Beranda Sastra Bingkai Kata TEMUKAN DIRI (Bagian 2/2)

TEMUKAN DIRI (Bagian 2/2)

258
BAGIKAN
TEMUKAN DIRI
Foto: Abdul Latif S Mulyadi

Pelitabanten.com – Lantas bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menemukan panggilan jiwa kita? Atau malah kita menyerah pada keadaan dengan berkata. “Ya sudah, memang begini nasibku..”
Kecerdasan dan kemampuan kita saat ini barulah sebatas ‘potensi’, dan potensi belum merupakan ‘hasil’ jika kita tidak memaksimalkan potensi yang kita miliki tersebut, bahkan potensi tersebut akan menguap hilang beserta angan kita saat tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Bagi para tokoh yang sudah sukses, mungkin bisa saja merekayasa proses dan menciptakan sosok ideal bagi keturunannya. Keluarga Papandreou misalnya, mereka secara turun-temurun ‘mewariskan’ kepemimpinan yunani selama 4 generasi, dan akhirnya pada masa George Papandreou menjadi perdana menteri, sukses menghantarkan Yunani ke badai krisis yang terparah sepanjang masa.
Atau jangan lupa kisah kerajaan yang secara turun temurun ‘memaksakan’ warisan tahta, toh pada akhirnya tidak semuanya memiliki panggilan jiwa dan bakat yang sama untuk melanjutkan paksaan tersebut. Hingga berakhirlah sejarah kerajaan tersebut.
Pun sejarah kepemimpinan Indonesia, yang tak pernah sukses ‘memaksa’ keturunan melanjutkan kesuksesan orang tuanya jika bukan pada panggilan terdalam jiwanya. Megawati dan soekarno, tutut dan soeharto, gusdur pada yeni wahid, atau SBY pada Ibas yang akhirnya mengundurkan diri dari parlemen atau pada saat KLB di Bali selalu melihat jam tangan seakan tidak merasa tidak nyaman. Pun demikian halnya para raja-raja kecil di daerah.
Dan coba kita tengok, berapa banyak potensi anak berbakat yang mati akibat paksaan dan obsesi dari para orang tuanya. Atau kalaupun sukses meraih apa yang diinginkan orang tuanya, belum tentu menjalaninya dengan enjoy sebagai panggilan jiwa dirinya.
Meminjam istilah Rhenald kasali, bahwa setiap orang memiliki DNA nya masing-masing, yang tidak identik sama.
Untuk itu, marilah kita menemukan panggilan diri kita, bahkan jika perlu kita coba ‘Melawan Mainstream’. Toh melawan mainstream tidak selalu berkonotasi negatif, dan tidak selamanya berbuah kegagalan. Bahkan malah seringkali hal tersebut mengembalikan kita pada jalur yang lebih tepat.
Mari kita mengetuk pintu diri kita, saat satu pintu tertutup,akan ada pintu lain yangg bisa terus coba kita ketuk, dan mungkin pintu itulah yang akan menghantarkan pada pintu milik kita sesungguhnya.
Selamat menemukan panggilan diri…

Baca juga :  Diduga Main Curang, Kafilah Kota Cilegon Akan Mundur Dari MTQ XIII Banten

Oleh Abdul Latief