Beranda Politik Kabupaten Lebak jadi Wilayah Penyerapan Raskin Tertinggi Se-DKI dan Banten

Kabupaten Lebak jadi Wilayah Penyerapan Raskin Tertinggi Se-DKI dan Banten

433
BAGIKAN
Kabupaten Lebak jadi Wilayah Penyerapan Raskin Tertinggi Se-DKI dan Banten
Foto: Istimewa

LEBAK, Pelitabanten.com – Daerah kabupaten Lebak merupakan salah satu wilayah dengan serapan subsidi beras untuk rakyat miskin (raskin) pada tahun 2015 tertinggi se-DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Pagu raskin sebanyak 21.246.480 kilogram bagi 118.036 RTS (rumah tangga sasaran) terserap 100 persen dan tanpa tunggakan.

Alhamdulillah, serapan raskin di Lebak tahun 2015 lancar, terserap 100 persen. Begitu juga dengan tunggakan raskin, kosong alias nihil. Kami juga dapat penghargaan serapan raskin tertinggi se-DKI-Banten,” tegas Asisten Daerah (Asda) Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Lebak Budi Santoso usai sosialisasi penyaluran beras bersubsidi bagi masyarakat berpendapatan rendah di Kabupaten Lebak tahun 2016 di aula Multatuli Setda Lebak, Selasa (23/2/2016)

Sosialisasi tersebut dihadiri oleh Bupati Iti Octavia Jayabaya, Wakil Bupati Ade Sumardi, Sekda Lebak Dede Jaelani, Asda II Budi Santoso, para kepala SKPD, Kepala Bulog Sub Divre Lebak Lukmansyah, Kajari Rangkasbitung Rini Hartati, Dandim 0603 Lebak Letnan Kolonel (Letkol) Czi Ubaidilah, dan ratusan kepala desa.

Pada tahun 2016 pagu beras raskin untuk Kabupaten Lebak tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya, yakni tetap pada angka 21.246.480 kilogram. Untuk menyalurkan beras raskin hingga sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkannya, Pemkab Lebak telah mengalokasikan anggaran transportasi hingga sampai ke desa-desa sebesar Rp. 2,9 Milyar atau Rp. 133 per kilogram beras raskin. Jumlah anggaran tersebut dirasa belum cukup, sehingga harus ada kerjasama dan pasrtisipasi dari masyarakat.

“Harga pagu raskin tetap Rp1.600 per kilogram sampai ke titik distribusi (desa-red). Kalau sampai ke RT/RW, harus ada biaya partisipasi dari masyarakat melalui musyawarah. Ya, sampai penerima sebesar Rp1.900 per kilogram,” jelas Budi Santoso selaku Asda II Kabupaten Lebak

Baca juga :  Kasus Suap Bank Banten, Rano Gagal Jadi Pemimpin yang Bersih

Selanjutnya mengenai pelunasan raskin, Bupati Iti Octavia meminta Bulog Sub Divre Lebak bekerjasama dengan Bank BRI yang memiliki jaringan hingga pelosok daerah. Hal ini dikarenakan setoran pelunasan raskin melalui rekening Bank Bukopin cukup menyulitkan, karena bank tersebut tidak ada di kabupaten Lebak.

“Sejak saya bersama Pak Ade menjabat Bupati dan Wakil Bupati, saya telah meminta agar Bulog bekerja sama dengan perbankan. Selama ini, setoran raskin melalui Bukopin. Jangankan di tiap kecamatan, di pusat pemerintahan Kabupaten Lebak saja tidak ada Bukopin. Ini tentu sedikit menyulitkan,” tegas Iti.

Bupati Lebak berharap, kerja sama antara Bulog Sub Divre Lebak dengan BRI terealisasi, apalagi Lukmansyah pernah bekerja di BRI. “Kalau pembayarannya bisa lebih dekat, saya yakin setorannya akan lebih lancar. Kalau setor ke Bukopin yang ada di Cilegon, selain butuh transpor yang besar, biasanya (kades-red) menunggu setoran kumpul dulu. Kalau sudah begitu, (uang raskin-red) kepake sedikit demi sedikit,” tegasnya.

Dijelaskan oleh Iti Octavia bahwa dengan pagu raskin yang sama pada tahun 2015, dengan harga raskin Rp 1.600 per kilogram, ada subsidi dari pemerintah sekira Rp121 miliar. Harga raskin itu setara dengan harga beras medium Rp7.300 per kilogram.

“Ini cukup besar dan harus dimanfaatkan. Saya tidak ingin mendengar ada penyelewengan dalam program raskin ini,” tegas Iti.

Dia mengapresiasi serapan raskin tahun 2015 yang mencapai 100 persen dan nol tunggakan. “Saya berharap bukan hanya serapan raskinnya saja mencapai 100 persen, tapi tunggakan utang berjalannya juga kosong seperti tahun 2015. Kepala desa juga tidak ada yang berurusan dengan aparat penegak hukum karena menyelewengkan raskin,” ujar Iti.

BAGIKAN