Beranda Peristiwa Internasional Bernahy Munkar Dengan Cara Yang Ma’ruf

Bernahy Munkar Dengan Cara Yang Ma’ruf

Ber-nahy Munkar Dengan Cara Yang Ma'ruf
Dr. Syakir Musa, Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Foto Pelitabanten.com (Dok.Ist)

Pelitabanten.com — Salah satu dosen Universitas Al Azhar Kairo Mesir, bernama Dr. Syakir Musa dalam kelas kuliah mengajarkan tentang moderasi beragama, yaitu sikap moderat untuk tidak memaksakan kehendak dan ambisi pribadi dalam hal beragama. Sikap moderat adalah sikap yang menuntut adanya keadilan, toleransi dan kesimbangan. Sebab itu moderasi beragama menjadi suatu hal yang penting diterapkan mengingat esensi dari beragama adalah totalitas menghambakan diri kepada Tuhan, dalam arti menjadi hamba seutuhnya dan keluar dari sifat ketuhanan yang melekat di dalamnya. Mengutip ucapan Kyai Aliyuddin Zein Pandawa Kresek, bahwa manusia harus keluar dari Tuhan menuju Tuhan. Artinya potensi manusia adalah hamba, sedangkan Allah adalah Tuhan semesta, maka dari itu manusia yang merasa hebat dan seakan sudah seperti memiliki kehebatan Tuhan, maka sejatinya dirinya tidak mengenal Tuhan.

Kemudian dalam sesi tanya jawab, dosen tersebut menjelaskan tentang bagaimana “pelaksanaan nahy munkar dalam beragama?, apa signifikansinya dengan hadits Man Ra’a Minkum Munkaran…?.” Lalu ia menjawab bahwa “ber-nahy munkar-lah dengan cara yang ma’ruf.” Artinya ber-nahy munkar (mencegah kemunkaran) harus dengan cara yang baik, agar tidak bertentangan dengan nilai, norma dan etik, bukan malah melakukan kemunkaran atas nama mencegah kemunkaran.

Selanjutnya secara spesifik ia menjelaskan tentang pentingnya mempercayakan proses nahy munkar pada ulil amri (pemerintah) dan perangkatnya, seperti qismul aman (polisi, TNI, hakim, dll) untuk berada digaris terdepan mencegah kemunkaran. Sebab itu peran pemerintah (umara) menjadi lebih dominan daripada ormas atau individu individu masyarakat. Tentunya pelaksanaan hal tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan serta dilakukan sesuai dengan porsi dan wewenangnya.

Mengutip al Ghazali dalam “Mukasyafatul Qulub,” halaman 42 bahwa hadits berikut ini:

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Hadits tersebut menunjukan bahwa terdapat 3 level pelaksanaan nahy munkar, yaitu dengan tangan, lisan dan hati. Ketiganya (tangan, lisan dan hati) memiliki peran tersendiri yang dijalan oleh otoritas tertentu, seperti halnya tangan merupakan tugas dari umara (pemerintah). Sebab umara (pemerintah) dengan kebijakannya dapat merubah struktur yang tidak baik menjadi bagi. Kemudian lisan adalah tugas seorang ulama yang memberikan nasehat kepada umatnya, mengingatkan tentang pentingnya iman, takwa dan menjalan syariat ketuhanan. Sedangkan hati adalah milik orang awam yang tidak memiliki kapasitas sebagai umara dan ulama.

قال بعضهم التغيير باليد للأمراء, وباللسان للعلماء، وبالقلب للعوام.(مكاشفة القلوب ص: 42)

“Sebagian ulama berpendapat merubah (nahy munkar) dengan tangan tugas umara, dengan lisan tugas ulama, dan dengan hati adalah tugas (milik) orang awam.”

