Beranda Pendidikan Kampus BEM STKIP Setia Budhi Rangkasbitung Gelar Seminar Mahasiswa Sebagai Agen Kontrol Sosial-Politik

BEM STKIP Setia Budhi Rangkasbitung Gelar Seminar Mahasiswa Sebagai Agen Kontrol Sosial-Politik

553
BAGIKAN
BEM STKIP Setia Budhi Rangkasbitung Gelar Seminar Mahasiswa Sebagai Agen Kontrol Sosial-Politik

RANGKASBITUNG, Pelitabanten.com – Dengan mengangkat tema “Revitalisasi Peran Mahasiswa Sebagai Agent Of Control Sosial Dalam Politik”, BEM STKIP Setia Budhi Rangkasbitung gelar dialog publik, Kamis (16/11/2017).

Kegiatan yang digelar di Aula Terbuka STKIP Setia Budhi Rangkasbitung menghadirkan enam panelis yang telah berpengalaman dalam bidangnya. Mendatangkan Eli Mulyadi (Politisi) selaku Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Banten, Iman Sampurna selaku Dosen Sejarah (Akdemisi), Avivi Al Bantani selaku Komisioner KPU Lebak, dari kalangan Aktivis hadir Hendaya Musalep, Imem Nur Hakim, Rizal Hanafi.

Dialog publik yang diikuti kurang lebih 54 peserta dari berbagai jurusan dan Perwakilan BEM Amik Wira Nusantara, Akper Yatna Yuana, STAI Wasilatul Falah. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 10.00-13.30 dalam 2 segmen.

Pada segmen Pertama, para panelis memaparkan tentang kondisi politik Indonesia dulu dan sekarang, masalah dan penyimpangan gerakan politik mahasiswa sekarang, serta solusi penyimpangat tersebut menurut kacamata panelis (Politisi, Akademisi, Aktivis).

Terlihat antusias peserta menyimak pemaparan panelis dari sudut pandang yang berbeda. Menurut Eli Wahyudi, mahasiswa harus turut serta dalam gerakan sosial politik bukan berarti harus masuk partai politik bahkan terjebak pada politik praktis.

“Mahasiswa itu memiliki tugas melakukan kontrol terutama kepada pihak wakil rakyat. Maka dari itu, mahasiswa harus melek politik bukan berarti harus masuk dan berperan dalam parpol dan politik praktis. Keprofesionalan kita yang utama sangat dibutuhkan untuk membela kepentingan-kepentingan rakyat”, tutur anggota DPR Provinsi Banten Komisi IV ini.

Ditambahkan Iman Sampurna, selaku Dosen Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung yang juga menjadi panelis pada kegiatan ini. Menyebutkan bahwa, sistem politik yang pada umumnya berlaku di setiap negara meliputi dua struktur kehidupan politik, yakni, infrastruktur politik dan suprastruktur politik.

“Mahasiswa masuk dalam unsur Infrastruktur politik sebagai pressure group yakni kekuatan penekan untuk menyalurkan aspirasi dan kebutuhan rakyat. Misal ketika rakyat menginginkan sayur asem tapi pemerintah membuat sayur lodeh disitulah peran mahasiswa sebagai pressure group dalam menyampaikan kehendak rakyat”, ungkapnya .

Hal ini juga ditambahkan oleh Ketua KPU Lebak “Diakui atau tidak bahwa sistem demokrasi langsung dapat dikatakan liberal, dengan kondisi masyarakat yang buta akan politik maka orang yang memiliki uang dapat mempengaruhi pemilih. Disinilah mahasiswa mampu menampilkan peran bagi masyarakat agar masyarakat dapat memilih pemimpin yang berkompetensi dan dapat memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyat”, Ujar Avivi Al Bantani.

Baik Hendaya Musalep, Imem Nur Hakim, dan Rizal Hanafi sepakat bahwa mahasiswa tanpa melek politik tidak akan mampu menyikapi permasalahan sosial dan bahkan gerakan mahasiswa terkhususnya Lebak saat ini terkesan parsial dan reaktif. Dipengaruhi bebearapa faktor : Egosentris bendera, tidak ada kajian mendalam, mengutamakan eksistensi dibanding esensi, gerakan bersifat sporadis.

Pada Segmen Kedua, para peserta menanggapi, menambahkan dan bertanya terhadap pemaparan panelis.

Dhimas Maulana Hadi, perwakilan BEM STKIP Setia Budhi Rangkasbitung berpendapat, banyaknya organisasi mahasiswa tanpa didasari persatuan hanya akan menimbulkan gesekan akhirnya kepentingan-kepentingan rakyat terbengkalai. Karena yang harusnya menjadi sosial kontrol malah menjadi mahasiswa kontrol (Saling mengawasi, dan nyinyir sesama organisasi mahasiswa).

Dhimas juga mempertanyakan, “Apakah degradasi gerakan mahasiswa sekarang yang sayup-sayup akibat traumatik gerakan mahasiswa masa lalu? Toh setiap gerakan mahasiswa selalu ada oknum yang menunggangi sehingga mereka memilih untuk diam”, tanya Dhimas yang akrab dipanggil Bung.

Salah satu tanggapan dari keenam panelis, Handayana Musalep menjawab bahwa memang benar dalam setiap gerakan pasti ada yang di untungkan.

“Pasti ada saja oknum yang memanfaatkan gerakan mahasiswa untuk keuntungan pribadi. Nyatanya ketika kita poof (Buang hajat) pun ada yang di untungkan. Entah ditunggangi, murni atau tidak murni, tapi yang berbahaya itu ketika mahasiswa tidak bergerak sama sekali. Ditunggangi atau tidak terlebih patokoan dari tujuan gerakan itu tercapai”, Ujar Aktivis Senior Lebak.

BAGIKAN