Beranda Opini Ibadah Seperti Apa yang Menjadi Tujuan Manusia?

Ibadah Seperti Apa yang Menjadi Tujuan Manusia?

484
BAGIKAN
Ibadah Seperti Apa yang Menjadi Tujuan Manusia?
Foto: KH Hendri Kusuma Wahyudi, Lc, Pimpinan pondok pesantren Modern Al Bayyinah Cisoka Tangerang

Pelitabanten.com – Lihatlah, Alloh SWT sebagai Pencipta seluruh jagad raya serta isinya telah mengatur kehidupan di dalamnya. Tiada makhluk pun yang terlewatkan dari pantauan Nya. Tidak pula Allah melupakan untuk menyediakan segala hal yang menjadi kebutuhan umat manusia, bahkan seluruh mahkluk yang ada di langit dan di bumi.

Semua itu disebabkan sifat Rahmannya Allah SWT. Semua makhluk telah mendapatkan kasih sayang Nya. Sehingga tidak ada sedikit pun, Allah berkehendak membinasakan umat manusia kecuali disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Bahkan dengan sangat jelas dalam Al quran Allah menciptakan makhluk yang bernama manusia untuk memakmurkan bumi.

Hidup dibumi merupakan perintah Alloh SWT. Dan perintah-perintah Nya tidak ada satu pun yang jelek bagi makhluk Nya. Karena saat para makhluk Nya melaksanakan perintah-perintah itu, sesungguhnya mereka mendapatkan keistimewaan di sisi Alloh SWT Nya. Dan ketaatan itulah yang disebut sebagai ibadah. Bagi para manusia yang beribadah karena Alloh SWT, disebut sebagai Khalifah.

Fungsi khalifah dalam Islam adalah menciptakan kebaikan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi alam dan isinya. Sehingga tercipta keseimbangan kehidupan diatas bumi. Akan tetapi dalam perjalanannya banyak di antara umat manusia yang tidak bersyukur kepada Nya, sehingga mereka keluar dari nilai dan ajaran Islam yang sebenarnya. Untuk itu, lihatlah ayat-ayat dibawah ini yang menerangkan tujuan dari penciptaan manusia:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” ( QS Al Baqarah: 30 )

Ayat diatas menekankan adanya tujuan yang jelas dengan diciptakannya manusia ( khlaifah ) diatas bumi ini. Di mana Dzat Allah SWT memposisikan manusia sebagai makhluk yang istimewa dan sempurna. Kesitimewaan manusia selain secara fisik, namun juga secara akal dan nafsu.

Tidak seperti para Malaikat yang hanya memeiliki ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT terhadap segala yang menjadi perintah Nya. Maka tatkala para Malaikat berlaku lurus, taat dan baik sebab tidak diberikan nafsu seperti halnya pada manusia.

Sebaliknya, para Iblis hanya memiliki nafsu dan tidak diberikan akal sebagai alat memfilter perbuatan baik dan buruk. Maka sudah pasti para Iblis akan condong kepada kejhahatan dan kemungkaran. Akan tetapi pada manusia, nafsu dan akal telah diberikan oleh Allah SWT. Sehingga mereka dikatakan sebagai makhluk yang sempurna sebab diberikan keduanya oleh Allah SWT.

Untuk itu, jika ada manusia selalu berbuat baik serta berusaha hari-hari selama hidupnya diisi dengan penuh kebaikan, maka ia lebih mulia dan istimewa di hadapan Nya daripada Malaikat. Sebab ia mampu menenkan nafsunya dan mempergunakan kesempurnaan akalnya sehingga dapat membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Dan pahala yang ia dapatkan dari Yang Maha Kuasa.

Begitu pula sebaliknya, jika ada manusia yang hari-harinya diisi dengan keburukan, kemungkaran dan kejahatan, maka ia lebih keji dari Iblis. Sebab ia telah diberikan kesempurnaan akal oleh Nya, namun dapat kalah oleh nafsunya sendiri. Sehingga akan yang diberikan oleh Allah tidak dipergunakan sebagai alat untuk membedakan mana kebaikan dan keburukan. Sehingga balasan yang kelak akan di terimanya adalah siksaan Api Neraka.

Selain tujuan untuk menciptakan kemakmuran diatas bumi, Allah SWT telah menegaskan pula tujuan lainnya pada manusia yaitu untuk beribadah/berbakti kepada Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam Alquran:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” ( QS Adzaariyaat: 56 )

Jadi tidak ada sesuatu yang sia-sia dalam penciptaan Allah SWT. Termasuk dalam menciptakan Adam dan keturunannya. Allah adalah Dzat yang mampu membuat sebaik-baik skenario. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat menyaingi dan menandingi segala yang Allah ciuptakan di bumi dan langit.

Sebagai manusia yang sadar telah dicptakan Nya, maka hendaknya untuk memperbanyak sujud dan syukur. Sebab dengan sikap tersebut dapat menghantarkanya menjadi hamba-hamba yang dipilih menjadi hamba yang bertaqwa.

Dimensi ibadah kepada Allah tidak terbatas kepada ibadah mahdah ( baku, yang tidak memerlukan pemikiran dan akal lagi ) seperti shalat yang sehari semalam 5 waktu, puasa ramadhan sebulan penuh, zakat yang takaran dan ukurannya telah dijelaskan serta berbagai ibadah lainnya. Dan ibadah-ibadah tersebut hanya membutuhkan ketaatan dan kepatuhan kepada Nya. Namun Allah juga menjadikan sisi-sisi lain kehidupan manusia akan disebut sebagai ibadah oleh Nya jika diniatkan ikhlas dan hanya karena Allah SWT.  Dalam hal ini semua tindakan dan perbuatan manusia akan dibalas dengan pahala dan kebaikan jika manusia itu melakukanya dengan berniat untuk Nya dan masih dalam koridor kebaikan. Dan standar kebaikan itu sendiri sesuatu perbuatan yang memiliki dan mengandung nilai positif. Sebuah tindakan dan perbuatan disebut memuat nilai positif jika memberikan manfaat-manfaat kepada khlayak ramai. Dan manfaat-manfaat tersebut harus dirasakan oleh semua kalangan, baik dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Untuk itu perbuatan-perbuatan yang hanya memberikan manfaat secara pribadi, seperti Korupsi digolongkan kepada perbuatan tercela dan tidak bermanfaat. Dan tentunya perbuatan tersebut dan sejenisnya hanya akan mendapatkan balasan berupa siksa Neraka di akhirat kelak.

Islam dengan beragam ajaran dan nilainya memberikan jalan yang terbaik bagi manusia. Dan penciptaan manusia oleh dzat Allah SWT memiliki tujuan yang mulia. Kewajiban manusia hanya untuk beribadah kepada Nya selain memiliki tujuan untuk memakmurkan bumi yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia sebagai khalifah.

Penulis Artikel; KH Hendri Kusuma Wahyudi, Lc sebagai Pimpinan pondok pesantren Modern Al Bayyinah Cisoka Tangerang

BAGIKAN