Mendorong Orang Kaya Belanja untuk Menggerakkan Ekonomi

Mendorong Orang Kaya Belanja untuk Menggerakkan Ekonomi
Ilustrasi (Pete Linforth/Pixabay)

Pelitabanten.com – Indonesia secara teknis akhirnya memasuki resesi, sebagaimana rilis data BPS pada awal November 2020 yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Menteri Keuangan dalam beberapa kali kesempatan menyatakan bahwa sangat penting bagi Indonesia untuk dapat menggerakkan perekonomian pada kuartal ketiga tahun 2020, sehingga kuartal keempat 2020 bisa mulai pulih secara perlahan. Harapannya agar tahun depan ekonomi Indonesia bisa bernapas lebih leluasa. Apakah pilihan-pilihan kebijakan untuk menggerakkan ekonomi?

Pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek dari sisi permintaan dapat digerakkan dari konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah atau dari ekspor. Pertumbuhan yang berkelanjutan tentu saja sebaiknya berdasar pada penambahan modal, peningkatan kualitas SDM, peningkatan teknologi, dan perbaikan institusi. Pertumbuhan tersebut akan berkelanjutan tetapi hanya dapat dicapai dalam jangka panjang, yang perlu diusahakan dengan program perubahan struktural. Jadi pilihan untuk mengatasi goncangan ekonomi secara cepat tidak dapat bertumpu pada perubahan struktural, meskipun hal tersebut dibutuhkan untuk bertumbuh lebih cepat.

Pilihan kebijakan yang lebih berdaya guna dalam jangka pendek untuk mengatasi konstraksi ekonomi adalah dorongan dari sisi konsumsi dan pengeluaran pemerintah. Investasi sangat penting untuk menyokong pertumbuhan, tetapi dengan permintaan masyarakat yang masih rendah, perusahaan masih dapat memenuhi permintaan tersebut dengan kapasitas yang ada. Artinya, investasi yang baru belum diperlukan dan tentu peran investasi bagi pertumbuhan ekonomi belum dapat diandalkan.  Selanjutnya, peran dari ekspor juga belum dapat dijadikan tumpuan karena pasar internasional pun sebagian besar masih berjibaku dan belum pulih dari wabah Covid-19 ini. Pemerintah sudah banyak menganggarkan dana, yang salah satunya adalah perlindungan sosial untuk mendorong konsumsi orang miskin. Bagaiman dengan konsumsi orang kaya?

Artikel ini sengaja menulis tentang kebijakan untuk orang kaya, bukan karena melupakan orang miskin. Justru karena kita semua sudah mengetahui bahwa banyak sekali kebijakan pemerintah untuk menolong orang-orang miskin di masa wabah Covid-19 ini. Sebut misalnya kebijakan perlindungan sosial dalam bentuk Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sembako, bantuan sosial tunai, Kartu Pra Kerja, diskon listrik dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa. Belanja orang kaya perlu didorong karena faktanya mereka masih mempunyai uang yang jika dipakai untuk belanja, bisa mendorong menggerakkan ekonomi secara signifikan pada masa pandemi ini.

Dalam paparan Pak Chatib Basri pada Simposium Nasional Keuangan Negara pada tanggal 5 November 2020, beliau menyatakan pentingnya mendorong belanja golongan kaya. Menurut pengamatan beliau, konsumsi golongan masyarakat miskin sudah relatif membaik, meskipun faktanya tidak bisa maksimal karena golongan tersebut mempunyai pendapatan yang terbatas. Di lain pihak, orang kaya mempunyai uang, tetapi tidak mau belanja. Konsumsi golongan kaya belum kembali seperti level sebelum krisis.

Jika dicermati, sebenarnya golongan masyarakat yang mampu, belanjanya juga sudah relatif meningkat, meskipun belum pulih seperti sebelum wabah. Dengan demikian, terdapat kecenderungan orang kaya lebih banyak menahan uangnya. Selain itu, orang kaya menurunkan belanja untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi meningkatkan belanja yang terkait dengan hobi atau wisata. Ini diduga terkait dengan kebijakan untuk bekerja dari rumah (work from home), sehingga untuk mengisi waktu yang luang, banyak pegawai yang membeli barang-barang kegemaran misalnya alat olah raga, sepeda, tanaman, atau hewan. Sebenarnya permintaan untuk barang-barang hobi ini tidak terbatas pada orang yang sangat kaya, karena banyak kita temui kelas menengah yang juga mengikuti trend yang sama. Itulah sekelumit  penjelasan mengapa bersepeda atau tanaman janda bolong menjadi hobi yang viral di masa pandemi ini.

Dalam hal wisata, orang yang mampu, yang lebih sadar kesehatan dan bahaya Covid-19, akan memilih untuk menghindari angkutan umum dan memilih mengendarai mobil sendiri. Demikian pula, mereka cenderung akan menghindari hotel dan lebih memilih penginapan yang lebih aman, misalnya resort. Jadi sebenarnya terdapat pengeluaran belanja, tetapi terdapat pergeseran jenis barang yang dibeli. Pergeseran ini menyesuaikan dengan kondisi bekerja dari rumah dan selaras pula dengan permintaan standar kesehatan yang lebih tinggi dari bahaya paparan virus covid-19.

Jadi, apakah masalahnya? Para ahli sepakat bahwa faktor kesehatan harus beres dulu, baru kita bisa berharap belanja dan ekonomi akan naik. Orang kaya tentu tidak perlu BLT sebagaimana orang miskin. Harapannya tergantung pada adanya vaksin yang semoga bisa terdistribusikan pada awal tahun 2021. Meskipun demikian, kita perlu waspada karena tidak otomatis vaksin yang tersedia bisa didistribusikan kepada semua anggota masyarakat secara luas dalam waktu yang singkat. Sebagaimana keterangan dari pemerintah, terdapat prioritas kelompok masyarakat yang akan terlebih dahulu memperoleh vaksin. Urutan pertama ditempati petugas kesehatan dan aparat yang bertugas di garda depan. Setelah itu, tokoh agama dan masyarakat, guru dan tenaga pendidik, aparat pemerintah dan legislatif, penerima bantuan iuran BPJS, dan masyarakat umum serta pelaku perekonomian. Jadi masih diperlukan waktu yang relatif lama agar semua kalangan bisa mendapat vaksin dan bebas bergerak serta beraktivitas ekonomi seperti sebelumnya.

Penanganan Covid-19 yang baik akan meningkatkan kepercayaan untuk kembali beraktivitas tanpa takut tertular virus. Setelah itu baru permintaan belanja akan naik, dan kemudian investasi swasta bisa berkembang. Dengan demikian, semakin bagus kita menangani masalah kesehatan ini, maka pertumbuhan ekonomi akan naik. Hal ini terutama diawali dengan peningkatan konsumsi, khususnya dalam hal ini belanja kelompok menengah dan kaya.

Dengan pola hidup yang lebih sehat, masa pandemi ternyata meningkatkan permintaan atas barang hobi dan komoditas kesehatan. Yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai permintaan belanja kelompok menengah dan kaya ini menambah permintaan impor. Semoga wabah ini bisa segera diatasi untuk kebaikan kita semua. Lebih bagus lagi apabila peningkatan konsumsi disalurkan dengan membeli produk UMKM dan komoditas produksi dalam negeri yang dijual di warung tetangga.

Penulis: Akhmad Solikin, SE, MA, PhD, CA (Dosen Politeknik Keuangan Negara STAN)Penulis: Akhmad Solikin, SE, MA, PhD, CA (Dosen Politeknik Keuangan Negara STAN)