Beranda Pendidikan Sekolah Harmoni Indonesia – PSIK: Mengelola Perbedaan, Meminimalisir Potensi Konflik

Sekolah Harmoni Indonesia – PSIK: Mengelola Perbedaan, Meminimalisir Potensi Konflik

290
Sekolah Harmoni Indonesia - Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia: Mengelola Perbedaan, Meminimalisir Potensi Konflik
Peserta Sekolah Harmoni Indonesia dalam kunjungan ke salah satu gereja di Kota Rangkasbitung, Minggu (10/9/2017)

LEBAK, Pelitabanten.com – Hampir bisa dipastikan, tidak ada masyarakat yang betul-betul homogen di dunia ini. Setiap masyarakat selalu terdiri dari beragam keyakinan, agama, etnis, bahasa, warna kulit dan lain-lain. Keragaman ini tentu saja merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Sayangnya, meski bersifat niscaya, perbedaan yang ada tidak jarang menjadi sumber konflik yang mengerikan, mulai dari prasangka hingga konflik kekerasan antar-kelompok. Karenanya, sebuah masyarakat perlu dan bahkan harus memiliki kemampuan untuk mengelola perbedaan dan keragaman agar tidak menjadi konflik.

“Dalam masyarakat Indonesia, keragaman menjadi kenyataan yang harus kita terima dan sekaligus kita syukuri. Ada begitu banyak etnis, bahasa, agama, keyakinan dan kepercayaan di Indonesia. Jumlahnya bukan hanya puluhan tetapi ratusan. Secara umum, keragaman tersebut masih berlangsung kondusif. Namun kita juga mengakui bahwa beberapa perbedaan dalam masyarakat bisa menjadi masalah dan memiliki potensi konflik yang cukup serius. Salah satu hal yang tidak bisa dihindari adalah prasangka antar-kelompok agama atau etnis,” ujar Fachrurozi, Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia, Minggu (10/9/2017).

Kenyataan ini tentu saja harus dikelola agar keragaman tidak menjadi sumber konflik yang mematikan dalam masyarakat. Potensi konflik antar-kelompok harus diminimalisasi hingga titik paling rendah. Bahkan prasangka yang masih tertanam dalam kelompok tertentu sebaiknya dikikis dengan membangun sikap saling hormat dan saling mengerti. Tentu saja ini bukan sesuatu yang mudah. Perlu ada upaya persuasif yang terus-menerus agar potensi konflik dan prasangka antar kelompok masyarakat semakin berkurang.

Sebagai salah satu upaya untuk meminimalisasi potensi konflik dan prasangka dalam masyarakat yang beragam. Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia telah melaksanakan Sekolah Harmoni Indonesia di beberapa daerah: Bandung, (4-6/4/2-17) di Padepokan Karang Tumaritis, Cisarua, Bandung Barat. Garut (21-23/7/2017) di Balai Pelatihan BKKBN, Pemda Garut. Kota Serang (11-13/8/2017) di Wisma Catur, Ciruas, Serang. Cigugur, Kuningan (25-27/8/2017) di Paseban Tri Tunggal, dan terakhir di di Hotel Kharisma Jujuluk, Rangkasbitung di Jl. Otista Raya No. 58, Rangkasbitung, Lebak-Banten, Jumat-Minggu (8-10/9/2017).

“Melalui Sekolah Harmoni kami mengundang para peserta dari beragam kelompok, keyakinan dan agama. Memberikan materi-materi yang memiliki perspektif“menerima yang lain”(accept the others) melalui kisah-kisah para pendiri bangsa dan budaya nusantara yang sejak awal selalu merangkul dan mengolah perbedaan menjadi keindahan,” imbuh pria yang akrab disapa Ozy ini.

Sekolah Harmoni Indonesia adalah program yang didesain untuk membangun saling pengertian dan sikap toleran antar-kelompok yang beragam. Dalam program Sekolah Harmoni ini juga diberikan materi yang sudah dihasilkan Tim Sekolah Harmoni seperti buku, buku ajar, film dan kartun. Dengan kegiatan ini, para peserta diharapkan mendapatkan inspirasi sehingga bisa melahirkan karya baru sebagai ekspresi kemampuan mengolah perbedaan.*