Beranda Sastra Aroma Eksistensialisme dan Absurditas dalam Pentas Teater “Perempuan Pembunuh Tuhan”

Aroma Eksistensialisme dan Absurditas dalam Pentas Teater “Perempuan Pembunuh Tuhan”

316
BAGIKAN
Aroma Eksistensialisme dan Absurditas dalam Pentas Teater “Perempuan Pembunuh Tuhan”
Dari kiri ke kanan Rusdi-Dinda-Shela-DC Aryadi-H.Marsidi-Delize-Budi Lengket-Handeuleum-Hae-Kibaw-Nugrah-Harto-Ledi

JAKARTA, Pelitabanten.com – Sisir, Pisau dan kotak kubus sedikit lebih lebar dari ukuran pinggul yang menjadi properti panggung dalam audiotorium berkapasitas 150 orang di Galeri Indonesia Kaya, terletak di Grand Indonesia Jakarta, sore itu, Selasa, 30 Agustus 2016.

Ketika Delize, peraih nominasi Aktris Terbaik dalam Dramakala Fest 2016, yang dihelat London School di Jakarta pada Pebruari lalu, duduk diam di bawah lampu masih temaram, perlahan menyisir rambutnya bergelombang dan memulai aksi monolognya, “Sekerat demi sekerat lelaki itu melepas kulitku, mengeluarkan isi kepalaku. Bintang gelap menancap di matanya. Ibunya telah merenggut ratusan api yang kusimpan sejak kanak-kanak. Kumasuki wilayah tanpa peta. Aku rindu aroma bapakku yang rajin menghirup gelapnya pagi…”

Sepenggal naskah “Perempuan Pembunuh Tuhan” karya/ sutradara DC Aryadi, Teater Gates Rangkasbitung, mengawali serangkaian kisah kehancuran, kehilangan dan pencarian yang tersandra pada sebuah kerinduan. Sebuah pencarian akan eksistensi manusia di tengah-tengah kehilangan. Mengingatkan kembali akan aroma eksistensialisme dan absurdisme era 1960-an, yang terus menjalar hingga sekarang, gema filsafat dalam karya sastra nampaknya masih ada dan akan terus terasa. Filsafat dan sastra memang tidak bisa dipisahkan seperti yang pernah dikatakan Budi Darma (1990:135): Kadang-kadang filsafat dan sastra menjadi satu. Filsafat dapat diucapkan lewat sastra, sementara sastra itu sendiri sekaligus dapat bertindak  sebagai filsafat. Sesudah Perang Dunia II, misalnya Albert Camus dan Jean Paul Sartre adalah filsuf eksistensialisme yang sekaligus adalah  sastrawan. Novel-novel mereka adalah pengucapan filsafat, dan sekaligus juga filsafat.”

Pencarian tokoh perempuan akan keadilan terbentur oleh kenyataan terluka, seperti pada dialognya, “…hanya perempuan terluka yang bisa membunuh dirinya sendiri…hanya perempuan terluka yang bisa meremas daging hidup yang meletus dari rahimnya…lalu, kemana hatinya? Kemana perasaannya? Kemana keibuannya? Bukankah perempuan yang membuat bumi damai…”

Absurdisme dalam pementasan ini terlihat begitu kental. Seluruh adegan seperti dikonstruksikan sedemikian rupa sehingga sang tokoh seperti tidak berdaya menghadapi nasibnya. Dalam absurdisme, seseorang dikuasi oleh takdirnya yang menunggu di ujung lorong harapan. Sang tokoh berada dalam kuasa takdir yang telah diperuntukkan baginya tanpa kekuatan untuk menghindar. Sama halnya dengan tokoh “Perempuan Pembunuh Tuhan” yang tidak berdaya dengan garis hidupnya, sehingga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dengan jawaban yang pasrah tanpa pemikiran, juga ketidakberdayaannya menghadapi permasalahan yang melilit batinnya.

Baca juga :  Ijazah dan Integritas Pendidikan Calon Kepala Daerah

Dalam tulisan Martin Esslin (1961:xix), dikutip pendapat Eugine Ionesco mengenal absurditas dalam karya-karya Kafka yaitu “absurd adalah, apabila tanpa tujuan, terenggut dari akal religi, metafisik, dan transendental, manusia menjadi kehilangan; segala tindakannya tidak masuk akal, absurd, sia-sia”. Pendapat ini seolah-olah menjadi sebuah pembenaran jika kita membaca dan menyaksikan lakon-lakon Ionesco, Beckett dan Adamov, yang dicap sebagai dramawan/teaterawan dan pengarang absurd.

Absurditas dalam tokoh ini adalah keterlemparan dirinya dari kenyataan. Camus dalam Mitos Sisipus (dalam Esslin, 1961 :xix; Kasim, 1994:52): Dunia yang masih dapat dijelaskan meskipun dengan penjelasan yang keliru merupakan dunia yang kita kenal. Namun, sebaliknya di dunia dimana ilusi-ilusi dan harapan tiba-tiba direnggutkan, manusia merasa terasing, merasa sebagai seorang asing. Hal ini merupakan bentuk dari absurditas.

Tokoh perempan ini tidak memperhatikan situasi yang riil di hadapannya, namun menanggapi sesuatu yang absurd dapat digambarkan dalam dialog: “Lelaki itu datang, lelaki yang pernah menjadi suamiku. Aku memang tak pernah risau jika ia datang ke rumah ini. Karena kami sama-sama sepakat bahwa kami sudah bercerai… malam itu, tepat pukul 00.30 lelaki itu datang dan langsung masuk ke kamarku. Padahal aku dan suamiku tengah menikmati birahi yang garang…”

Absurdisme di Indonesia sendiri muncul di era 1970-an, berbeda dengan absurdisme di negara barat yang terjadi karena adanya sebuah proses pembaruan paradigma masyarakat melalui revolusi sosial, absurdisme di Indonesia muncul lewat pemikiran dan kondisi masyarakat Indonesia berlandaskan anggapan bahwa pada dasarnya kondisi manusia itu absurd, dan bahwa kondisi ini secara tepat hanya dapat dilukiskan dalam karya yang juga absurd. Penulis lakon di Indonesia meminjam modelnya yang kemudian diisi dengan pengalaman-pengalaman masyarakat sendiri. Tidak menutup kemungkinan naskah-naskah di Indonesia mempengaruhkan diri pada karya-karya penulis barat seperti Albert Camus, Samuel Beckett, dan Eugene Ionesco yang sangat terkenal.

Baca juga :  Parmusi Gelar Cipta Puisi Qurani Berhadiah Total 25 Juta

Pentas “Perempuan Pembunuh Tuhan” merupakan penampilan pembuka dari tiga pementasan yang dijadwalkan hari itu di Galeri Indonesia Kaya, pementasan dua lainnya yaitu; Monolog “Temu” oleh Indrawan Babil dan pentas “Catastrophe” oleh Teater Kandang Kuda. Ketiganya adalah pemenang dalam Dramakala Fest 2016 London School.  Galeri Indonesia Kaya menyuguhkan berbagai macam pertunjukan budaya dari seniman-seniman Indonesia, baik mereka yang baru berkiprah atau mereka yang telah lama berkecimpung dalam dunia seni, tiap akhir pekan. Para seniman yang ingin memakai auditorium dapat menggunakannya tanpa dipungut biaya. [BL]

BAGIKAN