Beranda Opini Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Pemukiman Kumuh Akibat Urbanisasi di Kota Tangerang

Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Pemukiman Kumuh Akibat Urbanisasi di Kota Tangerang

Pemukiman kumuh
Ilustrasi (ISTIMEWA)

Pelitabanten.com – Fenomena yang kerap terjadi di kota-kota besar di Indonesia salah satunya adalah fenomena pertumbuhan penduduk yang begitu pesat yang tidak disertai dengan beberapa aspek seperti sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tingginya pertumbuhan penduduk di kota dapat terjadi karena dua hal, yang pertama terjadi pertumbuhan penduduk secara alami dan kedua terjadi karena adanya arus urbanisasi akibat tingginya jumlah migrasi (Soebyakto & Saputra, 2015).

Arus urbanisasi yang terjadi di kota-kota besar salah satunya adalah Kota Tangerang terjadi karena banyaknya pembangunan pusat-pusat penggerak perekonomian terutama di bidang industri, serta adanya anggapan bahwa di perkotaan untuk mendapatkan berbagai macam jenis umum sangat didapatkan karena lengkapnya yang ada di kota seperti jaringan internet, kebutuhan hiburan, tempat berlibur dan tersedianya alat transportasi umum yang akan memudahkan melakukan aktifitas, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk melakukan urbanisasi.

Beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya arus urbanisasi seperti: 1) adanya perbedaan pertumbuhan penduduk dan ketidak merataan yang ada di desa dan di kota dalam berbagai aspek kehidupan; 2) semakin luasnya dan membaiknya penyebaran sarana dan prasarana transportasi, 3) tingginya pertumbuhan industrialisasi di kota-kota besar yang banyak menyebabkan banyaknya peluang kerja (Saefullah, 1994).

desa yang melakukan urbanisasi terkadang merupakan masyarakat yang perekonomiannya menengah ke bawah, sehingga muncul anggapan bahwa mereka hidup di kota hanya bersifat sementara untuk meningkatkan perekonomian, hal ini dapat dilihat dari tempat tinggal mereka yang sebagian besar hanya bersifat sementara. Pembangunan tempat tinggal yang bersifat sementara yang ada di perkotaan menyebabkan munculnya pemukiman-pemukiman yang dapat dikatakan kumuh.

Berdasarkan data daftar kelurahan peningkatan kualitas pemukiman program NSUP, bahwasannya pemukiman kumuh di kota Tangerang terdiri dari berbagai kelurahan atau desa, yaitu ranca kelapa seluas 21,57; Pisangan Jaya seluas 21,1; Mekar Jaya seluas 32,90; Tegak Kunir Kidul seluas 10, 28; dan Dadap seluas 0,84. Meski begitu desa dan kelurahan yang tergolong pemukiman kumuh tersebut semakin membaik hari demi harinya. Pertumbuhan penduduk yang diakibatkan oleh arus urbanisasi bukan hanya berdampak pada kesenjangan kondisi akan tetapi juga berdampak pada kondisi sosial budaya setempat terutama pada daerah tujuan.

Baca Juga:  SWF, Pendanaan Pembangunan, dan Akuntabilitas

Tingginya pertumbuhan akibat arus urbanisasi menyebabkan tingginya keberagaman budaya, karena penduduk pendatang tidak berasal dari daerah yang sama. Seperti halnya yang terjadi di salah satu pemukiman di Kota Tangerang, yaitu Kampung Babakan, Kecamatan Curug, Kota Tangerang yang telah mengalami berbagai perubahan dari segi sosial maupun budayanya.

Kondisi Sosial Budaya akibat Urbanisasi di Kota Tangerang

Fenomena urbanisasi yang terjadi di suatu tempat terkadang dikaitkan dengan kondisi sosial daerah maupun daerah tujuan. Tidak hanya berpengaruh pada perubahan kondisi sosial ekonomi, urbanisasi juga dapat berpengaruh pada perubahan sosial budaya setempat. Dalam perubahan sosial budaya yang terjadi berupa masyarakat yang pada mulanya menggunakan cara hidup tradusional kini telah menuju ke caha hidup modern yang di bawa dari daerah luar.

