TANGERANG, Pelitabanten.com – Fenomena dalam kesantunan para pelajar saat ini semakin semarak melihatnya sangat miris, bahasa yang tidak terkontrol menjadi pembiasaan yang tidak etis ketika didengar, kesantunan bahasa tidak hanya lewat verbal yang dituturkan langsung, namun melalui media sosial lebih menggila lagi, istilah dan kosa kata yang digunakan tanpa sebuah filter sehingga meluncur dengan deras membanjiri ruang-ruang media sosial.
Komunikasi dalam kesantunan dalam berbahasa dalam kalangan pelajaran tentunya menjadi perhatian para akademisi, karena memiliki akses langsung dengan mereka, ini membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya, karena kaum pelajar harus menjadi contoh tepat dalam kesantunan berbahasa, lingkungan pendidikan di sekolah sudah memiliki aturan yang tercantum disetiap programnya.
Menyikapi hal tersebut Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) untuk menyikapi permasalahan tersebut dengan menggelar webinar nasional yang bertajuk” Fenomena Ketidak santunan Berbahasa pada Siswa”.
Dalam kesempatan tersebut Setio Wawan Adiatma, S.H., M.Pd. selaku ketua umum menyampaikan tujuan dari kegiatan tersebut, Fenomena ketidak santunan berbahasa pada siswa menjadi keresahan kita semua, khususnya guru Bahasa Indonesia. Sebagai garda terdepan dalam pembinaan bahasa dan sastra, kami menegaskan bahwa guru Bahasa Indonesia memiliki peran strategis dalam mengatasi tantangan ini.
Terkait hal tersebut, salah satu upaya yang dilakukan AGBSI dengan melaksanakan kegiatan rutin seperti webinar dengan tema ini adalah untuk mengingatkan dan saling menguatkan dalam mencari solusi terbaik.Harapannya guru Bahasa Indonesia bisa mempertahankan dan mempromosikan nilai-nilai kebahasaan yang baik dan santun. Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas bangsa yang harus dijaga.
Langkah-langkah konkret dalam membangun lingkungan satuan pendidikan yang positif harus menjadi perhatian bersama. Kami juga mendorong pemerintah, platform media sosial, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung penggunaan bahasa yang baik dan santun. Regulasi konten media sosial yang tidak mendidik serta penyediaan literasi digital bagi siswa dan orang tua menjadi langkah penting yang perlu segera diwujudkan.
AGBSI berkomitmen untuk terus mempromosikan nilai-nilai kebahasaan yang baik dan santun.
“Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas bangsa yang harus dijaga. Kami mengajak seluruh pihak, termasuk sekolah, orang tua, dan masyarakat, untuk bersama-sama mengembalikan kesadaran akan pentingnya kesantunan berbahasa di era digital ini,” tuturnya.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 22/3/2025 yang diikuti oleh guru bahasa Indonesia dari berbagai provinsi, dengan antusiasnya mereka mengikuti kegiatan seminar yang nampak pada sesi diskusi tanya jawab, menyampaikan permasalahan yang terjadi dilapangan dalam menyikapi fenomena yang terjadi disetiap sekolah.
Dalam kegiatan tersebut hadir sebagai narasumber” Prof. Dr. Hari Bakti Mardikantoro, M.Hum. Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, dalam pemaparannya menyampaikan, “Merasa khawatir pada anak kita yang menggunakan panggilan yang tidak pantas, yang paling bahaya ini mereka tidak merasa bersalah. Bahasa pada masa pandemi beberapa tahun lalu, banyak memberikan perubahan dari sektor ekonomi, sosial dan lainnya,” ucapnya.Sabtu (22/03/2015).
Menurut beliau ada beberapa permasalahannya dalam berbahasa diantaranya, “Pengaruh bahasa asing lebih dominan, karena untuk mengangkat prestise, generasi milenial cenderung lebih suka menggunakan bahasa asing, kadang anak-anak tidak bisa membedakan ketika berbicara karena kebiasaan yang tidak baik, dan menggunakan bahasa gaul sebagai alat komunikasi. Sementara pentingnya menciptakan lingkungan positif; siswa kesantunan berbahasa membantu menciptakan suasana belajar yang nayaman dan menyenangkan, siswa merasa aman untuk bertanya, berpendapat dan berinteraksi dengan teman-teman, dan Menghindari konflik, bahasa yang santun dapat mencegah terjadinya perselisihan atau konflik akibat salah pengertian atau penggunaan kata-kata tidak tepat” tuturnya.
Sementara itu Nur Khoiri, M.Pd. selaku praktisi pendidikan menyikapi hal tersebut memberikan kajiannya bahwa, Fenomena sekarang kesantunan bahasa fase yang mengkhawatirkan terutama dalam media sosial, banyak menggunakan bahasa yang kasar, termasuk anak-anak tingkatan SD ini merupakan keresahan bersama, oleh karen itu bagaimana caranya agar tatakrama kesopanan terjaga, kita sebagai budaya timur malah kadang masih banyak yang kurang sopan, padahal kita ketimuran dibanding dunia barat.
Dalam pernyataannya beliau menyampaikan “implikasi rekomendasi rekomendasi diantaranya; program anti perundungan fokus pada kekerasan verbal, pelatihan guru, cara mengatasi bahasa yang tidak sopan, dan budaya sekolah menghargai, empati serta melibatkan orang tua dalam mempromosikan komunikasi yang hormat di rumah,” pungkasnya. (Abdul Gopur Firmansyah)