Cerita Banjir Bandang Terjang La Tansa, Saat Warga Tangerang Kirim Bantuan

Cerita Banjir Bandang Terjang La Tansa, Saat Warga Tangerang Kirim Bantuan
Kondisi ruangan Pesantren La Tansa yang berada dekat dengan Sungai. Foto Supriyadi pelitabanten.com
Hari Guru Dinkes Tangsel

KABUPATEN LEBAK, Pelitabanten.com–Warga Sukasari Kecamatan Tangerang kirim bantuan ke lokasi terdampak bencana banjir di Kabupaten Lebak, Pesantren La Tansa menjadi tujuan para warga untuk diserahkan bantuan yang telah dikumpulkan dari warga RW 15 Sukasari.

Ratusan paket sembako, ragam alat kebersihan, pakaian, dan susu formula telah berhasil dikumpulkan oleh para penggerak di lingkungan tersebut dari para donatur warga setempat. Bahkan para emak-emak menyempatkan diri untuk memasak dan membungkus ratusan makanan siap saji sebelum berangkat ke lokasi.

Warga Sukasari Kota Tangerang menyerahkan bantuan di Posko Pesantren La Tansa. Foto Supriyadi Pelitabanten.com

Saat tiba di lokasi pada Sabtu (11/01/2020) siang, rombongan warga Kota Tangerang langsung menyerahkan bantuan secara langsung ke posko di Pesantren La Tansa. Ustadz Abdul Rochim selaku guru di pesantren menerima langsung bantuan dari warga, yang nantinya akan digunakan di pesantren dan dibagikan ke penduduk di wilayah yang terdampak bencana.

Pengurus Pesantren La Tansa, Ustadz Abdul Rochim menceritakan saat kejadian Banjir Bandang di Sekitar wilayah Pesantren. Foto Supriyadi Pelitabanten.com

Siang itu tampak para santri dan relawan dibantu prajurit TNI-POLRI dan Satpol PP Kabupaten Lebak membersihkan endapan material yang terbawa arus air saat banjir bandang menerjang La Tansa. Abdul Rochim menceritakan kepada warga Tangerang kondisi pesantren saat air menerjang deras usai menyerahkan bantuan.

Baca Juga:  Evaluasi Banjir, Kota Tangerang Kurang Personil dan Perahu

“Pagi sekitar pukul setengah enam air tiba-tiba masuk dari arah sana (sambil menunjuk ke arah hulu sungai-red), air terus naik tinggi jam setengah sembilan sudah setinggi tembok kelas itu(seleher orang dewasa-red),” ungkap Abdul.

Abdul bersyukur di tanggal 1 Januari itu para santri sedang libur, namun beberapa kendaraan bermotor yang diparkir di belakang pesantren hanyut terbawa terjangan air bercampur lumpur. Dan mengakibatkan ruang kelas di belakang pesantren yang terletak tidak jauh dari bibir sungai rusak berat.

“Bapak dan Ibu kalo mau lihat ke lokasi silakan, sekarang sudah bisa dilewati pakai sendal, tadinya penuh lumpur, di ujung sana ruang kelas yang rusak berat sampai atapnya pun rubuh,” dengan senyum ramah Abdul Rochim menawarkan.

Warga pengirim bantuan terperangah melihat kondisi ruang Kelas yang rusak berat dan tertimbun lumpur. Foto Supriyadi Pelitabanten.com

Abdul menjelaskan bahwa selama ini tidak pernah terjadi banjir, bahkan ada warga sekitar pesantren yang menetap selama 80 tahun di wilayah tersebut tidak pernah mengalami banjir separah ini.

Baca Juga:  Pasca Hujan Deras, Kapolsek Karawaci Monitoring Pintu Air 10

“Air bercampur lumpur deras dari sungai, entah air darimana, memang dari malam tahun baru hujan, selama saya tinggal di sini baru kali ini separah ini, bisa dilihat ruangan praktek komputer, untuk kerugian belum kepikiran masih fokus untuk merapihkan ruangan kelas dan asrama,” jelasnya.

Buku Raport Siswa didik Pesantren La Tansa yang tertimbun lumpur. Foto Supriyadi pelitabanten.com

Dalam pantauan pelita banten, selain ruang kelas, asrama dan kantor pesantren yang terletak tak jauh dari tepian sungai rusak. Banyak buku pelajaran tertimbun lumpur diantaranya beberapa Al-quran tertimbun lumpur, bahkan buku raport siswa didik.

Anggota TNI bersama relawan dan Santri membersihkan tumpukan Lumpur di ruang kelas yang dalam kondisi rusak berat. Foto Supriyadi pelitabanten.com

Salahsatu anggota TNI yang tengah bertugas di lokasi mengungkapkan bahwa di atas gunung sebagai hulu sungai banyak terdapat lubang-lubang tambang emas. Besar dugaan banjir bandang di wilayah Lebak akibat aktivitas penambangan emas di gunung tersebut, akibat banyaknya lubang yang berisi air hingga Longsor tidak bisa menampung curah hujan yang berlebihan.

“Penambangan emas di atas sana menggunakan sistem gali lubang seperti sumur, banyak titiknya, puluhan atau ratusan bisa lebih, bencana ini akibat ulah manusia juga, emas itu terus dicari tanpa memikirkan dampaknya,” ungkap Prajurit TNI yang pakaiannya berlumur lumpur.

Baca Juga:  Komisi III DPR Setujui Listyo Sigit Prabowo Sebagai Kapolri

Pengiriman bantuan logistik di wilayah pelosok yang sulit ditempuh dengan jalur darat, menurut anggota POLRI yang bertugas saat itu di Posko La Tansa pengiriman menggunakan Helikopter karena rusaknya akses jalan.

“Hari ini tim dari POLRI sudah 4 kali mengirimkan bantuan ke daerah pelosok dengan helikopter, bila ditempuh jalur darat bisa memakan waktu 12 jam karena sulitnya medan,” jelas anggota POLRES Lebak dengan 2 Balok di seragam.

Warga pengirim bantuan melihat kondisi ruang di pesantrean La Tansa, yang terletak dekat dengan sungai. Foto Supriyadi pelitabanten.com

Rombongan warga Tangerang ikut berbela sungkawa dengan musibah bencana yang terjadi di wilayah Lebak, melihat hal tersebut memberikan pelajaran pentingnya menjaga lingkungan di wilayah terutama di Kota Tangerang.

“Melihat air sungai deras kecoklatan seperti saat ini saya merinding, tidak terbayangkan pas waktu kejadian setinggi apa air, semoga kiriman bantuan dari warga yang sudah kita sampaikan bisa bermanfaat bagi korban bencana,” jelas Darmadji, komando tim pengiriman bantuan warga Tangerang saat ditemui pelitabanten.