Beranda Opini Apa Kabar Indonesia Yang Melupakan Sejarah?

Apa Kabar Indonesia Yang Melupakan Sejarah?

Apa Kabar Indonesia Yang Melupakan Sejarah
Ilustrasi (Alexandr Podvalny/Pexels)

Pelitabanten.com – “Sejarah? Apa itu sejarah?” Beginikah kata – kata pantas yang terucapkan dari mulut para zaman sekarang? hati mendengarkan ucapan itu sampai ke tulang – tulang. Sebegitu remehkah mereka dengan sejarah – sejarah yang kita punya dan dimiliki oleh bangsa kita yang tercinta ini “Bangsa Indonesia”. Kemanakah jiwa – jiwa nasionalisme mereka yang menyebutkan itu?

Di sudut kaca mata kalian, apa sih definisi sejarah itu sampai kalian meluluhlantakkan kata itu? Sejarah itu merupakan kisah kenangan yang berharga. Titik – titik air mata dan keringat berjatuhan demi terwujudnya hal perihal goal mereka. Sebegitu tegakah kalian tidak menghargai jasa – jasa para pahlawan yang sudah memiliki pelupuk mata untuk menebas para penjajah – penjajah itu.

Sejarah itu tidak serta merta merupakan cerita yang berlandaskan hanya masa lalu saja akan tetapi merupakan suatu pelajaran yang penting dalam menghadapi era yang akan datang. Era yang dimana keturunan demi keturunan untuk hidup lebih tentram dan aman serta nyaman dan harmonis itu terlaksana dalam proses jangka waktu yang panjang. Tapi dengan enaknya mulut itu berkata “Sejarah, buat apa diingat – ingat kembali? Yang udah berlalu yaudah. Gak usah diungkit – ungkit lagi”. Bukan seperti itu maksud dan tujuan sejarah ini berada. Sejarah disini berada di depan kita untuk mengenang betapa besar perjuangan seseorang / negara dalam memerintahkan sesuatu, asal usul adanya orang / tersebut bisa muncul ke permukaan dan menunjuk pertanyaan dari adanya formula 5W + 1 H itu berada.

Baca Juga:  Angpao Imlek, Triliunan Rupiah yang Berpindah Tangan dalam Satu Hari

Bayangkan jikalau dunia kita ini tidak adanya sejarah, apa yang akan kalian lakukan ? Bagaimana caranya kalian mengetahui asal usul / awal mulanya Negara Indonesia kita ini merdeka. Bisakah kalian menebaknya dengan mudah? Bisakah kalian dengan mudahnya merangkai kata – kata yang akan digoreskan hitam diatas putih dengan enaknya ? Jawabannya tentu tidak. Semua memerlukan realitas. Semua memerlukan . Semua memerlukan bukti. Sontak, jikalau kalian dengan mudahnya merangkai kata – kata tanpa adanya suatu penelitian terlebih dahulu, apakah semuanya akan berjalan dengan mulusnya seperti halnya alias jalan bebas hambatan? Tentu tidak lagi jawabannya. Jalan tol yang dianggap jalan bebas hambatan saja pastinya juga bisa mengalami macet, kecelakaan dan lain sebagainya. Semuanya pasti akan berkaitan erat dengan hubungan kausalitas. Semua yang kalian tanam itulah yang akan kalian tuai.

Baca Juga:  Usia Produktif Tanpa Produktivitas?

Jangan dengan mudahnya melemparkan tisu ke dalam tong . Sejarah tidaklah bisa seperti itu. Sejarah yang kita cintai ini harusnya bisa dilestarikan kebudayaannya. Sejarah yang kita cintai ini harusnya selalu dipelajari lebih dalam dan dikenang bersama dengan kehidupan real kita sekarang. Sejarah bisa punah keberadaannya jikalau tidak dilestarikan oleh kita para . Apakah harus selalu serta merta yang tua melestarikan sejarah ini? Jawabannya tentu tidak. Mereka pasti akan meninggalkan kita entah itu lambat atau cepat. Jikalau mereka dan tidak meneruskan kebudayaan sejarah itu, siapa yang akan mempertahankan adanya sejarah itu? Hilang dan berdebu itulah jawaban yang paling tepatnya.

Sekarang, kita berkilas pandang sedikit saja mengenai “Bangunan – Bangunan sejarah yang ada di Indonesia” apakah mereka terawat dengan baik dan terjaga kelestarian aslinya? Ya, untuk jawaban sekarang, jikalau nanti? Apalah daya yang bisa dilestarikan bangunan – bangunan sejarah itu jikalau di zaman sekarang saja, pemuda – pemuda tidak menyukai apalagi mencintai sejarah. Bisa ambruk lama – lama itu bangunan – bangunan yang vital.

Baca Juga:  Fakta Mengagumkan Bila Darah Manusia Dicampur Dengan Air

Lantas, bagaimanakah caranya guru sebagai pendidik mengajarkan sejarah ini sampai benar – benar tidak dilupakan oleh siswa dan siswi? Harus metode yang seperti apakah yang sesuai? Pertanyaan ini lagi – lagi jatuh ke dalam dunia yang sebenarnya tidak patut untuk disalahkan. Padahal, yang salah rata – rata dari kebanyakan dari diri mereka yang belajar mengenai sejarah itu seperti apa keseriusannya. Itulah seharusnya pertanyaan yang patut dilontarkan kepada banyak orang agar mengetahui presentase yang real terhadap fakta di data lapangan.

Banyak 3 dari 10 orang yang hanya bisa mempelajari dan mencintai sejarah itu dengan sepenuh hati serta melestarikan kebudayaannya. Betapa mirisnya sejarah ini. Minat baca di Indonesia saja melemah sekali bagaimana dengan mencintai sejarah kita sendiri? Bisa – bisa Indonesia akan dilanda melupakan sejarah dari turun generasi ke generasi.

Regina Permatadewi Tantiany GunawanPenulis: Regina Permatadewi Tantiany Gunawan (Mahasiswi Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten)