Budaya Jalan Setapak

[Cerpen] Jalan Setapak

Jalan Setapak
ILUSTRASI (Leon Macapagal/Pexels)
Hari Guru Dinkes Tangsel

Pelitabanten.com – Aku selalu melangkahkan kaki ini di jalan yang selalu sama tiap-tiap hari. Tidak adakah pepatah yang keluar dari mereka-mereka untuk memutarkan diriku untuk berjalan ke jalan yang lain. Cucuran air keringat terus bercucuran hingga baju-bajuku basah kuyub demi mencari jalan yang belum pernah kulewati.

Keesokan harinya, aku masih menyusuri jalan yang sama. Jalan yang hanya nampak lurus dan tanpa adanya berbelok-belok. Langkah demi langkah terus melewati jalan itu kembali. Terus melewati tanpa menemukan titik-titik sebuah tempat tinggal warga agar memberitahukanku kemanakah arah jalan ini pergi sebenarnya ?

Sudah 2 hari aku menapaki dan menyusuri jalan ini tapi sedikitpun warga tidak pernah kutemui sama sekali. Tengok kiri dan tengok kanan hanyalah sebatas tengokan saja. Memikirkan bahwa mungkin sebentar lagi, akan ada warga yang akan memberitahukan kemanakah arah jalan ini pergi dan jalan yang berbeda yang akan kutemui pastinya.

Pada hari ke empat, kakiku terus melangkah. Baru kali ini, ku temukan seorang anak muda lelaki yang bergaya sangatlah keren dan menggunakan banyak emas baik itu kalung, gelang, cincin bahkan gigi pun emas si anak muda lelaki ini. Aku yakin, pasti anak ini berasal dari golongan bangsawan yang memiliki banyak harta di sekitarnya.

Aku bertanya kepada anak muda lelaki ini “Nak, arah jalan ini kemana ya? Bisakah adek memberitahukan ini kepada ibu ujung arah jalan ini dikarenakan jalan ini tidak memiliki belokan sedikitpun?” Jawab anak muda lelaki itu (dengan mengerutkan dahinya) “eh ibu … ibu lebih baik tanya saja kepada yang lain bahwa saya tidak mengetahui arah jalan ini. Sudahlah sana ibu, jangan mengganggu saya. Saya sedang sibuk. Pergi sana pergi …”

Anak muda lelaki itu sungguh sangatlah memarahiku dengan mengerutkan dahi yang sangatlah erat. Menjatuhkanku sehingga tubuhku tergeletak di bawah tanah jalan ini yang sangatlah dingin dan berbatu-batu. Sungguh anak muda lelaki yang sangatlah jijik dan enggan untuk berkomunikasi denganku.

Aku berusaha berdiri dengan sekuat tenagaku dan berjalan kembali dengan mengangkat kaki-kakiku untuk melangkahkan kembali. Terus berjalan langkah demi langkah dan sangatlah berharap akan ada seseorang yang akan memberitahukanku kemanakah arah jalan yang sedang kulewati ini.

Baca Juga:  WBP Rutan Rangkasbitung Sabet Juara Festival Seni dan Bahasa

Hari kelima aku menyusuri jalan ini, tiba-tiba ku bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sedang menggendong seorang bayi di tangannya. Ia sangatlah asyik bermain dengan bayi tersebut. Mencium dahi bayi itu dengan ciuman yang hangat dan penuh cinta seorang ibu kepada anaknya. Di kejauhan, aku melihat ibu itu tersenyum dengan cerah terhadap bayi tersebut. Sama sepertiku, yang dahulu memiliki seorang bayi di pelukan atas tanganku yang kini hanyalah sisa-sisa debu-debu memori di kepalaku ini.

Ketika, hari sudah senja, aku berjalan kembali dan mendekati seorang ibu tersebut. Aku bertanya kembali pertanyaan yang sudah ku tanyakan kepada anak muda lelaki yang pernah kutemui sebelumnya. “Ibu, arah jalan ini kemana ya? Bisakah ibu memberitahukan ini kepada saya ujung arah jalan ini dikarenakan jalan ini tidak memiliki belokan sedikitpun?” Tersontak, ibu itu pun menanggapi pertanyaanku sama seperti halnya dengan anak muda lelaki yang pertama kali kutemui.

Jawab ibu itu (dengan mengerutkan dahinya) “Saya tidaklah mengetahui ujung arah jalan ini. Ibu tanya saja kepada yang lain. Cari orang lain saja yang lebih mengetahui jalan ini dibandingkan saya. Saya bukan seorang wanita yang suka jalan-jalan keluar rumah. Sudahlah sana ibu, jangan mendekati saya dan pergilah dari hadapan saya dengan bayi saya. Saya tidak mau, ibu menularkan kudis ibu kepada saya dan bayi sana. Cepat sana ibu pergi dan jauhi bayi saya!”

Lagi-lagi hanya cacian maki yang kudapat dari 2 orang yang telah kutemui. Sungguh, apakah hanya ini jawaban yang ku peroleh tiap-tiap orang yang kutemui dan kutanya ujung arah jalan ini yang belum kutemui jawabannya sama sekali dan selalu sama jalannya yaitu tanpa adanya belokan-belokan dan nampak lurus saja.

