Bahas Arsitektur Pesisir Indonesia, Prodi Arsitektur ITB Ahmad Dahlan Hadirkan Guru Besar Malaysia dan Singapura Di Webinar

Acara Webinar Program Studi Arsitektur Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta

TANGERANG SELATAN, Pelita Banten.Com-Masyarakat pesisir adalah bagian dari masyarakat kita, baik di Indonesia, maupun di Malaysia. Pentingnya peran serta penataan bangunan di kawasan pesisir merupakan upaya mewujudkan pembanguan berkelanjutan. Oleh karenanya pentingnya hal ini, Program Studi Araitektur Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta menggelar Webinar dengan mengusung tema “The Demise Of Coastal Settlements”.Rabu(8/12).

Hadir pemateri dari universiti Malaysia Sarawak – UNIMAS Prof. Ar. Dr Julaihi Wahid,  National University of Singapore – NUS Associate Professor Dr Johannes Widodo dan Universitas Riau Dr Muhammad Rijal, S.T., M.T dengan peserta mahasiswa arsitektur, dosen dan umum.

Topik webinar ini secara spesifik membahas tentang permasalahan dan dampak positif-negatif yang berpotensi mempengaruhi pemukiman masyarakat di wilayah pesisir. Wilayah pesisir adalah wilayah daratan dan perairan (neritik) yang dipengaruhi oleh proses biologis dan fisik dari perairan lautan maupun
dari daratan, serta didefinisikan secara luas untuk kepentingan pengelolaan sumber daya alam. Sehingga batas atau klasifikasi wilayah pesisir akan dapat berbeda tergantung pada aspek administrasi, ekologis, dan perencanaan.
Isu subsiden di beberapa wilayah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sedang menjadi ‘ancaman’ bagi pemukiman pesisir. Setidaknya 132 kabupaten/kota di 21 provinsi di Indonesia telah mengalami penurunan muka tanah yang tentunya akan berdampak pada pemukiman di kawasan pesisir tersebut.

Kaprodi Arsitektur Ardiansyah mengungkapkan diskusi webinar ini sudah dapat melihat ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi “hilangnya” settlement2 pesisir. “Ada kesamaan di antara kesemua itu, yaitu terkait dengan modernisasi, infrastruktur, dan perubahan struktur alam yang terjadi, baik akibat bencana, maupun dari ulah manusia/ man-made disaster yang berujung pada climate change” ujarnya

Dalam hal ini, keseimbangan pembangunan dan kelestarian alam adalah hal yang patut menjadi perhatian kita semua.
Peran dari berbagai pihak diperlukan di sini, baik dari pentingnya penegakan peraturan jangka panjang, yang sebisa mungkin selalu “update” menyesuaikan kondisi yang ada di lapangan, maupun dari pemahaman dari masyarakat, dari generasi ke generasi, bahwa kebudayaan pesisir adalah hal yang patut dilestarikan.
Community based Development atau pembangunan yang memperhatikan aspirasi masyarakat bisa menjadi pilihan dalam memberikan sebuah kebijakan yang memiliki ketahanan, dan lebih berkelanjutan sehingga memberikan kesejahteraan kepada semua.
Alam tidak dapat dilawan, namun manusia dapat melakukan adaptasi dan inovasi. Karena itu perlu dilakukan upaya yang seimbang antara pembangunan fisik (infrastruktur) dan non fisik (pendidikan, people empowerment) dalam penanganan pemukiman yang terancam hilang. Mempersiapkan mental/mindset dan mendidik masyarakat untuk memahami pentingnya pusaka alam dan budaya agar kita mengetahui bahwa tanah ini bukan milik kita namun kita meminjamnya dari generasi yang akan datang Melibatkan masyarakat khususnya generasi muda dalam memberi makna pada aset2 cultural heritage agar kita dapat mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan manusia.

Ardiansyah mengucapkan banyak terimakasih atas partisifasi semuanya “Mudah-mudahan dengan adanya acara ini bisa menambah wawasan pengetahuan atas permasalahan yang ada” Tukasnya.