Hari Santri Nasional Bukan Seremonial, Gus Fani: Negara Wajib Peduli Pada Pesantren

Hari Santri Nasional Bukan Seremonial, Gus Fani: Negara Wajib Peduli Pada Pesantren
Dr. H. Muhamad Qustulani, MA.Hum, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Jalan Printris Kemerdekaan, Cikokol Kota Tangerang, Banten. Foto Pelitabanten.com

KOTA , Pelitabanten.com – Peringatan Hari Santri Nasional disingkat HSN, pada 22 Oktober setiap tahunnya, seharusnya tidak sekedar acara seremonial saja, seperti upacara atau menggelar perlombaan, yang urgensinya tidak terlalu penting.

Disisi lain, jika sekedar perayaan tidaklah mengapa dan wajar karena memang eskpresi kebahagian warga pesantren (santri) atas pemerintah terhadap peran santri di era kemerdekaan.

Dr. H. , MA.Hum, Ketua Sekaligus
Pengasuh Al Hasaniyah Ben Zar Rawalini Teluknaga Tangerang, mengungkapkan seharusnya Hari Santri Nasional 22 Oktober dijadikan momentum mewujudkan peran kepedulian pemerintah mengembangkan pesantren sebagai lembagai pendidikan tertua di .

“Wujudnya, segera mengejawantahkan UUD Nomor 18 Tahun 2019, dan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren, berupa program program yang mengarah pada pembinaan dan pengembangan sumberdaya santri dan pesantren,” ujarnya Jum’at (22/10/2021) kepada Pelitabanten.com

Menurut Gus Fani sapaan akrab pria lulusan Kairo, Mesir ini, Pemerintah Daerah untuk tidak ragu lagi membuat program program yang bermanfaat untuk pesantren. Hapus pemahaman dikotomi kewenangan pusat dan daerah atas pesantren sebagai lembaga pendidik.

“Jadi, Tidak ada lagi istilah domain pemerintahan pusat melainkan juga domain pemerintah daerah. Intinya Negara wajib peduli kepada pesantren dengan membuat program kegiatan yang mengarah pada pemberdayaan, dan pengembangan pesantren,” tuturnya.

Ia pun menyarankan agar program itu harus muncul di APBD Daerah. Sebab, pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Contoh adanya Bantuan Operasional Pesantren (BOP), rehab gedung pesantren, fasilitas pesantren, bantuan honor daerah bagi guru pesantren, dan lain sebagainya.

“Kemudian, untuk para santri, momentum hari santri harus dijadikan pembelajaran tentang perjuangan santri di masa lalu, yang gigih mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). santri harus tumbuh dan bangkit bisa mengisi pos pos kehidupan di pemerintahan, dunia , , dan sosial masyarakat,” ujar Gus Fani.

Maka, Kata Gus Fani, Ke depan wajib ada pejabat yang santri, pengusaha yang santri, Jendral TNI atau Polisi yang santri, Profesor yang santri, rektor yang santri, ilmuan yang santri, dan lain sebagainya.

“Gelorakan semangat, Insya Allah, negara ini semakin berkah jika semua pos kehidupan diisi oleh manusia berkepribadian taat dan shaleh, baik secara spritual, intelektual, dan sosial,” kata .

Gus Fani berpesan kepada para santri yang masih menempuh pendidikan agama di pondok – pondok pesantren agar terus semangat dan teguh mempelajari ilmu agama dengan menjadi ahli agama, juga ahli dalam bidang yang lain, mahir membaca dan memahami kitab turats, juga piawai dalam bidang yang lain. Insya Allah sejahtera duniawi dan ukhrawi.