Peresmian kampung Tematik MaGGot untuk pemberdayaan ekonomi

KABUPATEN TANGERANG, Pelitabanten.com  –  di hadiri Asisten Daerah (Asda 1) H. Yani Sutisna juga didampingi, Camat Sepatan timur dan Kepala Desa se- kecamatan Sepatan timur meresmikan Rumah Padat Karya atau Rumah Maggot. Selasa. 13/12/22.

(Pemdes) pemerintah Desa menghadiri dalam peresmian kampung tematik maggot lalat, hingga sayur organik. Peresmian itu ditandai dengan pemotongan untaian melati dan dilanjutkan dengan peninjauan ke Rumah Maggot lainya.

Pada kesempatan itu, Asisten Daerah (Asda 1) H. Yani Sutisna juga mengaku bangga sudah bisa meresmikan Rumah Padat Karya atau Rumah Maggot yang berada di kampung tempe desa jatimulya kecamatan Sepatan timur.

Rumah Maggot inilah yang menggerakkan warga yang mengajarkan dan mengerjakan budidaya itu juga warga desa jatimulya sendiri.

“Apalagi ini juga bisa mempekerjakan warga MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah), sehingga gotong-royong yang diajarkan oleh Bung Karno dalam Pancasila, benar-benar diterapkan dan ditunjukkan oleh warga kampung tempe desa jatimulya ini,” kata H. Yani Sutisna seusai meresmikan Rumah Maggot itu,

Kepala desa jatimulya menyampaikan sebenarnya sudah ada salah satu pabrik yang meminta maggot 6 ton perhari kepada Pemkot Surabaya. Kalau bisa memenuhi 6 ton perhari, maka dipastikan akan banyak tenaga kerja yang terserap dari (MBR) Masyarakat Berpenghasilan Rendah.

“Kalau kita jual Rp 4 ribu perkilogram, berarti 6 ton sekitar Rp 24 juta perhari atau Rp 720 juta perbulannya. Nah, kalau saya menargetkan setiap MBR punya penghasilan Rp 3 juta, maka ada sekitar 240-an orang MBR yang bisa memenuhi target 6 ton ini. Itu hanya satu pabrik saja, belum lagi yang lainnya,” kata dia.

Ketua Kandang Maggot Tangerang (Kamaggota) Sepatan Timur, Ahmad Ramdani mengatakan kalau maggot lalat itu bisa dikeringkan dan dikirim ke luar negeri atau ekspor, bisa dijual hingga 4 US dan kalau dikeringkan untuk lokal saja, harganya bisa Rp 8 ribuan.

“Saya berharap teman-teman ini bisa terus mengembangkan maggot ini supaya bisa diekspor dan bisa mengentas kemiskinan MBR di kampung maggot ini. Nah, apa saja kebutuhan untuk bisa ekspor itu, nanti kita penuhi fasilitasnya, jadi biarkan warga itu bergerak,” tegasnya.

Johan salah satu anggota tani maggot mengatakan sementara ini memang masih memproduksi maggot 100 kilogram perhari, dan sebenarnya itu bisa ditambah lagi hingga 150-175 kilogram perhari dengan fasilitas yang ada. Bahkan, kalau fasilitas raknya ditambahkan, tentu produksi maggotnya akan semakin banyak.

“Jadi, tantangan Pak H. Yani Sutisna untuk bisa ekspor ke luar negeri sangat realistis dan mungkin sangat mudah diwujudkan. Apalagi, kalau ada kerjasama dengan wilayah lainnya, tentu target itu akan sangat mudah,” harapnya.