Perubahan di sini berupa perubahan yang terjadi pada kebiasaan masyarakat, norma, adat-istiadat, dan dapa berupa hubungan kekeluargaan di pedesaan maupun perkotaan. Perilaku yang lebih modern menyebabkan masyarakat disibukkan dengan kegiatan dalam meningkatkan perekonomian, sehingga dapat menyebabkan kegiatan sosial budaya yang selama ini dianut oleh masarakat sering kali terlupakan. Contohnya nyatanya dapat kita lihat pada saat kegiatan sehari-hari seperti gotong-royong, kerja bakti, silaturahmi dengan tetangga, tolong-menolong dalam kegiatan acara-acara adat ataupun hari-hari besar lainnya kina lambat-laun sudah mulai memudar di masyarakat kota, begitupun di Kampung Babakan, Kecamatan Curug, Kota Tangerang.

Kondisi sosial budaya saat ini di kota-kota besar telah banyak mengalami pergesaran, seperti halnya kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya tradisonal seperti halnya gotong-royong. Masyarakat yang beragam dan berasal dari berbagai macam daerah menyebabkan tigginya perbedaan sikap, perilaku, kebiasaan, dan cara pandang terhadap kebudayaan dalam masyarakat.

Kebudayaan yang seringkali digabungkan dengan kebudayaan lain yang bersifat modern, menyebabkan kebiasaan-kebiasaan atau kebudayaan yang lama tersebut mulai memudar di masyarakat. Di zaman yang modern dengan penggunaan teknologi canggih ada beberapa hal positif yang dapat ditimbulkan dalam kebudayaan menurut (Hermawan, 2012) pertama, pesan-pesan komunikasi dimedia massa dapat memperkokoh polapola budaya yang berlaku serta membimbing masyarakat agar yakin bahwa pola-pola tersebut masih tetap berlaku dan dipatuhi masyarakat. Kedua, media massa dapat menciptakan pola-pola budaya baru yang tidak bertentangan dengan budaya yang ada.

Baca Juga:  Kreatif Membangun Daerah Melalui Pemanfaatan Teknologi, KKM Tematik UNTIRTA 2021 Aplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi Bidang Pariwisata, Ekonomi, Pendidikan, dan Kesehatan

Namun dengan demikian, meskipun masyarakat Kota Tagerang salah satunya masyarakat Kampung Babakan, dalam kehidupannya sudah bersifat modern, akan tetapi beberapa kebudayaan di dareah-daerah tertentu tetap ada baik dilingkungan sekitar maupun di dalam masyarakat itu sendiri meskipun saat ini sudah sangat jarang dilaksanakan.

Permasalahan kebudayaan saat ini dipengaruhi oleh aktifitas masyarakat yang sangat padat, menyebabkan waktu mereka dihabiskan untuk kegiatan seharihari atau dihabiskan untuk bekerja, sehingga untuk kegiatan kebudayaan hanya sebagian masyarakat yang dapat ikut berpartisipasi. Ada sebagaian masyarakat yang mengalami perubahan secara statis dan dinamis. Tentunya hal ini tidak terlepas dari adanya tekanan urbanisasi yang ada di Kota Tangerang itu sendiri.

Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Pemukiman Akibat Urbanisasi di Kota Tangerang

Tingginya pertumbuhan penduduk akibat arus urbanisasi tidak jarang juga menyebabkan semakin bervariasinya kebudayaan dilingkungan masyarakat sekitar. Dengan budaya yang sangat beragam yang terdapat disuatu daerah dengan tingkat aktifitas yang sangat tinggi tentunya ada beberapa permasalahan yang sering muncul terkait kebudayaan di daerah perkotaan terlebih daerah perkotaan dengan tingkat modernisasi yang cukup tinggi tentunya akan mempengaruhi kebudayaan tersebut.

