Kisah Perjalanan Salman Al Farisi untuk Bertemu dengan Rasulullah Saw

Kisah Perjalanan Salman Al Farisi untuk Bertemu dengan Rasulullah Saw
Ilustrasi. Pixabay / Jpeter

Pelitabanten.com – Kamu pasti tahu film-film yang bergenre petulangan dan penuh tantangan. Misal film The Lord of The Rings, film yang booming dan banyak disukai setiap kalangan lalu ada Alice in the Wonderland, Harry Potter dan masih banyak lagi. Tapi sayangnya aku bukan mau membahas film-film tersebut. Yang akan aku bahas disini kisah seorang Super Hero dari tanah Persia yang menariknya kisah ini bukan khayalan penulisnya melainkan ada di kehidupan nyata. Beliau nyata kawan!

Kalau kamu penasaran akan aku ceritakan kisahnya padamu

Beliau adalah Salman Al Farisi yang berasal dari kota Isfahan, di Persia. Perjalanannya tidak main-main di zaman yang belum ada motor apalagi sepeda. Beliau memulai perjalanannya dari Persia sampai Madinah. Sampai Madinah! Jarak anatara Persia dan Madinah tidaklah dekat, berpuluh-puluh Kilometer. Melewati berbagai musim lalu melewati gurun pasir yang panas dan ganas. Tapi itu semua tidaklah membuat beliau menyerah untuk bertemu dengan sang Nabi terkahir.

Perjalanan Salman untuk menemukan kebenaran bermula dari sang Ayah yang menyuruh nya untuk menjaga api abadi di kuil agar tidak padam, singkat cerita Salman ragu akan keyakinannya yang menyembah api. Dari situ diam-diam beliau belajar agama Nasrani dari pendeta yang dia temua hampir setiap hari. Tentu saja ayahnya menentang nya tapi tekad Salman tak memudar dia terus belajar sampai akhirnya beliau merasa keyakinan yang dia anut dirasa belum tepat dan ada yang salah. Dari situ beliau terus belajar dari satu guru ke guru lain tapi tetap mengenai agama Nasrani, setiap gurunya meninggal beliau akan bertanya. Kemana lagi beliau harus pergi.

Hingga suatu hari guru sekaligus pendeta terkahirnnya meninggal dunia. Beliau bertanya terlebih dahulu sebelum ajal menemui gurunya. Mengenai kemana setelah itu beliau harus pergi. Lalu gurunya memberitahu bahwa ada suatu kota yang di tumbuhi kurma-kurma. Dan Nabi terkahir itu akan datang dari negeri Arab.

Dengan tekat dan semangat yang semakin membara beliau akan memulai perjalanannya ke negeri Arab bersama kafilah dagang yang datang ke Amuriyah. Namun ketika di tengah perjalanan beliau di jebak dan di jual sebagai budak pada seorang laki-laki beragama Yahudi, singkat cerita beliau di jual kembali pada saudara mantan majikannya, yang ternyata tinggal di kota Yastrib. Dari situlah perjalanan sebenarnya dimulai.

Suatu hari beliau sedang berada di atas pohon kurma dan idak sengaja mendengar percakapan antara majikannya dan tamunya.

“Celakalah Bani Qilah! Mereka berkumpul di Quba dan menemui seorang laki-laki dari Makkah yang mengaku Nabi”

Seketika hampir saja Salman terjatuh hatinya bergetar jantung seolah seketika berhenti. Beliau langsung bertanya namun, mendapat respon buruk dari tamu dan majikannya. Dengan perasaan bahagia beliau memutuskan untuk menemui laki-laki yang mengaku Nabi itu. Tak lupa pula beliau mebawa beberapa makanan untuk di uji cobakan pada beliau. Karena pesan gurunya Nabi terkahir yang berasal dari bangsa Arab tersebut. Setidaknya memiliki tiga ciri kenabian.

Pertama, jika diberi hadiah beliau akan memakannya, namun jika yang diberikan seseorang itu adalah sedekah beliau tidak akan memakannya.

Kedua, terdapat stempel kenabian di pundaknya.

Singkat cerita, semua tanda kenabian yang dimaksud gurunya ada pada diri laki-laki tersebut. Seketika Salman langsung menghambur pada Rasulullah Saw, tangisnya meledak, dan Rasulullah Saw memeluknya dengan hangat. Maa Sya Allah