
WONOGIRI, Pelitabanten.com– Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Banten Raya melaksanakan kegiatan Studi Luar Kampus ke Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sebagai bagian dari pembelajaran lapangan untuk memperkuat wawasan mahasiswa mengenai inovasi daerah dan penyelenggaraan pemerintahan, pada Tanggal 5 Juli 2026 sampai dengan 8 Juli 2026.
Wakil Ketua I STISIP Banten Raya bidang Akademik, Dr Asep Muslim S.Sos., M.Si. SA mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang bertujuan memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa melalui observasi terhadap praktik pemerintahan di daerah.
“Kunjungan kami ke Wonogiri untuk belajar terkait inovasi daerah dan menjadi bekal bagi mahasiswa dalam proses pembelajaran. Studi luar kampus yang kami lakukan setiap tahun tidak hanya meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa, tetapi juga memberikan pengalaman riil dalam memahami penyelenggaraan pemerintahan. Kami datang untuk memotret langsung bagaimana proses pemerintahan dijalankan,” ujarnya, pada pelitabanten.com, Senin (6/07/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Wonogiri, FX Pranata A.P., M.Hum., memaparkan perjalanan pembangunan daerah yang menurutnya lahir dari semangat perubahan.
Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2015 angka kemiskinan di Wonogiri masih berada di kisaran 13,6 persen. Pada masa itu, sebagian masyarakat masih mengandalkan gaplek sebagai makanan pokok. Kondisi tersebut menjadi pemicu lahirnya berbagai inovasi yang kini diterapkan Pemerintah Kabupaten Wonogiri.
“Inovasi yang hari ini kami miliki tidak lahir begitu saja. Inovasi hadir karena kami harus berubah,” katanya.
FX Pranata menjelaskan, berbagai indikator pembangunan menunjukkan tren positif. Kabupaten Wonogiri berhasil mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebanyak 11 kali berturut-turut. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga terus mengalami peningkatan hingga mencapai 73,42.
Sementara itu, rata-rata lama sekolah masyarakat masih berada pada angka 7,6 tahun atau setara jenjang SMP. Indeks Gini Ratio tercatat sebesar 0,326, laju pertumbuhan ekonomi mencapai 5,6 persen, tingkat pengangguran berada di angka 2,16 persen, dan angka kemiskinan berhasil ditekan menjadi sekitar 9,59 persen atau turun sekitar 10.000 jiwa dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Menurutnya, pemerintah daerah harus mampu menjawab harapan masyarakat melalui pelayanan dasar yang berkualitas.
“Tuntutan masyarakat sebenarnya sederhana. Pendidikan harus berjalan dengan baik, karena itu kami memberikan pendidikan gratis mulai dari PAUD hingga SMP. Di bidang kesehatan, masyarakat harus mendapatkan layanan yang layak. Pelayanan kesehatan tingkat pertama juga kami gratiskan bagi warga yang memiliki KTP Wonogiri. Selain itu, pembangunan infrastruktur seperti jalan dan irigasi menjadi prioritas dalam memenuhi pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.
Dalam bidang inovasi daerah, Wonogiri juga mencatat berbagai prestasi. Selama enam tahun berturut-turut daerah tersebut memperoleh penghargaan sebagai daerah inovatif melalui program Gerbang Indah Wonogiri, serta memiliki lebih dari 1.100 inovator yang berkontribusi terhadap pengembangan pelayanan publik.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri juga menjalankan Program Mahasiswa Berprestasi sejak tahun 2017 yang telah membiayai ribuan mahasiswa. Mahasiswa kedokteran penerima program tersebut turut dilibatkan dalam pelayanan kesehatan saat masa libur akademik melalui kolaborasi dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Baca Juga: Calon Sekda Lebak Harus Jadi Motor Perubahan, Bukan Sekadar Pengisi Jabatan
Selain itu, sebanyak 88.000 Nomor Induk Berusaha (NIB) berhasil diterbitkan dengan melibatkan peran aktif mahasiswa dalam proses pendampingan kepada pelaku usaha.

Kepala Bapperida Kabupaten Wonogiri, Purwadi S.E.,M.E., menegaskan bahwa keberhasilan inovasi daerah tidak terlepas dari komitmen pimpinan daerah dalam mendorong budaya inovasi di lingkungan birokrasi.
“Inovasi dan perencanaan dapat berjalan karena adanya komitmen serta motivasi kuat dari Bupati kepada seluruh jajaran perangkat daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala DPMPTSP Kabupaten Wonogiri Eko Subagyo SH. MH menjelaskan bahwa keberadaan Mal Pelayanan Publik (MPP) menjadi salah satu inovasi untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat melalui sistem digital, layanan hibrida, maupun layanan manual.
“Setelah dilakukan integrasi pelayanan disertai pembaruan inovasi, seluruh proses menjadi lebih mudah, cepat, dan semakin dekat dengan masyarakat,” katanya.
Di sektor pertanian dan peternakan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri, Baroto Eko Pujianto S.P., M.Si, memaparkan inovasi Sapi Berentitas (Sapi Beridentitas dan Berkualitas) yang bertujuan meningkatkan kualitas ternak melalui program inseminasi buatan.
Kabupaten Wonogiri memiliki sekitar 160.000 petani yang sebagian besar juga berprofesi sebagai peternak ruminansia maupun unggas. Sejak tahun 2023, Pemerintah Kabupaten Wonogiri menggratiskan layanan inseminasi buatan bagi peternak.
“Sebelumnya program inseminasi buatan dikenakan biaya. Namun sejak tahun 2023 layanan tersebut digratiskan pada masa kepemimpinan Bupati Joko Sutopo dan kini dilanjutkan oleh Bupati Setyo Sukarno sebagai upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas peternakan masyarakat,” pungkasnya. (MIR)













