
TANGERANG, Pelitabanten.com — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda kembali mengalami lonjakan tajam sejak akhir pekan ini. Embusan material letusan yang berlangsung intensif membawa sebaran abu vulkanik pekat hingga mendarat di wilayah Tangerang, Banten, dan kawasan Jabodetabek pada Minggu (6/9/2026).
Warga di berbagai penjuru Tangerang dikejutkan oleh lapisan debu kelabu pekat yang menutupi atap rumah, teras, hingga kendaraan bermotor yang diparkir di ruang terbuka. Selain mengotori fasilitas publik, paparan partikel halus tersebut mulai memicu keluhan mata perih dan gangguan saluran pernapasan ringan bagi warga yang beraktivitas di luar rumah.
Kronologi Letusan Selat Sunda
Berdasarkan pemantauan teknis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Geologi Kementerian ESDM, eskalasi aktivitas gunung api ini sejatinya telah terpantau merangkak naik sejak Juli 2026 dan mencapai fase intensitas tinggi pada Sabtu (5/9/2026).
Erupsi tercatat berlangsung menerus dengan karakteristik pelepasan magma yang agresif:
- Tipe Erupsi: Semburan magma berupa lava fountain (air mancur lava pijar) yang menyembur merah menyala di atas kawah secara konsisten sejak Jumat (4/9/2026) malam.
- Parameter Kegempaan: Terdeteksi gempa letusan dengan amplitudo signifikan mencapai 70 milimeter serta durasi sinyal erupsi menerus hingga 21.600 detik.
- Dampak Akustik & Getaran: Suara gemuruh dan dentuman letusan getarannya terekam menggetarkan kaca rumah warga serta dinding pertokoan di sepanjang pesisir Anyer dan Pandeglang, Banten.
- Tingkat Aktivitas: Gunung Anak Krakatau bertahan pada Level III (Siaga) dengan radius zona bahaya sejauh 5 kilometer dari kawah aktif.
“Aktivitas vulkanik ditandai erupsi berulang yang menunjukkan suplai magma dan gas masih terus berlangsung. Namun, erupsi yang sering tidak otomatis menandakan akan terjadi letusan katastropik yang jauh lebih besar.” — Dr. Lana Saria, S.Si., M.Si., Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM.
Analisis BMKG: Potensi Tsunami Masih Rendah
Menanggapi kekhawatiran masyarakat pesisir barat Banten dan Selat Sunda terkait ancaman gelombang laut pasca-erupsi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis evaluasi mitigasi terbaru.
Baca Juga: Bersiap! November Diprediksi Musim Hujan di Tangerang
Hingga Minggu (6/9/2026) pagi, BMKG mengonfirmasi bahwa potensi timbulnya tsunami akibat getaran maupun longsoran tubuh vulkanik Gunung Anak Krakatau masih tergolong rendah. Kendati demikian, jaringan sensor muka air laut (tide gauge) dan seismograf maritim tetap disiagakan penuh selama 24 jam guna mengantisipasi deformasi bawah laut secara tiba-tiba.
Langkah Mitigasi Warga Tangerang
Angin muson yang bertiup ke arah timur laut menjadi faktor utama pembawa butiran abu silika vulkanik menyeberangi laut menuju daratan Tangerang, Jakarta, hingga Bekasi. Abu vulkanik memiliki sudut partikel yang tajam dan bersifat asam, sehingga berisiko menggores kornea mata serta merusak paru-paru jika terhirup langsung.
Dinas Kesehatan dan BPBD mengimbau masyarakat Tangerang untuk menerapkan protokol keselamatan berikut:
- Pakai Masker: Gunakan masker medis atau respirator tipe N95 saat keluar rumah guna menyaring partikel mikro abu vulkanik.
- Lindungi Mata: Hindari pemakaian lensa kontak (contact lens) untuk sementara dan kenakan kacamata pelindung guna mencegah iritasi mekanik.
- Amankan Sumber Air & Makanan: Tutup rapat tandon air bersih serta cuci bersih bahan pangan terbuka sebelum dikonsumsi.
- Bersihkan Kendaraan dengan Hati-Hati: Guyur debu pada kaca dan bodi mobil menggunakan semprotan air bertekanan, jangan langsung dilap dengan kain kering agar tidak menimbulkan baret permanen.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, menyaring arus informasi dari kanal resmi PVMBG dan BMKG, serta tidak terprovokasi kabar bohong di media sosial.













