Beranda Sastra Bingkai Kata Abdul Latief S Mulyadi; MENTAL

Abdul Latief S Mulyadi; MENTAL

405
BAGIKAN
TEMUKAN DIRI
Foto: Abdul Latif S Mulyadi

Pelitabanten.com – Beberapa waktu yang lalu aku dan istriku mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Kami tiba sekitar pukul 9.30, beberapa toko masih tutup dan tak sedikit yang sudah melayani pelanggan.

Setelah berkeliling beberapa saat, singgahlah kami di sebuah toko yang menjual barang yang kami butuhkan. Kami melihat lampu toko sudah dinyalakan, barang sudah tertata rapih, mesin kasir telah siap digunakan, bahkan para penjaganya sudah berseragam dan mengobrol sambil bercanda-canda. Satu hal yang mengejutkan kami, adalah saat kami masuk segeralah seorang pelayan menghampiri kami dan berujar “Maaf Pak, toko kami belum buka, kami buka jam 10”

“Loh, belum buka ya? Sy kira sudah buka, Bukankah semunya sudah siap untuk melayani kami? Semua alat dan barangnya kan sudah siap dibeli.. Bisakah kami dilayani dulu..?” Aku berusaha untuk membujuk agar mereka mau melayani kami.

“Nanti saja bapak datang lagi jam 10” ujarnya yang juga kemudian didekati oleh seorang temannya yang berujar hal yang sama bahwa mereka memaksaku datang jam 10.

“Loh, mbak-mbak kan sudah siap melayani, dan saya liat cuma mengobrol dan bercanda masak saya harus menunggu 15 menit hanya untuk menunggu kalian ngobrol..” Ujarku sambil melongok ke jam tanganku yang sudah menunjukan pukul.9.45.

“Iya pak nanti saja, bapak dan ibu bisa tunggu di kursi itu..” Sambil menunjuk ke kursi yang tersedia di pusat perbelanjaaan tersebut.

Istriku yang melihat gelagatku yang akan memaksa dilayani, langsung memegang erat tanganku seraya berkata “sabar sayangku, kita tunggu saja, atau sekalian kita kelililing dulu” aku yang tak kuasa melawan tatapan lembut istriku akhirnya mengalah.

Dari kejauhan, aku lihat mereka menutup pintu, kali ini bahkan mengunci pintu kaca yang sebelumnya mereka biarkan setengah terbuka. Lalu mereka mematikan beberapa lampu agar semua pengunjung menyangka toko belum siap melayani, lalu merekapun kembali asyik mengobrol dan bercanda.

Baca juga :  CITA-CITA

Kejadian hampir mirip, pernah aku alami. Kali itu malam hari sekitar pukul 20, saat beberapa pegawai toko pakaian sedang merapikan barang-barang mereka, namun toko terlihat belum tutup. Saat aku hampiri, salah seorang dari mereka bilang “Maaf Pak, kami mau tutup..”

“Belum tutup kan Mbak? Sy lg butuh baju itu untuk acara besok pagi, bisa sy beli baju itu?” ujarku langsung menunjuk baju yg kumaksud untuk langsung kubeli.

“Maaf Pak, tidak bisa, besok pagi aja datang lagi..” Ujarnya.

“paling 5 menit mbak, sy udah langsung bayar..” Ujar mencoba menawar waktu.

“Maaf pak sudah malam, besok lg”.

Akupun langsung pergi mencari di tempat lain yang bersedia melayani.

Dari pengamatanku, sepertinya di toko pertama dan kedua yang menolakku karena terlalu awal datang atau di akhir waktu bukanlah pemilik toko tersebut Atau minimal sense of businessnya kurang.

Memang, keduanya berada di kondisi sebelum dan sesudah toko buka dan tutup. Namun, Andai saja saat itu sang pemilik hadir di sana, atau penjaga toko tadi meningkatkan kepekaan bisnisnya, mungkin akan berbeda perlakuan terhadap customer yang datang. Mereka akan segera menangkap peluang dan memuaskan kebutuhan pelanggan, terutama di saat customer sangat membutuhkan.

Lantas bagaimana dengan lingkungan kantor dan bisnis kita saat ini?

Jangan-jangan bisnis kita mulai buka jam 8.00, malah kita yang ‘memaksa’ konsumen menunggu hingga pukul 8.30 atau 9.00 karena keterlambatan kita dalam kesiapan melayani atau karena terbiasa tidak sigap melayani. Kalau itu terjadi, layakkah kita dipercaya sebagai orang bermental professional?

Syukurlah kalau itu tidak terjadi…

Oleh : Abdul Latief S Mulyadi

BAGIKAN