Hadits ini penting dimaknai secara utuh guna menghindari distorsi makna dalam penerapan ber-nahy munkar. Apabila orang awam beralih tugas menjadi umara, ulama diam seperti orang awam, dan lainnya maka pada akhirnya rancu, acak-acakan, bisa jadi akan menambah dan membuka ruang menuju kehancuran. Buktinya orang awam hanya karena media sosial kini statusnya beralih menjadi ulama, lalu karena hegemoni nafsunya konteks yang sejatinya adalah media sosial menjadi pusat transformasi kebaikan malah justru beralih menjadi ajang kontestasi keburukan. Kemudian ulama yang keluar dari kapasitasnya beralih seakan menjadi ulil amri atau qismul aman ketika melihat kemunkaran di depan mata, yakni melakukan tindakan main hakim sendiri, merampas, merusak, dan lain lain (kecuali ulama yang diamanhi tugas ulil amri). Padahal tugas ulama bukanlah qadhi atau hakim melainkan sebagai pemberi informasi suatu kebaikan dan kejelekan. Akhirnya kemunkaran diselesaikan dengan cara yang munkar.

Lalu pemerintah (qismul aman) yang hanya tidak ambil bagian mencegah kemunkaran, malah menjadi ulama sehingga sekedar menghimbau dalam nahy munkar, atau menjadi orang awam yang hanya bisa mengelus dada. Maka sikap seperti itu justru akan menambah daftar panjang maraknya kemunkaran. Oleh sebab itu, pemerintah, ulama dan orang awam harus berjalan seiring dan seirama dalam mencegah kemungkaran sesuai dengan tugas dan kapasitas masing masing. Semua bekerja sesuai dengan porsi aslinya.

Selanjutnya esensi ber-nahy munkar (mencegah kemunkaran) adalah berlomba-lomba dalam kebaikan dan meningkatkan kualitas takwa dari setiap hamba, bukan justru berlomba-lomba dalam hal keburukan yang menambah daftar permusuhan. Artinya saling tolong menolong dalam kebaikan, bukan justru malah menambah permasalahan. Tidak hanya itu, bahwa ber-nahy munkar (menjegah kemunkaran) adalah jalan kebaikan, bukan justru menjadi jalan kerusakan. Disamping itu juga jalan untuk mencegah keburukan dan permusuhan yang pada penerapanya disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kapasitasnya.

Oleh sebab itu momentum ramadhan yang mulia ini maka menebar kebaikan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi keharusan yang diejawantahkan. Kemudian ejawantah kebaikan tidak hanya diekspresikan dengan melaksanakan amaliah yang terdapat dalam rukun Islam, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. juga bukan hanya sekedar melaksanakan ibadah sunnah lainnya, seperti tilawah al qur’an, shalat sunnah dan lain-lain. Akan tetapi peduli terhadap sesama manusia, dan berbagai dalam dekapan cinta dan kasih tanpa memandang apapun kecuali sama sama makhluk Tuhan adalah menjadi bagian terpenting dalam setiap kebaikan, pasalnya puncak dari iman dan takwa adalah ihsan, yakni menebar kebaikan. Sebab itu dengan semakin banyak menebar kebaikan maka akan semakin terbuka peluang mencegah kemunkaran, setidaknya semua itu dapat dilakukan dan dimulai untuk pribadi, keluarga dan tetangga serta kelompoknya masing-masing. Lalu lebih lanjut untuk umat manusia di mana saja berada apapun suku, ras, dan agamanya.

Kemudian semakin banyak kebaikan yang diekspresikan dalam sebuah sistem dan atau manajemen maka secara tidak langsung sedang menerapkan kaidah pencegahan kemungkaran yang tersistem. Seperti halnya Masjid yang secara tidak langsung tersistem sebagai pusat kebaikan, maka kemungkinan kecil akan ada kemungkaran di dalamnya, kecuali mereka yang memiliki ambisi dan nafsu merusak kemuliaan masjid.

Mari jadikan ramadhan sebagai media untuk mengekspresikan cinta dan kasih sesama manusia dengan cara menghentikan perdebatan, stop hoax, dan menjauhi sikap buruk sangka.

Ber-nahy Munkar Dengan Cara Yang Ma'ruf
Dr. H. Muhamad Qustulani, MA.Hum. Pelitabanten.com (Dok.Ist)

Penulis adalah peserta Tadribut Du’at dan A’imah Universitas Al Azhar Kairo Mesir dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Juga Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang.

Loading...