Read more, See More

Read more, See More
Artikel. Sumber Ilustrasi: Pixabay/Lubos Houska

Buku itu seperti cermin: kalau yang berkaca padanya adalah seorang yang bodoh, engkau tak bisa berharap yang terpantul adalah seorang jenius- J.K Rowling

Siapa sih yang tidak mengenal J.K Rowling? Seorang penulis yang ditangannya lahir sebuah novel fenomenal yang akan terus hidup sepanjang zaman. Yap benar sekali ‘Harry Potter’ adalah karya fenomenalnya yang berhasil merubah kehidupannnya menjadi lebih baik. Bayangkan saja seperti di kutip dari Wikipedia pada tahun 2008 novel tersebut berhasil di terjemahkan ke dalam 60 bahasa dan sudah tersebar hampir ke seluruh dunia. Seperti di kutip dari bbc.com sebuah lembaga amal di Inggris menyebutnya sebagai pahlawan kesusastraan karena berkat buku ‘Harry Potter’ mendorong anak untuk suka membaca.

Pernah mendengar istilah ‘penulis yang baik adalah pembaca yang baik’ ? karena dari pembaca yang baik akan banyak menghasilkan gagasan-gaagasan baru. Tentu saja penulis sekaliber J.K Rowling adalah seorang pembaca yang baik. Menulis dan membaca ibarat ruh yang bersemayam dalam jasad. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Karena jika kita  berkaca dari sejarah hampir semua tokoh-tokoh besar memiliki kegilaan terhadap buku. Sebut saja Malcolm X seorang aktivis Hak Asasi Manusia yang memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam. Baginya membaca adalah obat untuk mengobati kesengsaraan. Malcolm menemukan dunia ketika berada dalam penjara. Loh ko bisa? Mungkin bagi sebagian besar narapidana penjara adalah tempat terkutuk yang pernah ada. Tapi siapa sangka Malcolm mampu melihat dunia dari balik jeruji besi melalui buku-buku yang dilahapnya dari perpustakaan penjara, menurutnya membaca mampu  mengubahnya menjadi lebih baik dan penjara adalah universitas pertamanya. Dan sampai saat ini sejarah mencatat bahwa Malcolm X adalah orang Afrika-Amerika terhebat dan berpengaruh dalam sejarah. Selian Malcolm X masih banyak lagi tokoh-tokoh besar yang memiliki kegemaran membaca, seperti Ir. Soekarno, M Hatta, Tan Malaka, Karl Marx, Adolf Hitler, Gusdur, dan masih banyak lagi.

Lalu apa kabar dengan kebiasaan membaca di Indonesia?

Wah, wah, wah

Miris cuy!

Bayangkan saja seperti di kutip dari kemendagri.co.id Indonesia tercinta ini berada pada urutan ke 62 dari 70 negara dengan tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Coperation and Development (OECD) pada 2019. Miris kan cuy, sedangkan untuk menghidupkan dan menciptakan peradaban yang gemilang hingga dikenang sepanjang zaman adalah dengan meningkatkan kualitas manusia. Dan meningkatkan kualitas manusia bisa dicapai salah satunya dengan belajar, membaca, memahami baru mengaflikasikan. Menurut Azyumardi Azra “Peradaban Islam adalah peradaban buku-buku; jalan hidup seorang muslim dipandu buku; dan kita dapat menemukan niali-nilai hidup kita hanya dalam buku-buku; dan Tuhan kita juga termanifestasi dalam buku. Lalu bagaimana bisa kita  menjadi para pengkhianat buku-buku?”

Belajar pada negara-negara maju bahwa pondasi mereka adalah membangun budaya baca masyarakat. Sebut saja Jepang pada pertengahan abad ke 19  Jepang memulai kebangkitannya dengan membangun manusianya, yaitu dengan cara membrantas buta huruf. Hingga saat itu Jepang mampu melampaui Eropa dalam tingkat keaksaraannya.

Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

“Barangsiapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barangsiapa yang ingin (selamat dan bahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula”

Dengan membaca kita akan mengetahui apapun sekalipun kita berada di sebuah pulau tak berpenghuni

Buku adalah jendela dunia!