Perubahan akibat adanya urbanisasi di Kota Tangerang dapat dilihat dari gaya hidup masyarakatnya, karena perkembangan zaman yang semakin maju menyebabkan tingginya kebutuhan masyarakat, seperti halnya kebutuhan akan rumah, sandang, pangan, umum, dan semua hal yang bersifat modern. budaya yang ada di daerah ini sudah bersifat individualis atau sendiri-sendiri, masyarakat tidak lagi berbaur seperti masyarakat desa, tidak lagi mengutamakan kebiasaan yang bersifat tradisional hal ini terjadi karena adanya pengaruh dari perubahan zaman yaitu dari yang bersifat tradisional ke yang bersifat modern, aktifitas sehari-hari yang dilakukan masyarakat.

Menurut (Djoko, 1977) mengatakan bahwa pertambahan jumlah penduduk kota yang disebabkan oleh pertambahan alami maupun karena perpindahan telah meningkatkan tuntutan dan pelayanan akan kebutuhan seperti perumahan, pusat kesehatan, umum dan gaya hidup yang lebih modern. Terutama pada generasi muda saat ini yang lebih menyukai sesuatu hal uang bersifat modern dibandingan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan bersifat tradisional.

Baca Juga:  Dehumanisasi Pendidikan

Jika dilihat dari hubungan kekerabatan masyarakat setempat. Dampak negatif di kalangan remaja menyebabkan kurangna rasa sopan santun terhadap orang yang lebih tua, dan munculnya kesenjangan berinteraksi antara generasi muda dengan orang yang lebih tua.  Perubahan sosial budaya akibat urbanisasi juga dapat terjadi pada kebiasaan masyarakat yang bersifat sosial berubah menjadi kearah komersial.

Hal ini terjadi karena dua hal yaitu pertama dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tinggi rendahnya perekonomian masyarakat dapat menyebabkan berkurangnya jiwa sosial masyarakat. Kedua, dipengaruhi oleh waktu karena keterbatasan waktu mengharuskan masyarakat bersikap komersial terhadap segala sesuatu yang biasanya dapat dilakukan secara gotong royong. Contohnya nyatanya dapat kita lihat pada saat ada kerabat yang sedang berduka maka dalam kegiatan memandikan dan menguburkan jenazah tidak lagi dilakukan secara tolong-menolong, melainkan dilakukkan dengan cara membayar atau memberikan upah kepada orang yang mengerjakannya.

Kebudayaan yang terjadi pada masyarakat urban di permukiman tetap ada dan masih dijalankan oleh sebagian masyarakat walaupun tidak sekental kebudayaan yang ada di pedesaan. Terutama generasi muda yang tentunya bersifat modern.

Setiap masyarakat memiliki kebudayaan baik itu kebudayaan dan sudah seharusnya masyarakat untuk terus melestarikan. Karena kebudayaan yang ada dan bersifat positif tentunya harus terus dilestarikan, meskipun akibat perkembangan zaman menyebabkan kebudayaan mengalami penurunan ketenaran dalam masyarakat. Akan tetapi tidak sedikit masyarakat terus melestarikan kebudayaan yang ada meskipun hampir terkalahkan oleh perkembangan zaman.

Untuk melestarikan kebudayaan tersebut, kita sebagai masyarakat dapat melakukannya dengan cara meningkatkan kesadaran dalam diri sendiri akan pentingnya kebudayaan dalam kehidupan kita dan masyarakat, mengadakan kegiatan sosialisasi berkaitan dengan kebudayaan yang dimiliki dalam lingkungan sekitar, serta dengan menanamkan nilai-nilai sosial budaya kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dengan cara menerapkan dalam pembelajaran disekolah, menerapkan dalam lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Niken UtamiPenulis: Niken Utami (Mahasiswi Pendidikan Sosiologi 2019, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)