Beranda Mimbar Agama Ridho Manusia Kepada Allah SWT

Ridho Manusia Kepada Allah SWT

611
BAGIKAN
Ridho Manusia Kepada Allah SWT
Foto: Istimewa - Ilustrasi

ارادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الاسباب من الشهوة الخفية,

وإرادتك الاسباب مع اقامة الله اياك في التجريد إنحطاط عن الهمة العلية

“Kamu ingin maqam tajrid padahal Allah menempatkanmu di maqam asbab itu termasuk syahwat yang samar, sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur”

Selepas sholat isya, kang Fadeli bersama beberapa orang tidak langsung meninggalkan masjid, ia bersantai di teras masjid sambil berbincang bincang dengan beberapa orang yang ikut juga duduk duduk melepaskan penat setelah seharian bekerja. Dalam obrolan ringan tersebut salah satu bertanya kepada kang Fadeli.

Baca juga :  Tiada Hari Tanpa Berhala (part 1/2)

“kang, orang islam itu harus kaya dan serba kecukupan, supaya ibadahnya tenang, sholatnya lebih khusus dan bisa membantu saudara saudara sesama muslim dengan harta kekayaan yang kita miliki. Katakanlah ketika ada orang sakit di kampung kita, kalau kita memiliki harta yang cukup kita bisa membantu dengan memberikan sumbangan uang untuk berobat, kalau kita kere bagaimana kita mau bisa bantu?” kang Rohman membuka obrolan.

“begini, kalau seandainya Gusti Allah memasukan seorang hamba karena banyak bershodaqoh dan memberi bantuan berupa materi, berarti surga penuh dengan orang orang yang kaya raya saja dong? Sedangkan orang yang miskin harus ngontrak dineraka?, masa gusti Allah begitu sih?” jawab kang Fadeli sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya yang sebelumnya dipesan di warung pak Acip yang kebetulan disebelah masjid

“kalau mau jujur semua orang sih pada dasarnya pengen serba kecukupan, serba enak, mana ada orang pengen kekurangan, pengen miskin, pengen hidupnya penuh penderitaan. Nah kalau orang yang serba kekurangan pengen memperbaiki keadaan ekonominya itupun tidak dilarang silahkan saja, yang jadi masalah adalah kalau keinginan itu tidak kesampaian, tidak jadi orang yang berkecukupan, terus kamu mau protes sama Allah? Mau makar sama ketentuan Allah?” lanjut kang Fadeli penuh semangat.

Mendapat pertanyaan balik kang Rohman yang awalnya bersamangat malah keder mendapat pertanyaan yang di ajukan kang Fadeli untuknya “terus harus gimana kang? Harus pasrah saja dan tidak berbuat apa apa”? Tanya kang Rohman

Baca juga :  GP Ansor Kota Tangerang Gelar Silaturahmi dan Konsolidasi Antar Pengurus

“jangan putus asa begitu dong. Setahu saya kalau di hikam itu ada dua maqom, pertama maqom tajrid yang kedua maqom asbab” lanjut kang Fadeli “tajrid itu orang yang Allah tempatkan tidak berinteraksi dengan manusia lain, atau tidak bekerja (tidak terikat perjanjian kerja dengan pihak lain) untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup, karena sudah dijamin oleh Allah, tugasnya hanya beribadah kepada Allah. Contohnya para waliyullah seperti uwais al-qorni. Tutur kang Fadeli.

“selanjutnya maqom asbab” kang Fadeli melanjutkan wejangannya, “maqom asbab ini dimana Allah meletakan hambanya di wilayah yang memang diharuskan hambanya bekerja, jadi PNS, bekerja di pabrik, berjualan dipasar, jadi security di perusahan dan lain sebagainya.”

“terus kita tahu dimana maqom kita darimana?” Tanya kang Tosi yang kebetulan ikut mendengarkan obrolan kang Fadeli sama Kang Rohman

“ya dari keadaan kita sekarang, kalau sekarang kamu sedang dipercaya jadi security disalah satu perusahaan berarti Allah sedang menempatkan kamu di wilayah asbab, asbabnya ya menjadi security itu. Dan kamu harus ridho dengan ketentuan Allah yang ditetapkan atas dirimu sekarang ini.” Jelas kang Fadeli sambil membakar rokok kreteknya

Baca juga :  Rapat Pleno PBNU Resmi Dibuka di Cirebon

“jelasnya beginilah. Yang terpenting adalah jangan melihat ketentuan Allah terhadap orang lain, kalau memang keadaan kamu sekarang ini sedang dimaqom susah katakanlah, terima saja dengan lugowo jangan ngeyel kemudian pengen seperti si fulan atau si fulan. Penganguran melihat orang yang bekerja sepertinya enak karena setiap bulan dapet gaji dari perusahaannya tempat ia bekerja, bisa membeli ini, itu dan lainlainnya, sedangkan yang bekerja melihat yang menganggur merasa enak karena tidak diatur oleh manajemen perusahaan, bisa tidur kapan saja, bangun tidur jam berapa saja setiap hari adalah hari libur untuk para penganggur. Akibatnya tidak ada rasa sukur kepada Allah karena yang menjadi tolak ukurnya adalah orang lain. Begitu juga orang yang serba kekerungan, tidak usah melihat orang yang serba kecukupan atau sebaliknya, tenanglah di maqom masing masing, kalau memang Allah berkehendak untuk memindahkan maqom seseorang pasti akan Allah mudahkan jalannya” kata kang Fadeli

“nah jika seseorang yang berada di maqom tajrid ini melihat orang orang yang dimaqom asbab serba kecukupan, hidup enak, semua fasilitas terpenuhi, kemudian berkeinginan masuk dimaqom asbab karena melihat “enaknya hidup yang penuh fasilitas” ini disebut turunnya derajat yang tinggi menuju yang rendah. Atau sebaliknya jika seseorang dimaqom asbab, melihat orang yang dimaqom tajrid selalu hari harinya dipenuhi dengan ritual ibadah, malam harinya diisi dengan dzikir hidupnya terlihat tentram tidak pusing dengan persoalan persolan dunia, ini disebutnya keinginan dari syahwat yang tersembunyi jadi dimanapun maqomnya asalkan ikhlas, nerima dan tidak ngedumel dengan ketentuan Allah insyallah akan Allah catat sebagai manusia manusia muhklisin. Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan dengan Dia (al Qhasas: 68).” sambil menghabiskan sisa kopinya, kang Fadeli menutup wejengannya dengan berkata “aqulu qauli hadza fastaghrifuu, innahu huwal ghafururrahim”.

Oleh: Ubaidillah

BAGIKAN