Beranda Sastra Bingkai Kata KATAK TULI (Bagian 3/3)

KATAK TULI (Bagian 3/3)

477
BAGIKAN
Abdul Latif S Mulyadi
Foto: Abdul Latif S Mulyadi

Pelitabanten.com – Tawa, canda, dan usapan tangan menghapus air mata yang sesekali tertuang dalam nostalgia kami telah membuat beliau semakin segar. Semangat mudanya telah kembali “saya kan memang selalu berjiwa muda..” ujarnya pada beberapa kesempatan.

Binar matanya mengisyaratkan bahwa kehadiran kami demikian penuh arti, tak sedikitpun kami menyinggung dan bertanya perihal penyakit prof. Kami hanya berbahagia, berbahagia dan berbahagia bersamanya agar beliau sejenak melupakan sakitnya, dan kembali bersamangat untuk segera berbagi banyak manfaat.

Tak terasa hampir 3 jam kami bersua dengan penuh bahagia, padahal prof belum beristirahat pasca tiba berobat tadi. Kami tak ingin kemesraan ini segera berakhir, namun Eko mengisyaratkan kami segera angkat diri agar prof segera beristirahat. Kami mendekat, kami pegang erat Prof layaknya anak-anak yang tengah menggumul mesra bersama sang ayah. Kami pijat tangan beliau seraya meminta doa untuk kita bersama. Sekali lagi air mata beliau menetes haru.

Beliau seakan tak ingin kemesraan ini segera berlalu, beliau bahkan menawari kami untuk menginap. Namun kami tetap harus pulang agar beliau semakin banyak beristirahat dan segera pulih. Karena tak kuasa menahan kami, akhirnya prof menitipkan sekelumit nasihat yang sangat berarti bagi kami mengenai seekor katak tuli.

Beliau bercerita tentang sekumpulan katak yang tengah berada di kolam yang hampir kering. Dinding kolam sedemikian tinggi dan curam, susah bahkan terlihat mustahil untuk dipanjat agar mereka bisa keluar dari kolam tersebut. Beberapa katak berusaha untuk melompat keluar kolam, namun setiap kali ada rekannya yang berusaha melompat selalu saja mereka mencemooh dan berkata itu hal yang mustahil untuk dilakukan. Walhasil kepercayaan diri mereka berkurang dan tak ada seekor katak pun yang dapat keluar kolam. Kini hampir semua katak berputus asa dan tak ada seekorpun yang kembali berusaha melompat.

Baca juga :  Ratusan Karyawan di Banten Akan Kena PHK

“Benar kata teman-teman, kolam ini memang mustahil bagi kami untuk keluar darinya…”

Di tengah keputusasaan mereka, ada seekor katak yang mencoba untuk melompatinya. Kembali semua katak mencemoohnya, bahkan dengan cacian yang lebih gencar. Tapi seakan tak peduli, dengan percaya diri, katak tersebut melompat dan berhasil keluar dari dalam kolam. Semua rekan takjub dengan keberhasilannya, cemoohan dan ketidakyakinan yang menyeruak di rekan-rekannya tak sedikitpun menggerogoti kepecayaan dirinya. Semua bertanya apa rahasianya? Salah seekor katak menuturkan bahwa Katak tersebut adalah Katak Tuli jadi katak tersebut tak sedikitpun mendengar dan terpengaruhi cemoohan orang lain.

“Seperti katak tuli tersebut, semangat untuk percaya diri dan tidak terpengaruh hal negatif dari orang lain sangat perlu untuk dilakukan untuk sukses. Namun, dalam sukses kita juga jangan sampai mengorbankan orang lain layaknya filosofi berenang dan lompat gaya katak..”

“Maksudnya Prof?”

“Seringkali kita ingin sukses dengan cara mengorbankan orang lain, istilah katak yang melompat dengan cara menendang bawah, sikut kanan-kiri, dan menjilat ke atas. Atau jelasnya untuk mencapai posisi tinggi dengan cara menekan habis-habisan para bawahan, menyingkirkan rekan-rekan kerja yang dianggap pesaing, dan ‘menjilat’ atasan”.

“Ya.. Ya.. Semoga kami bisa sesemangat katak tuli, dan tidak berperangai buruk seperti cara katak melompat”.

Kini tiba saatnya kami pamit, jepretan foto Fajar yang khusus dibelinya semalam sebelum berangkat telah membalut kebersamaan kami sebagai sebuah keluarga. Kami peluk sekali lagi tubuh prof, sambil mencium pipi beliau yang mulai kurus telah kembali meneteskan mutiara cair dari mata kami. Seraya sambil berucap “sukses selalu anak-anakku…” Dan “cepat sembuh, terima kasih ayah…”

Oleh : Abdul Latief S Mulyadi

Baca juga :  Korupsi, Pengingkaran Terhadap Sumpah dan Janji