LEBAK, Pelitabanten.com– Badan Pengelola (BP) Geopark Nasional (GN)- Geopark Bayah Dome lakukan edukasi dan penguatan implementasi kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Geopark Bayah Dome dengan tema konservasi, biodiversity, dan cultural diversity kepada Guru dan Siswa SMPN 1 Rangkasbitung dengan dihadiri oleh Kepala SMPN 1 Rangkasbitung, Direktur BP – GN Geopark Bayah Dome dengan jajarannya, sekretaris, Kepala Bidang perencanaan, Kepala Bidang edukasi dan kepala Sub bidang edukasi serta staf bidang promosi BP-GN-Geopark Bayah Dome. Para guru dan 50 siswa utusan tiap kelas, pada Kamis (13/11/2025).
Arif Budiyanto selaku Kepala SMPN 1 Rangkasbitung dalam pembukaannya mengucapkan apresiasi yang sangat tinggi kepada BP-GN Geopark Bayah dome, melalui kegiatan ini tentunya banyak hal yang bisa didapat baik oleh Guru maupun Siswa yang berkaitan dengan Geopark Bayah Dome.
“Kepada Guru dan Siswa beliau berpesan untuk secara fokus mengikuti seluruh paparan materi. Mudah-mudahan dengan hadirnya BP-GN Geopark Bayah Dome ke Sekolah kami dapat memperkuat implementasi kurikulum Mulok Geopark Bayah dome di SMPN 1 Rangkasbitung,” harapnya.
Engkap Kapriadi selaku direktur BP-GN Geopark Bayah Dome, menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh civitas akademika SMPN 1 Rangkasbitung yang dengan atensi yang sangat luar biasa untuk memfasilitasi kegiatan ini. Berikutnya memaparkan arah dan kebijakan Pengembangan pengelolaan Geopark yang berbasis konservasi, edukasi dan pengembangan ekonomi berkelanjutan.
“Geopark Bayah Dome hadir untuk menjadi salah satu alat peningkatan ekonomi yang ramah lingkungan, mengubah orientasi ekplorasi ke konservasi. Untuk keseluruhan proses pengembangannya sangat dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk para guru dan pelajar untuk secara aktif mengambil bagian sesuai dengan perannya dalam upaya konservasi geodiversity, biodiversity dan cultural diversity. Pada akhirnya kita semua secara bersama-sama untuk mengambil tanggung jawab terhadap konservasi, untuk melestarikan aset berharga berupa geodiversity, biodiversity dan cultural diversity yang secara bersamaan mendorong ekowisata di Kabupaten Lebak,” paparnya.
Selanjutnya kepala bidang edukasi dan pemberdayaan BP-GN Geopark bayah Dome Hadi Nugraha menyampaikan strategi implementasi kurikulum Geopark Bayah Dome melalui integrasi ke mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Implementasi kurikulum Mulok Geopark Bayah dome secara teknis terintegrasi dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sudah berlangsung sejak tahun 2024. Secara prinsip kurikulum ini bertujuan untuk Geopark Bayah Dome diajarkan di Satuan Pendidikan (SMP) di Kabupaten Lebak. Bahwa perangkat yang terkait dengan ini sudah disiapkan berupa Modul Ajar.
“Dengan diajarkannya Geopark Bayah Dome di SMP seluruh Kabupaten Lebak harapannya adalah Geopark Bayah Dome semakin membumi, sebagai salah satu pengetahuan dan pemahaman terhadap Bumi sebagai ruang hidup yang tumbuh berkembang bersama antara manusia dan lingkungannya (ekologi) dengan mengelolanya untuk kebermanfaatan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Pada akhir pemaparan Hadi Nugraha mengajak kepada guru dan siswa untuk mengunjungi situs-situs yang ada di Geopark Bayah Dome melalui kegiatan eduwisata, educamp atau bakti sosial di situs terdekat. Selanjutnya memohon kepada Sekolah untuk menyediakan pojok Geopark Bayah Dome.
DC Aryadi selanjutnya menyampaikan tentang khasanah culture di Lebak sebagain warisan tak benda yang bernilai untuk dilestarikan, ada beberapa budaya yang secara ekplisit merupakan bagian dari perilaku yang luhur untuk menjaga, menghormati dan melestarikan alam ini. Keunikan budaya ini juga menjadi daya tarik wisata untuk berkunjung ke Lebak, seperti Seba Baduy, Seren Taun, disisi lain produk-produk khas unik juga menjadi komoditas yang cukup diminati.
Hal ini menunjukan pada konsep Geopark keterhubungan antara, geologi, biodiversity dan cultural diversity menjadi hal yang tak terpisahkan. Semua ini jika dirawat dan dikembangkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi salah satu alternatif bagi peningkatan ekonomi masyarakat.
Pad sesi akhir dilanjutkan dengan tanya jawab, dimana para siswa dan guru sangat antusias dan sangat apresiatif terhadap kegiatan ini, bukan hanya menambah wawasan pengetahuan secara literasi tetapi lebih jauh membuka perspektif baru mengenai pengelolaan lingkungan sebagai ruang hidup yang terintegrasi antara konservasi, edukasi dan pengembangan ekonomi berkelanjutan. (MIR)