Beranda News

Gagasan Besar Bung Karno dalam Perspektif Islam Menggema dalam Diskusi Kebangsaan di Museum Multatuli Lebak

Diskusi Kebangsaan tentang Pemikiran Bung Karno dalam Perspektif Islam, pada Jum'at (06/03/2026).
Diskusi Kebangsaan tentang Pemikiran Bung Karno dalam Perspektif Islam, pada Jum'at (06/03/2026).

LEBAK, Pelitabanten.com– Pemikiran besar Proklamator Republik Indonesia, Soekarno, kembali menggema dalam sebuah diskusi intelektual yang menggugah kesadaran kebangsaan. Dalam forum kajian bertema “Sejarah Soekarno dan Pemimpin Negara Penggagas Asia- Afrika dalam Gerakan Non Block, Posisi Indonesia dalam konflik Iran Versus Amerika”, Tiga pemateri nasional, Bonnie Triyana dan Agus Sutisna, mengupas secara mendalam bagaimana gagasan dan perjuangan Bung Karno memiliki keterkaitan kuat dengan nilai-nilai Islam yang humanis, progresif, dan membebaskan. Diskusi kebangsaan berlangsung di Aula Museum Multatuli, pada Jum’at Bulan Ramadhan (6/03/2026).

Dalam paparannya, Bonnie Triyana menegaskan bahwa Bung Karno merupakan sosok pemimpin visioner yang mampu menafsirkan nilai-nilai Islam dalam kerangka perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Menurutnya, Bung Karno melihat Islam bukan sekadar sebagai identitas religius, melainkan sebagai kekuatan moral dan spiritual yang mendorong pembebasan manusia dari penjajahan dan ketidakadilan.

“Bung Karno memahami Islam sebagai energi peradaban. Islam baginya adalah kekuatan yang mampu membangkitkan kesadaran rakyat untuk melawan kolonialisme dan membangun bangsa yang merdeka serta bermartabat,” ujar Bonnie dalam pemaparannya.

Sementara itu, Agus Sutisna menyoroti bahwa pemikiran Bung Karno tentang Islam sangat inklusif dan progresif. Ia menjelaskan bahwa Bung Karno mampu memadukan semangat keislaman dengan konsep nasionalisme yang terbuka dan menghargai keberagaman.

“Bung Karno menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan untuk memperkuat persatuan bangsa dalam bingkai ideologi negara,” jelas Agus.

Menurutnya, pemikiran tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam lahirnya nilai-nilai kebangsaan yang kemudian dirumuskan dalam Pancasila sebagai dasar negara yang mampu merangkul seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Pandangan yang tak kalah menarik disampaikan Bung Aryo Seno Baguskoro yang menekankan bahwa Bung Karno adalah tokoh yang berhasil mengintegrasikan nilai Islam, nasionalisme, dan kemanusiaan universal dalam satu gagasan besar tentang Indonesia merdeka. Ia menyebut bahwa gagasan tersebut menjadi fondasi penting bagi perjalanan bangsa hingga saat ini.

“Bung Karno adalah pemikir besar yang mampu membaca dinamika zaman. Ia menghadirkan Islam sebagai nilai yang membebaskan, mempersatukan, sekaligus menjadi kekuatan etis dalam kehidupan bernegara,” ungkap Aryo.

Diskusi kebangsaan ini pun menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat pemikiran Bung Karno di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Para peserta diajak untuk memahami bahwa warisan intelektual Bung Karno bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi masa kini dalam merawat persatuan, keadilan sosial, serta nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui forum refleksi ini, satu pesan besar kembali ditegaskan: bahwa Islam, nasionalisme, dan kemanusiaan sebagaimana dipahami oleh Bung Karno merupakan tiga pilar penting yang dapat mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang lebih berdaulat, adil, dan bermartabat. (MIR)