News Kota Tangerang Aksi Jahit Mulut Dan Mogok Makan Mahasiswa, Tuntut Bubarkan BPJS

Aksi Jahit Mulut Dan Mogok Makan Mahasiswa, Tuntut Bubarkan BPJS

Aksi Jahit Mulut Dan Mogok Makan Mahasiswa, Tuntut Bubarkan BPJS
Forum Aksi Mahasiswa Kota Tangerang tuntut BPJS Bubar. Foto Supriyadi Pelitabanten.com
Hari Guru Dinkes Tangsel

KOTA TANGERANG, Pelitabanten.com — Forum Aksi Mahasiswa (FAM) gelar aksi jahit mulut dan mogok makan selama tiga hari kedepan, menuntut dibubarkannya BPJS dan meminta pemerintah untuk membuat program kesehatan gratis tanpa syarat bagi masyarakat. Jum’at (25/1/2019).

Aksi yang digelar di depan posko pembubaran BPJS, di depan kawasan pendidikan Cikokol, Kota Tangerang, diperuntukkan menjadi ajang silaturahmi juga konsolidasi terhadap seluruh masyarakat Kota Tangerang, mahasiswa lintas kampus, lintas organisasi, serta serikat buruh Se-Tangerang.

Aksi Jahit Mulut Dan Mogok Makan Mahasiswa, Tuntut Bubarkan BPJS
Aktivis menjahit mulutnya, dan aksi mogok makan. Foto Supriyadi Pelita Banten.

Dalam aksinya, mahasiswa memberikan 3 point tuntutan

  1. Realisasikan kesehatan gratis tanpa syarat bagi rakyat Tangerang.
  2. Tolak integritas program kesehatan daerah menjadi BPJS kesehatan.
  3. Pemerintah daerah harus membubarkan BPJS karena menyulitkan rakyat atau Walikota Tangerang mundur dari jabatannya.

Aksi jahit mulut dilakukan oleh 2 orang, Rosid, Mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Yuppentek Tangerang dan Tomi Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Tangerang UMT. Mereka memberanikan diri menjahit mulut mereka sejak pukul 14 : 00 WIB, guna memperjuangkan aksi mereka.

Baca Juga:  GOR Ciputat Disoal, Ini Jawaban Pengelola Dispora Tangsel

Sandy, Ketua aksi menjelaskan, aksi yang mereka (mahasiswa) lakukan untuk mengharapkan pemerintah daerah Kota Tangerang dapat lebih memperhatikan nasib masyarakat Kota Tangerang di bidang Kesehatan.

“Posko ini sudah berlangsung sejak 2 Minggu yang lalu, Kami mengharapkan masyarakat perhatian terhadap kinerja pemerintah daerah dalam BPJS, Rp. 4,9 triliun APBD 2018 menyisakan anggaran (SILPA-red) Rp. 892 Milliar,” jelas Ketua Aksi saat ditemui Awak Media.

Ia menjelaskan pernah di tahun 2018 ada permasalahan Sakit Mata yang didampingi oleh FAM, ketika dibawa ke RS Omni Global. Namun pihak Omni menyatakan pengobatan penyakit tersebut tidak dapat ditangani dengan program BPJS.

“Kami pun akhirnya membawa pasien tersebut ke dokter spesialis mata, namun pengobatan ditangani dengan biaya sendiri,” ungkap Sandy.

Kedepannya aksi pengepungan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang akan dilakukan oleh FAM bersama serikat buruh yang ada di Kota Tangerang. Guna mengharapkan perhatian Pemerintah Kota Tangerang tentang sistem BPJS yang ada.

Baca Juga:  Rano Karno Ucapkan Selamat Kepada Wahidin Halim dan Andika Hazrumy

“Bersama serikat kerja yang ada di Kota Tangerang, Kami sepakat untuk memperjuangkan, kapan waktunya nanti dikabari,” pungkasnya.

Editot : Adin