PANDEGLANG, Pelitabanten.com– Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 H., Masjid Hasanuddin PDM Kabupaten Pandeglang menggelar Kuliah Ahad Pagi yang menghadirkan Ust. Arif Rahman, Lc., M.Pd. dari Ponpes Riyadusholihin sebagai narasumber. Dalam kajian yang berlangsung khidmat pada Ahad (01/03/2026), beliau mengupas tuntas strategi menjemput malam Lailatul Qadar.
Makna dan Keutamaan Lailatul Qadar.
Secara bahasa, Laila berarti ‘malam’ dan Qadar berarti ‘kedudukan yang mulia’ atau ‘ketetapan’. Ust. Arif menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam penuh keberkahan yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan (sekitar 83 tahun).
“Para ulama salaf mengajarkan kita untuk menyingsingkan lengan baju dan memperkuat semangat di 10 malam terakhir Ramadan. Dasarnya adalah firman Allah dalam Surah Al-Qadr, Inna Anzalnahu fii Lailatil Qadr,” jelasnya.
Berdasarkan pendapat terkuat para ulama dan hadis Nabi SAW, malam mulia ini turun pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan (tanggal 21, 23, 25, 27, atau 29). Beliau juga mengisahkan riwayat saat Nabi SAW hendak mengabarkan tanggal pastinya, namun Allah “mengangkat” pengetahuan itu karena melihat dua orang muslim sedang berselisih.
Amalan Utama yang Dianjurkan
Ibadah Malam: mengintensifkan salat malam, tadarus, dan iktikaf, banyak berzikir, memohon ampunan kepada Allah.
Sahur bukan sekadar makan, tapi waktu mustajab untuk berdoa, saat di mana malaikat bersalawat bagi mereka yang bersahur, serta momen membangunkan saudara untuk ibadah.
Tanda-Tanda Alamiah Lailatul Qadar
Merujuk pada riwayat Ibnu Abbas dan hadis lainnya, Ust. Arif memaparkan ciri-ciri fisiknya:
Pagi harinya matahari terbit merah pucat dan tidak menyilaukan (seperti bejana).
Bulan tampak seperti potongan bejana (shiqqu jafnah).
Suasana malam terasa sangat tenang, udara sejuk (tidak panas, tidak dingin).
Ada riwayat yang menyebutkan kemungkinan turunnya hujan deras pada malam tersebut.
Melengkapi materi, beliau membagikan indikator keberhasilan puasa seseorang,
9 ciri puasa yang diterima Allah (mabrur), diantaranya:
- Mendapat keistikomahan hingga akhir hayat.
- Selalu berbaik sangka (husnuzon) kepada Allah.
- Memiliki rasa takut (khauf) kepada Allah yang semakin kuat.
- Semakin semangat dalam mengaji dan menuntut ilmu.
- Tenang dalam menghadapi setiap permasalahan.
- Yakin ketetapan Allah dalam urusan rezeki.
- Memiliki persiapan yang matang untuk bertemu Allah (mati).
- Meningkatnya tingkat kesabaran.
- Senantiasa bersyukur atas segala nikmat.
Dalam sesi tanya jawab, beliau menjawab pertanyaan jemaah, terkait pendapat bahwa Alquran diturunkan di tanggal 17 Ramadhan. Ust. Arif mempertegas bahwa Alquran diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar (malam-malam ganjil). Ini dalil yang paling kuat terkait turunnya Alquran. Mengenai perbedaan hadist & Man shoma Ramadhana (barang siapa berpuasa) dan Man Qama Lailatal Qadri (barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar), beliau menjelaskan bahwa keduanya merupakan satu kesatuan paket ibadah yang menjanjikan pengampunan dosa bagi yang melakukannya dengan iman dan mengharap pahala (Imanan wahtisaban).
Terkait iktikaf selama 10 malam penuh di masjid, beliau berpesan agar jamaah memahami hukum-hukum fikih iktikaf agar ibadah yang dijalankan sesuai dengan sunnah.
Selain itu, Ketua PCM Pandeglang, M. Juwayni, yang memberikan sambutan pada kegiatan tersebut, berharap kepada jamaah untuk turut serta menyukseskan program yang telah disusun:
- Ifthar Jama’i,
- Kultum Bakda Isya,
- Qiyamul Lail Berjamaah,
- Tadarus Alquran,
- Kuliah Ahad Pagi,
- Mengaji Ba’da Subuh,
- Zakat Infak Sedekah melalui Lazismu, termasuk Zakat Fitrah dan Wakaf Tanah di Kompleks Muhammadiyah Kuranten,
- Itikaf di Masjid Hasanuddin; dan,
- Shalat Idul Fitri di Lapangan SMK Muhammadiyah Pandeglang 1 Syawal 1447 H. (MIR)
