Pendidikan Mewujudkan Keadaban

Pendidikan Mewujudkan Keadaban
Ilustrasi (Michal Jarmoluk/Pixabay)

Pelitabanten.com – Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman. Beragam suku, budaya, agama, bahkan ras mewarnai negara tercinta kita. Keberagaman inilah yang terkadang menimbulkan konflik antar individu. Konflik ini terjadi apabila terdapat perbedaan pemahaman diantara individu maupun kelompok. Adanya perbedaan ini haruslah disikapi dengan bijak agar tidak menjadi ancaman bagi seluruh umat.

Sikap bijak yang dapat dilakukan diantaranya adalah saling memahami, toleransi kepada sesama, menghindari kekerasan, dan menjaga kerukunan. Toleransi sendiri merupakan suatu sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan antar kelompok atau individu dalam masyarakat atau dalam lingkup hidup lainnya. Bentuk toleransi dapat dilakukan dengan memberi kebebasan kepada individu atau kelompok untuk menjalankan keyakinan, mengatur hidupnya, hingga menentukan nasibnya masing-masing, yang pastinya tidak bertentangan dengan ketertiban dan syarat-syarat kedamaian dalam masyarakat.

Upaya untuk membudayakan nilai-nilai toleransi harus dilakukan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Dalam lingkungan sekolah sikap toleransi dan kebersamaan menjadi salah satu pilar yang penting dan paling mendasar untuk dikembangkan. Di sekolah pun biasa kita jumpai perbedaan-perbedaan yang tidak mustahil berubah menjadi benturan-benturan yang mengarahkan kepada konflik. Dalam rangka memperbaiki serta membangun Indonesia yang lebih baik, hendaklah pertama-tama penanaman sikap toleransi yang harus dibangun melalui upaya pendidikan. Layaknya suatu prinsip dasar yaitu “Hasil pendidikan tertinggi adalah toleransi.” – Hellen Keller

Membangun nilai dan sikap toleransi melalui pendidikan harus terus diupayakan walaupun saat ini kita sedang berada di iklim pandemi. Apalagi belakangan ini, tindakan intoleransi cukup marak terjadi di negeri ini. Seperti dikutip dari Setara Institute bahwa pada 21 September 2020 terjadi pelarangan ibadah bagi umat Kristen di Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Perilaku Bullying dan diskriminasi juga masih kerap terjadi di sekolah-sekolah. Benih intoleransi ini muncul karena berbagai faktor, salah satunya kurangnya penanaman nilai agama dan nilai saling memahami antar sesama di sekolah. Dari sini bisa dilihat bahwa proses pendidikan di negeri ini belum cukup optimal membentuk warga negara yang mampu mewujudkan suatu keadaban bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta belum mampu mengkreasi manusia Indonesia seutuhnya.

Lembaga pendidikan merupakan salah satu wadah yang penting untuk menanamkan dan menumbuhkan perilaku toleransi. Peran lembaga ini perlu ditingkatkan karena ia merupakan lembaga serta media strategis untuk pembenihan dan reaktualisasi sikap toleransi. Pendidikan nilai toleransi bagi bangsa Indonesia merupakan suatu kebutuhan, karena keanekaragaman jika tidak dilandasi semangat toleransi yang tinggi dan landasan pandangan hidup yang kukuh, maka ikatan kebangsaan pun dapat mengendur, bahkan berpotensi terlepas. Agaknya tidak berlebihan bila disamakan dengan statement “Jika peradaban ingin bertahan hidup, kita harus mengembangkan ilmu hubungan manusia – kemampuan semua orang, dari semua jenis, untuk hidup bersama, di dunia yang sama dalam damai.” – Franklin D. Roosevelt

Pembekalan nilai toleransi antar individu sebenarnya telah terkandung dalam berbagai mata pelajaran yang diterapkan di sekolah, namun kenyataannya masih dibutuhkan tambahan agar tidak hanya sebatas materi ajar yang umumnya berbentuk uraian sehingga kurang pengaplikasiannya. Oleh sebab itu, perlu upaya yang terus menerus dan secara terencana diarahkan untuk membudayakan toleransi ini. Salah satunya yaitu bisa digunakan model pembelajaran yang berpusat pada peningkatan sikap toleransi seperti pembelajaran diskusi berkelompok, bermain peran, dan penelitian observasi masyarakat dan sosial.

Dengan begitu diharapkan pembelajaran di sekolah tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan pengembangan intelektual siswa saja. Namun, kepribadian dan karakter siswa pun dibangun dan dibentuk di sekolah. Untuk itu penegasan terhadap makna toleransi dalam lingkungan sekolah sangatlah penting. Tujuan pembentukan sikap toleransi siswa di sekolah salah satunya yaitu menjadi wahana latihan agar siswa dapat lebih lanjut mengimplementasikan dan mengembangkannya secara luas dalam kehidupan masyarakat dan agar mereka menjadi manusia yang beradab. Selain itu juga dikarenakan sekolah sebagai lembaga pendidikan memang memiliki tanggung jawab secara inklusif terhadap pembentukan intelektual dan kepribadian siswa secara utuh.

Kenyataannya, toleransi bukan berarti harus mengikuti apa yang orang lain inginkan yang dapat mengubah prinsip hidup kita, tapi bagaimana kita bisa menempatkan diri kita diatas perbedaan yang ada. Penghormatan terhadap keragaman juga dimaksudkan bahwa setiap orang dituntut untuk mampu melihat perbedaan yang ada pada orang atau kelompok lain sebagai sesuatu yang tidak harus dipertentangkan dengan apa yang ia miliki. Adanya perbedaan seharusnya tidaklah dijadikan sebagai pemecah belah antar individu ataupun kelompok. Allah SWT memberikan anugerah perbedaan diantara kita agar kita bisa saling mengenal satu sama lain.

Dwi Rizki MutiarasaniPenulis: Dwi Rizki Mutiarasani (Mahasiswi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA)