Eksklusivitas di Tengah Kemajemukan

Eksklusivitas di Tengah Kemajemukan
Ilustrasi (ISTIMEWA)

Pelitabanten.com – Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keanekaragamannya. Berdasarkan data dari Sensus Penduduk (SP) pada tahun 2020, jumlah penduduk di Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa dan menempatkan Indonesia pada peringkat empat sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar, Indonesia menyimpan banyak perbedaan dan kemajemukan baik suku, agama, maupun bahasa daerah yang terhitung dari Sabang sampai Merauke. Kemajemukan tersebut merupakan kekayaan budaya yang tidak dimiliki oleh negara lain dan patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia

Kemajemukan atau keberagaman dapat diartikan sebagai sebuah perbedaan yang bermacam-macam dan akan terus mengelilingi kehidupan masyarakat. Namun, di balik banyaknya perbedaan yang ada, ideologi dan pedoman dalam berbangsa dan bernegara tetaplah sama yaitu tercermin pada sila-sila Pancasila. Hal tersebut juga didukung dengan semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna berbeda-beda (suku, agama, bahasa daerah) tetapi tetap satu (Indonesia). Semboyan yang mencerminkan seni bermasyarakat dan berbangsa yang damai dengan segala perbedaan yang ada di sekitarnya.

Tentunya segala sesuatu yang dijalankan akan selalu menemui kerikil hambatan. Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dengan penuh kemajemukan akan muncul persinggungan yang dapat memicu sebuah konflik. Persinggungan yang terjadi dapat berupa penghinaan, perbedaan pendapat, perlakuan yang tidak seimbang, dan sebagainya. Adanya kepentingan golongan atau kelompok juga dapat memanaskan situasi. Sifat manusia yang cenderung merasa benar pada sesuatu yang diyakininya dapat menimbulkan gesekan dalam hidup bermasyarakat. Pada dasarnya, hal tersebut adalah sifat ilmiah seorang manusia yang tidak bisa diseragamkan.

Bukan tantangan tanpa solusi, persinggungan atau gesekan yang bisa timbul di masyarakat dapat dihindari dengan berbagai cara, salah satunya adalah meningkatkan sikap toleransi. Sikap ini diwujudkan dengan saling menghargai antar individu, kelompok, dan lingkup lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, toleransi juga diwujudkan dengan sikap santun, tidak memaksakan kehendak, dan menghindari perbuatan yang dapat menimbulkan konflik. Dengan bertoleransi, seorang manusia bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan sebagai makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari bantuan orang lain.

Menyadari pentingnya toleransi, pendidikan mengenai toleransi dalam kebhinnekaan sudah dikenalkan sejak sekolah dasar. Upaya tersebut dimaksimalkan dengan memasukkan materi toleransi ke dalam pelajaran kewarganegaraan, agama, dan sejarah. Usaha untuk menggaungkan toleransi yang dilakukan oleh berbagai pihak tentu bukan tanpa cela. Menurut Setara Institute, sejak tahun 2019 hingga 2020 terdapat peningkatan tindakan intoleransi yang diekspresikan dengan perusakan atau pelarangan terhadap aktivitas keagamaan dimana terdapat 200 peristiwa pelanggaran yang terjadi.

Fenomena intoleransi seperti tindakan pelanggaran kebebasan beragama dapat disebabkan oleh sikap toleransi semu berupa pandangan ekslusif yang terkadang masih melekat pada seorang individu. Pemikiran bahwa sesuatu yang diyakininya adalah benar merupakan hak bagi setiap orang. Namun, hal tersebut tidak bisa disandingkan dengan pandangan ekslusif dan merendahkan orang lain yang berbeda pandangan dengannya. Setiap manusia harus bisa menerima perbedaan dan memahami tradisi atau budaya yang diyakini orang lain.

Lantas bagaimana menghilangkan pandangan ekslusif pada seorang individu? Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menjalin komunikasi yang baik dengan berbagai pihak. Dialog bersama antar individu atau kelompok harus dilakukan guna merespon permasalahan, memahami pandangan, dan mencari solusi bersama. Dalam menjalin komunikasi, dapat digunakan berbagai media yang dekat dengan setiap individu dan siap menampung setiap pandangan dan permasalahan yang ada.

Organisasi atau komunitas dapat menjadi media komunikasi yang cukup efektif untuk mengampanyekan toleransi secara komprehensif. Organisasi berisi orang-orang yang memiliki tujuan atau karakter yang sama. Oleh karena itu, sosialisasi melalui organisasi dianggap lebih efektif dan efisien karena dapat menjangkau banyak orang sekaligus dan jelas kepada siapa sosialisasi tersebut ditujukan. Ditambah lagi dengan adanya paradigma yang mengatakan bahwa seseorang cenderung mengikuti corak dari organisasi yang diikuti. Hal tersebut dapat menjadi alasan dan dorongan seseorang untuk menjalankan toleransi dan mengurangi pandangan eksklusif.

Komunikasi yang dilakukan dengan berbagi pendapat diharapkan mampu meningkatkan toleransi sehingga mengurangi terjadinya konflik terhadap kemajemukan di Indonesia. Bersikap toleransi harus memberikan penegasan bahwa setiap manusia dengan segala perbedaannya tetap memiliki hak, kewajiban, dan kedudukan yang sama di ruang publik. Dengan ini, diharapkan keseimbangan dan ketenteraman dalam hidup bermasyarakat dapat dirasakan oleh setiap manusia tanpa memandang perbedaan.

Alvina LutviyaniPenulis: Alvina Lutviyani (Mahasiswa Prodi Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Pemerhati dan penikmat musik, bergabung dengan Pelita Banten pada tahun 2017 sebagai Jurnalis