Beranda Sastra Bingkai Kata ADAPTASI

ADAPTASI

269
BAGIKAN
ADAPTASI
Foto: Ilustrasi - Istimewa

Pelitabanten.com – Adaptasi sudah menjadi salah satu ciri khas makhluk dan bisa dikatakan menjadi salah satu hal penting bagi perkembangan hidup manusia.

Sejak charles menerbitkan bukunya terkait dengan teori evolusi “Origin of Species by Means of Natural Selection”, perbincangan mengenai proses kehidupan manusia dan makhluk hidup dalam beradaptasi menjadi sangat menarik.

Terlepas dari kontroversi teori Darwin terkait dengan asal-usul manusia dari kera, setidaknya isyarat bahwa ada sebuah seleksi alam dalam kehidupan tidak bisa kita kesampingkan begitu saja.

Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya akan mampu bertahan hidup lebih lama atau bisa juga menikmati kehidupan lebih baik ketimbang mereka yang sukar beradaptasi.

Dalam teori adaptasi klasik, proses adaptasi masih sederhana sebatas bagaimana manusia memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan), mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas. Bereproduksi, dan  mempertahankan hidup dari musuh alaminya di alam.

Sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia yang juga hasil dari proses adaptasi tersebut, kebutuhan untuk beradaptasi menuntut cara yang semakin kompleks dan rumit. Tapi tetap memiliki prinsip bahwa. Mereka  yang mampu beradaptasi akan bertahan dan menang.

Semua sektor kehidupan menuntut untuk melakukan adaptasi, termasuk dalam dunia bisnis yang menuntut setiap pelaku untuk cerdik beradaptasi dengan menciptakan ide, strategi, dan eksekusi yang tepat.

Kebangkrutan pionir dunia fotografi ‘KODAK’ adalah contoh kegagapan beradaptasi dengan perubahan Kedigdayaan perusahaan yang berusia 132 tahun ini tumbang ‘dibunuh’ oleh tuntutan teknologi digital yang tidak dapat dipenuhi oleh comfort zone mereka dalam merajai dunia fotografi yang sempat menghantarkan nama ‘kodak’ sebagai sebutan kata ‘kamera’.

Baca juga :  INI CARA NINJAKU...!!

Kebangkrutan raksasa fotografi Kodak layaknya musnahnya raksasa hewan dinosaurus yang tidak dapat beradaptasi.

Ironisnya, mereka sebenarnya sudah menciptakan kamera digital berpuluh tahun lalu sebelum kamera digital marak pada tahun 90-an. Pada tahun 1975, Kodak sudah menciptakan kamera digital. Kamera ini mampu menangkap gambar hitam putih dalam resolusi 10.000 piksel. Sayang, ketakutan akan kanibalisasi membuat penemuan mereka itu tidak ditindaklanjuti. Pun juga, di tahun 1992, permintaan mantan Vice President Don Strickland untuk merilis kamera digital juga tidak mendapat ijin.

“Mengapa kita harus mengkanibalisasi diri kita sendiri?” demikian lontaran pihak manajemen seperti dilansir Thesundaily, Jumat (20/1/2012).

Ketika sadar akan kesalahannya, mereka berbenah diri, Mereka harus mengejar ketertinggalannya namun kini diketahui, usaha tersebut gagal. Kiprah ratusan tahun legenda di dunia fotografi kini harus ditutup selamanya.

Dan seperti itulah tuntutan adaptasi yang kini semakin mengharuskan pelakunya bergerak cepat dan tepat. Jika tidak, bersiaplah untuk tersingkir dan musnah.

Beradaptasi memang tidak mudah, beradaptasi seringkali tidak enak, dan tidak disukai, namun mau tak mau sudah menjadi niscaya bahwa kita harus beradaptasi.

Nokia sang raja ponsel bergelar “ponsel sejuta umat” kini tengah megap-megap hampir sekarat, friendster dan multiply sang jawara social media kini pengikutnya beralih ke facebook dan twitter, dan banyak lagi para punggawa yang kini hanya tinggal nama.

Lantas bagaimana dengan sisi individu,seperti apa kita harus beradaptasi?

Tak ayal lagi kita sudah menjadi mutlak bagi kita sebagai subyek kehidupan. Gelombang adaptasi menyeret kita untuk pada sebuah konsesus bahwa: “The only sign of life is growth, the only sign of growth in change, and the only sign of change is speed”

Baca juga :  Filosofi Ojek Sepeda di Depan Kantor Astra Sunter

Jadi, sudahkah kita berubah dengan cepat? Jika tidak bersiaplah untuk kalah..!!!

oleh : Abdul Latief

BAGIKAN