Beranda Budaya Tradisi Kawalu Tiba, Para Pelancong Dilarang Masuk Baduy

Tradisi Kawalu Tiba, Para Pelancong Dilarang Masuk Baduy

620
BAGIKAN
Tradisi Kawalu Tiba, Para Pelancong Dilarang Masuk Baduy
Foto: Istimewa

LEBAK, Pelitabanten.com – Masyarakat Baduy yang terdiri dari kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah kabupaten Lebak, Banten dikenal sebagai salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Masyarkat Baduy Dalam lebih memilih menjalankan hidup secara tradisional dan berpegang teguh pada nilai-nilai leluhur nenek moyang mereka.

Karena sikapnya yang tertutup dengan dunia luar, suku Baduy yang terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak banyak menarik perhatian para wisatawan domestik dan asing. Namun, sepanjang bulan Februari dan Maret para wisatawan dilarang memasuki wilayah baduy terutama Baduy Dalam. Alasannya, tepatnya hari ini, Kamis (18/2/2016) masyarakat Baduy sedang menjalankan tradisi Kawalu, hingga tertutup bagi orang luar.

“Hari ini masyarakat Baduy sedang malakukan tradisi Kawalu. Itu artinya Baduy tertutup bagi orang luar,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten Opar Sochari, Kamis (18/2/2016).

Ada beberapa kegiatan ritual penting atau upacara yang dilakukan suku Baduy Dalam setiap tahunnya. Seperti ngawalu, yaitu tradisi ritual setelah panen usai. Ritual ini dilakukan tiga kali dalam setahun, masing-masing satu kali pada bulan Kawalu. Dan pada hari ini disebut ritual Kawalu Tembeuy atau kawalu pertama. Sedangkan Kawalu Mitembeuy dan kawalu Tutug yang kedua dan akhir.

“Setiap bulannya masyarakat Baduy melaksanakan ibadah puasa selama sehari. Yang sekarang adalah Kawalu Tembeuy atau pertama/awal. Sedangkan Kawalu mitembeuy dan Kawalu tutug yang kedua dan akhir, dilakukan Maret nanti,” ujar Opar, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov Banten

Tradisi Kalawu tersebut diisi dengan puasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara yang aman, damai, dan sejahtera. Seperti tradisi Kawalu sebelumnya, kondisi kampung Baduy terbilang sepi. Dikarenakan mereka berpuasa dan banyak memilih tinggal di dalam rumah.

Baca juga :  ICMI Orda Kota Tangerang Gelar Halaqoh Kebangsaan Menangkal Komunisme Gaya Baru

Setelah tradisi kawalu selesai, satu bulan setelahnya, masyarakat suku Baduy akan menggelar Seba atau ungkapan rasa syukur dan persembahan kepada pemerintah daerah. Mereka warga Baduy Dalam berjalan kaki dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, melewati kantor Bupati Lebak hingga ke kantor Gubernur Banten di Kota Serang.

“Setiap tahun seba warga Baduy Dalam diterima langsung oleh gubernur. Mereka membawa berbagai hasil panen, seperti padi, pisang dan sayur-sayuran untuk diberikan kepada Pemprov sebagai ucapan syukur dan rasa terima kasih,” kata dia.

BAGIKAN