitabanten.com  – Mendikbud bulan lalu sudah menyampaikan bahwa proses vaksin untuk 5 juta dan tenaga kependidikan ditargetkan selesai di akhir Juni 2021. Hal ini dilakukan agar pembelajaran tatap muka bisa segera dilaksanakan pada bulan Juli 2021.

Namun, dalam pelaksanaan program itu, masih ditemui beberapa kendala dilapangan, salah satunya masih dijumpainya guru yang menolak vaksin. Bahkan menurut Federasi Serikat Guru Indonesia  (FSGI) masih ada 8,27% guru yang menolak di vaksin.

Hal ini tentu terbilang aneh, dan menimbulkan beberapa pertanyaan. Apa alasan beberapa guru tersebut menolak divaksin? Apa guru-guru tersebut sudah terlalu nyaman dengan pembelajaran online seperti sekarang ini? Apa masih belum melihat beberapa masalah yang muncul akibat pembelajaran online seperti sekarang? Apa guru-guru tersebut mempunyai terobosan yang luar biasa dalam pembelajaran online, yang memiliki dampak yang lebih baik dibanding dengan pembelajaran tatap muka dikelas?

Baca Juga:  Tol Kataraja dan Tata Ruang Zona Wilayah Pesisir

Apapun alasan bapak/ibu guru itu, saya berharap pemerintah melalui Kemendikbud / Kementerian memberikan pembinaan & pencerahan.

Sebenarnya menolak divaksin itu adalah hak, tapi yang jadi pertanyaan alasannya apa menolak? Jika karena mengidap penyakit / dalam kondisi yang memang dilarang untuk melakukan vaksin seperti diabetes/ginjal/hipertensi/hamil dan lain sebagainya tentu sangat bisa dimaklumi, namun jika karena takut keamanan vaksin / kehalalan vaksin sinovac yang telah ditetapkan oleh pemerintah RI untuk melawan penyebaran .

Itu jelas tidak bisa diterima, karena disamping tidak percaya pada pemerintah, alasan itu seolah merendahkan kredibilitas & keahlian ulama di MUI yang memfatwakan halal vaksin sinovac dan menghina BPOM yang telah menyatakan keamanan vaksin dan pemberi ijin vaksin untuk diedarkan

Perlu kiranya dibedah alasan-alasan guru yang menolak, karena dikhawatirkan penolakan itu hanya karena hoax tentang vaksin yang beredar. Jika guru-guru yang seharusnya menjadi contoh, seorang pendidik dan penggembleng intelektual masih mengaminkan hoax, bagaimana dengan siswa-siswinya?

Baca Juga:  Penyebab Kejahatan Kerah Putih, Kejahatan Finansial di Indonesia

Padahal penolakan sebagian guru itu bisa berdampak pada mundur nya pembelajaran tatap muka, dan jelas menghambat terjadinya pembentukan herd immunity secara komunal di sekolah. Ini artinya, guru-guru penolak vaksin itu secara tidak langsung melanggengkan pembelajaran online.

Padahal siswa-siswinya merasa banyak masalah dalam pembelajaran online, sebagaimana survey dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyatakan bahwa 92 % siswa mengaku merasa banyak masalah yang mengganggu dalam proses belajar Daring. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut yang justru akan merugikan banyak pihak, terlebih para siswa-siswi yang kelak akan menjadi tonggak pemegang masa depan bangsa.

Maka saya sebagai guru yang mendukung program dan pembelajaran tatap muka.sangat berharap vaksinasi ini dapat dilakukan secara menyeluruh bagi para guru dan tenaga pendidik di seluruh Indonesia, agar guru dan siswa dapat kembali bertatap muka, saling bertegur sapa, bersalam mesra dan tak ada lagi sekat yang menghalanginya.

Baca Juga:  Menjemput Tugas Manusia, Hamba dan Khalifah

Ghofar Ismoyo AjiPenulis: Ghofar Ismoyo Aji (Guru IPS SMP N 5 Kota Serang)