Rasa panas dan dingin tak pernah menyulutkan rasa keingintahuanku untuk menempuh jalan ini. Aku tetaplah semangat meskipun kaki-kakiku ini tampak perih dan banyak luka-luka serta kudis-kudisku terus merajalela menutupi kedua kakiku ini. ‘Semangat, semangat dan semangat’ hal yang ku tanamkan dalam hatiku. Aku yakin, pasti ada orang yang akan dengan sepenuh hati memberitahukan kemana arah jalan ini.

Baca Juga:  Pentas Kesenian Nangpiling Gentra Medal Tampil di Festival Desa Kota

Hari keenam pun tiba. Aku masih belum menemukan seorang warga yang akan memberitahukanku kemanakah ujung arah jalan ini sebenarnya. Aku terus melangkahkan kaki-kakiku. Akan tetapi, di pertengahan jalan, aku menemukan sepasang suami istri yang nampaknya sedang berduka dan sedih dari tatapannya satu sama lain. Aku yakin, pasti mereka mempunyai masalah pribadi di dalam rumah tangga mereka.

Aku melangkahkan kakiku kembali dan menghampiri sepasang suami istri tersebut dengan membawa harapan bahwa mereka akan memberitahukan ujung arah jalan ini yang sebenarnya. Aku bertanya kembali kepada sepasang suami istri tersebut sama seperti sebelumnya kepada anak muda lelaki yang pertama kali kutemui dan ibu yang sedang menggendong bayinya yang kedua kalinya.

“Permisi Bapak dan Ibu, arah jalan ini kemana ya? Bisakah bapak dan ibu memberitahukan ini kepada saya ujung arah jalan ini dikarenakan jalan ini tidak memiliki belokan sedikitpun?” Tersontak, mereka kaget dan si bapak menanyakan pertanyaan balik kepada aku.

“Ibu … untuk apa ibu menyusuri ujung arah jalan ini? Ibu sudah berapa hari berjalan sampai kaki-kaki ibu seperti itu? Tidak adakah seseorang yang memberitahukan ibu mengenai ujung arah jalan ini, Bu ?”

Aku pun menjawab “Saya hanya penasaran terhadap jalan ini, pak. Saya selalu berjalan di jalan yang sama ini tiap hari tapi saya tidaklah bisa mencapai ujung arah jalan ini. Saya sudah bertanya kepada seorang anak muda lelaki dan ibu yang sedang menggendong bayi akan tetapi, mereka tidak mengetahui ujung arah jalan ini, pak.”

Ibu itu pun merasa kasihan kepadaku dan memeluk aku dengan hangat. Ibu itu pun berkata “Ibu, saya tahu, ibu sudah melewati jalan ini dalam beberapa hari. Itu sangatlah tampak dari pakaian ibu yang lusuh, baju ibu yang sudah berbau dan basah oleh keringat-keringat ibu, ibu mampir ke rumah saya dulu ya bu. Ibu makan dan membersihkan diri ibu dulu ya”

Aku pun menolaknya dengan berkata “Mohon maaf bapak dan ibu. Bukannya saya tidak mau, akan tetapi, lihatlah kaki-kaki saya. Banyak kudisnya. Nanti, bapak dan ibu bisa tertular oleh saya jikalau saya menggunakan kamar mandi bapak dan ibu”.

Baca Juga:  MORAL

Sang bapak pun berkata “tidak apa-apa ibu. Kami tidak akan mudah tertular oleh kudis ibu. Ayo sini bu singgah ke rumah kami”. Akhirnya, aku pun menyetujui untuk menginap di rumah mereka dengan senang hati.

Ketika sampai di rumah mereka yang sangatlah sederhana, aku sangatlah tertegun oleh kerapihan halaman rumah mereka. Bersih, indah dan tertata rapi sekali. Mereka pun mengajakku masuk ke dalam rumahnya dan memerintahkanku agar segera membersihkan diri dan makan malam bersama dengan mereka.

Setelah, aku membersihkan diri dan makan malam bersama dengan mereka, tiba-tiba ibu pun bertanya kepada aku “Ibu, apakah ibu mau kita menemani ibu ke ujung arah jalan itu?” aku langsung mengganggukkan kepala yang menandakan bahwa aku menyetujuinya. Kemudian mereka pun berkata lagi “Ibu, jangan panggil kami ‘ibu dan bapak’ tapi panggil saja kami seperti anak ibu sendiri” Kemudian, aku pun mengganggukkan kepalaku kembali dengan perkataan mereka.

Di pas hari ketujuh (seminggu) aku menyusuri jalan yang sama ini, akhirnya aku dapat mengetahui apa yang ada di ujung arah jalan ini. Aku bersama dengan mereka yang ku anggap anak itu menyusuri jalan yang nampak lurus ini dan mendapatkan ujung arah jalan ini. Ternyata, ujung arah jalan ini ialah ‘Jalan Setapak’. Jalan berbeda yang pernah ku temui sebelumnya dan akhirnya aku berhasil mencapainya. Akan ku kenang, jalan setapak ini dan orang-orang yang membantuku menuju jalan setapak ini.

Rasa bahagia, sedih, tawa dan lelah meliput menjadi satu. Setelah beberapa jam aku singgah dan melihat jalan setepak ini, tubuhku terkulai lemas dan terjatuh di ujung arah jalan ini dan mengucapkan kata “selamat tinggal kepada jalan setapak dan anak-anakku serta mensyukurinya dengan senyuman manis dari bibirku”.

Regina Permatadewi Tantiany GunawanPenulis: Regina Permatadewi Tantiany Gunawan nama pena: Aini Tan (Mahasiswi semester 4 Prodi Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten)