Oleh:
Abdul Aziz Zulfikar
Ketua DPK GMNI STIA BANTEN
PANDEGLANG, Pelitabanten.com- Sebagai kader GMNI, saya sering merenungi kata-kata Bung Karno yang begitu kuat dan relevan hingga hari ini. Dalam amanatnya kepada Front Marhaenis pada 4 Juli 1963, Bung Karno menegaskan:
“… tetapi, kita tidak boleh berjuang secara ngawur. Kita harus berjuang dengan teratur. Teratur dalam ideologinya, dan teratur dalam organisasinya! Barisan kaum Marhaen mesti kokoh dan kuat. Bukan hanya ideologinya yang kokoh-kuat, tetapi juga keorganisasiannya,” Pesan Bung Karno dalam Amanat kepada Front Marhaenis, 4 Juli 1963.
Kata-kata ini bukan sekadar nasihat, tapi sebuah arah perjuangan. Sebuah panggilan bagi kita, kader GMNI, untuk menjadi pejuang yang tidak hanya dipersenjatai oleh semangat, tetapi juga oleh ketepatan arah dan kekuatan struktur. Bung Karno menolak perjuangan yang bersifat serampangan, emosional, dan tanpa strategi. Karena revolusi, bagi beliau, adalah tindakan yang sadar, terencana, dan terorganisir.
GMNI bukanlah sekadar organisasi mahasiswa. Ia adalah kawah candradimuka ideologis yang membentuk kader-kader bangsa yang berpikir kritis, progresif, dan berpihak pada kaum tertindas—kaum Marhaen. Maka menjadi kader GMNI bukan hanya soal mengenakan jaket merah atau hadir dalam forum-forum diskusi. Menjadi kader adalah menjadikan ideologi sebagai fondasi berpikir dan organisasi sebagai alat perjuangan.
Bung Karno ingin kita teratur dalam ideologi, artinya kita harus memahami, menginternalisasi, dan menjalankan ajaran-ajaran Marhaenisme secara konsisten dalam setiap aspek kehidupan. Tidak cukup hanya mengutip Pancasila atau Trisakti, tetapi menghidupinya. Karena hanya dengan ideologi yang jelas, kita tidak akan kehilangan arah dalam badai zaman.
Namun itu saja tidak cukup. Bung Karno juga menuntut kita untuk teratur dalam organisasi. Apa artinya? Kita harus membangun organisasi yang disiplin, solid, dan terstruktur. Organisasi yang bukan hanya ramai dalam aksi, tetapi juga rapi dalam manajemen, strategi, dan kaderisasi. Karena tanpa organisasi yang kuat, ideologi kita akan terombang-ambing dan tak punya daya dorong riil di masyarakat.
Sebagai kader GMNI hari ini, tugas kita bukan hanya mengulang kata-kata Bung Karno, tapi mewujudkannya. Kita harus menjadi kader yang ideologis sekaligus organisatoris. Kader yang mampu membaca zaman, memetakan persoalan rakyat, dan menawarkan solusi yang berpihak pada keadilan sosial. Kader yang menjaga marwah perjuangan dengan disiplin, integritas, dan kesetiaan pada garis ideologi kerakyatan.
Inilah saatnya kita kembali merapatkan barisan, memperkuat organisasi, dan memurnikan kembali ideologi kita. Karena seperti yang Bung Karno katakan, “Barisan kaum Marhaen mesti kokoh dan kuat.” Dan kekuatan itu hanya bisa terwujud jika kita bersatu dalam satu arah perjuangan: ideologis dan terorganisir. (*)