
SERANG, Pelitabanten.com — Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Provinsi Banten, Gubernur Banten Andra Soni membawa rangkaian peringatan hari jadi provinsi ke ruang yang lebih dalam: sejarah para pendahulu.
Andra Soni bersama Ketua DPRD Banten Fahmi Hakim, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, Sekretaris Daerah Provinsi Banten Deden Apriandhi, sejumlah kepala perangkat daerah, serta instansi vertikal berziarah ke kompleks pemakaman Kesultanan Banten di Masjid Agung Banten, Kasemen, Kota Serang, Sabtu (3/10/2026).
Berdasarkan laporan resmi Pemerintah Provinsi Banten, rombongan tiba sekitar pukul 16.30 WIB dan berbaur dengan peziarah yang telah berada di kompleks makam. Zikir dan tahlil kemudian dilantunkan bersama untuk mendoakan para Sultan Banten, leluhur, serta tokoh pendahulu.
Kegiatan tersebut berlangsung sehari sebelum tanggal 4 Oktober yang ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Banten. Secara historis, Provinsi Banten terbentuk sebagai daerah otonom melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 setelah sebelumnya menjadi bagian dari Jawa Barat.
“Perjuangan para pendahulu harus menjadi pemacu semangat untuk mewujudkan Provinsi Banten yang maju, adil merata, dan bebas dari korupsi.” — Gubernur Banten Andra Soni
Ziarah di Tengah Momentum Hari Jadi Banten
Dalam konteks peringatan hari jadi, ziarah tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial. Andra Soni mengaitkan penghormatan terhadap pendahulu dengan tanggung jawab pemerintahan untuk melanjutkan pembangunan dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Baca Juga: KRL Banten Disiapkan Sampai Merak, Ini Tahapannya
“Alhamdulillah, hari ini kami hadir bersama Ketua DPRD, Sekda Provinsi Banten, Bupati Serang, para kepala OPD, serta rekan-rekan dari instansi vertikal untuk melaksanakan ziarah kepada para Sultan Banten,” kata Andra Soni, dikutip dari laporan resmi Pemprov Banten.
Menurutnya, dukungan masyarakat diperlukan agar berbagai rencana pembangunan pemerintah dapat berjalan optimal dan berdampak terhadap kesejahteraan rakyat.
Pernyataan tersebut menempatkan momentum HUT Banten bukan hanya sebagai perayaan usia provinsi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menghubungkan sejarah, pemerintahan, dan kebutuhan masyarakat saat ini.
Jejak Kesultanan Masih Menjadi Identitas Banten
Masjid Agung Banten yang menjadi lokasi ziarah merupakan salah satu peninggalan penting Kesultanan Banten di kawasan Banten Lama. Pemerintah Provinsi Banten mencatat masjid tersebut didirikan pada masa Sultan Maulana Hasanuddin pada 1566 dan hingga kini tetap menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan, sejarah, dan budaya masyarakat.
Karena itu, kompleks Masjid Agung Banten tidak hanya menjadi tempat ibadah dan ziarah. Kawasan tersebut juga menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan jejak perjalanan Banten dari masa kesultanan hingga menjadi provinsi pada era reformasi.
Bantuan untuk Warga di Sekitar Masjid Agung Banten
Rangkaian kegiatan menjelang HUT ke-26 itu juga disertai penyaluran bantuan kepada masyarakat sekitar. Bantuan diberikan kepada warga dan sejumlah penggerak kegiatan keagamaan di lingkungan setempat.
Baca Juga: Capaian 7,2 Juta Warga Banten Ikut Cek Kesehatan
Berikut rincian bantuan yang disalurkan:
- 250 paket sembako untuk masyarakat sekitar.
- Rp500 ribu per orang untuk 50 guru mengaji.
- Rp500 ribu per orang untuk 50 marbot masjid.
- Total penerima bantuan tunai mencapai 100 orang.
Data tersebut tercantum dalam laporan resmi Pemerintah Provinsi Banten mengenai kegiatan ziarah Andra Soni pada 3 Oktober 2026.
Penyaluran bantuan membuat rangkaian peringatan tersebut memiliki dimensi langsung bagi masyarakat di sekitar kawasan bersejarah. Penghormatan terhadap masa lalu sekaligus diikuti dengan perhatian terhadap kebutuhan warga yang berada di lingkungan situs tersebut.
Dari Sejarah Menuju Tanggung Jawab Pembangunan
Provinsi Banten secara resmi menjadikan 4 Oktober 2000 sebagai hari jadi. Momentum tersebut lahir dari proses panjang perjuangan pembentukan provinsi pada era reformasi dan kemudian menjadi bagian dari sejarah pemerintahan Banten sebagai daerah otonom.
Dua puluh enam tahun kemudian, peringatan hari jadi kembali membawa pemerintah dan masyarakat pada pertanyaan yang lebih aktual: sejauh mana pembangunan mampu meneruskan cita-cita para pendahulu dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat?
Bagi Pemprov Banten, Andra Soni menyampaikan bahwa dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjalankan rencana pembangunan. Pemerintah berharap program yang direncanakan dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan rakyat.
Dengan demikian, ziarah ke makam para Sultan Banten menjelang HUT ke-26 tidak berhenti pada ritual mengenang masa lalu. Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah Banten membawa warisan nilai dan tanggung jawab yang harus diterjemahkan dalam pembangunan pada masa kini.
Sumber primer: Pemerintah Provinsi Banten, laporan kegiatan ziarah Gubernur Banten di kompleks pemakaman Kesultanan Banten, 3 Oktober 2026.













