TANGERANG,Pelitabanten.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat kini tengah menjadi sorotan. Munculnya isu penghentian program ini memicu berbagai reaksi dari publik, mulai dari dukungan hingga kekhawatiran akan dampak yang ditimbulkan.
Di satu sisi, program MBG dinilai memiliki manfaat besar, terutama dalam membantu pemenuhan gizi anak-anak dan meningkatkan konsentrasi belajar di sekolah. Banyak pihak melihat program ini sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia yang lebih berkualitas
Isu tersebut ditanggapi oleh Direktur Utama Bandung Riset Strategis, Yosep Backtiar saat ditemui dikediamannya dalam acara open house di Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat
” Ini adalah Program strategis nasional wajar ketika ada isu-isu ketika program ini ada kritikan untuk berhenti, karena ini program baru di negara kita, negara yang sudah maju saja membutuhkan waktu, kalau pun sampai berhenti berarti presiden gagal menjalankan program utamanya.
Program ini banyak sekali menyerap tenaga kerja dibandingkan pemerintahan yang sebelumnya angka pengangguran itu cukup tinggi, dengan adanya program ini yang bisa menyerap tenaga kerja sampai 47 orang setiap SPPG sementara dalam satu kecamatan diperkirakn sekitar 29 SPPG dikali 47 orang tenaga kerja “. tuturnya, Senin 23/3/2026.
Dalam pernyataan lebih lanjut beliau menyampaikan ” Kelompok penerima manfaat makan bergizi gratis ini bukannya hanya anak-anak sekolah, akan tetapi ibu-ibu hamil dan santri, saya melihatnya penolakan itu ada unsur politis, ketidaksukaan terhadap pemerintah, akan tetapi program ini harus terus bergulir karena saya melihat kenyataan di lapangan sangat membantu masyarakat dan ini bukan pandangan subjektif tetapi ini realitas dilapangan.” Pungkasnya.
Penulis: Abdul Gopur Firmansyah
