
SERANG, Pelitabanten.com – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat pada Selasa (8/9/2026).
Erupsi bertipe strombolian kembali terjadi setelah sempat dinyatakan menurun pada Senin (7/9/2026), dengan potensi letusan lanjutan yang diprediksi masih tinggi.
Berdasarkan data pengamatan pos PVMBG pada Selasa (8/9/2026), erupsi strombolian tercatat berulang beberapa kali sejak pagi hari, yakni pukul 05.08, 05.34, 07.49, hingga 11.34 WIB. Namun, tinggi kolom lontaran abu tidak dapat teramati secara visual karena enam unit kamera pemantau di lokasi mengalami kerusakan akibat erupsi sebelumnya.
Badan Geologi dan PVMBG menegaskan status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga yang telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026. Sehubungan dengan status bahaya tersebut, masyarakat maupun wisatawan dilarang keras beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Erupsi beruntun ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat setelah Dinas Kesehatan Provinsi Banten melaporkan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) per Selasa (8/9/2026). Kasus ISPA melonjak tajam hingga 2,5 kali lipat dari biasanya sekitar 2.000 menjadi 4.500 laporan, sehingga Pemprov Banten memutuskan memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga Jumat.
Gubernur Banten Andra Soni saat meninjau Pos Pemantauan Pasauran pada Selasa (8/9/2026) menginstruksikan warga untuk memprioritaskan mitigasi kesehatan secara mandiri.
Baca Juga: PSEL Cilowong Olah 1.161 Ton Sampah Serang Raya Jadi Listrik
“SAYA TETAP MEMINTA KEPADA WARGA BANTEN UNTUK TETAP WASPADA, UNTUK TETAP MENGGUNAKAN MASKER SAAT BERADA DI LUAR RUMAH, DAN MEMASTIKAN TEMPAT AIRNYA DITUTUP,” UJAR GUBERNUR BANTEN ANDRA SONI, SELASA (8/9/2026).
Kendati pantauan pos menunjukkan arah abu vulkanik mulai bergeser ke arah barat daya menuju Samudra Hindia, partikel halus dinilai masih berisiko mengancam kesehatan pernapasan warga pesisir. Pihak PVMBG bersama pemerintah daerah terus memperketat pengawasan serta simulasi pembersihan abu sembari menanti stabilnya aktivitas gunung api tersebut.













