Dukung Kenaikan Harga Rokok, CHED ITB Ahmad Dahlan Bahas Ketahanan Ekonomi Keluarga Dimasa Pandemi

Dukung Kenaikan Harga Rokok, CHED ITB Ahmad Dahlan Bahas Ketahanan Ekonomi Keluarga Dimasa Pandemi

JAKARTAPelita Banten.Com-Dimasa pandemi covid 19 ini ketahanan keluarga menjadi sebuah tantangan besar di setiap keluarga. Secara ekonomi terjadi banyak goncangan, khususnya untuk kepala keluarga yang bekerja informal terutama pekerja harian, harus bisa mengelola anggaran dana sebaik-baiknya . Ketahanan keluarga dalam situasi apapun menjadi hal penting dalam upaya membangun SDM masa depan bangsa yang tangguh dan unggul.

Tantangan keluarga semakin berat ketika dalam satu keluarga ada yang merokok, rokok merupakan racun keluarga dari berbagai aspek. Secara ekonomi jelas pengeluaran untuk rokok akan mengurangi tambahan asupan gizi atau pemenuhan kebutuhan lainnya, dari sisi kesehatan sangat jelas lagi bahwa rokok merupakan sumber penyakit tidak menular mematikan nomor satu di dunia. Secara agama dan sosial merupakan hal yang banyak mendatangkan mudharat (kerugian) baik bagi diri sendiri atau orang lain dan lingkungan.

Memprihatinkan sekali melihat realitas harga rokok di Indonesia yang masih sangat murah dan di jual bebas tanpa ada kendali usia di pasaran. Survei berbagai kelompok umur di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan tren peningkatan penggunaan tembakau di kelompok anak dan remaja.

Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan revalensi merokok di kelompok usia 10–19 tahun melonjak dari 7,2% pada tahun 2013 hingga 9,1% pada tahun 2018, hampir 20% lebih tinggi dibandingkan prevalensi lima tahun sebelumnya. 2014 Global Youth Tobacco Survey untuk kelompok usia 13–15 tahun juga menunjukkan bahwa 20,3% pelajar; 36,2% anak lakilaki; dan 4,3% anak perempuan menggunakan tembakau. Data 10 tahun terakhir untuk dewasa muda berusia 20–24 tahun menunjukkan prevalensi merokok hampir meningkat dua kali lipat, dari 17,3% pada tahun 2007 menjadi 33,2% pada tahun 2018.

Berdasarkan data BPS bahwa di Indonesia rokok adalah konsumsi nomor dua setelah beras, dan rata-rata dari keluarga dengan status pendapatan menengah kebawah sampai keluarga miskin. Hampir 70% penduduk Indonesia adalah perokok,dan eksternalitas negatif yang ditimbulkan tidak menjadi peringatan bagi masyarakat maupun pemerintah. Kenaikan harga rokok setinggi – tingginya akan mendorong Indonesia bersiap mencapai SDGs dan menaikkan level negara yang lebih sejajar dengan negara-negara yang memiliki nilai-nilai berkemajuan.

Ini menunjukan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah dan memutarbalikkan kondisi agar keuntungan bonus demografi Indonesia benar-benar akan tercipta.

Dampak Positif Kenaikan Cukai Hasil Tembakau 25%, kematian dini dapat dicegah
340.000 jiwa, prevlensi pada anakdan remaja turun dari 9,1% menjadi 8,6%, perubahan pendapatan rumah tangga naik sekitar 0,3%, perubahan PDB naik menjadi 0,0026%.

Peran ‘Aisyiyah dalam mewujudkan keluarga sakinah melalui pembinaan keluarga dengan terus mendorong aktif wanita dalam kehidupan sosial ekonomi, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat, serta melalui strategi pendampingan ‘Aisyiyah dalam mencapai terbentuknya keluarga sakinah di kalangan anggotanya.

Untuk itu kami dari Center of Human and Economic Development ITB Ahmad Dahlan Jakarta sebagai pusat kajian menggelar webinar (27/10) dalam rangka mendukung kesejahteraan masyarakat yang lebih berkeadilan berharap bisa saling bergandeng tangan bersama untuk mewujudkan keluarga sejahtera bebas rokok di Indonesia dengan mendukung pemerintah terutama presiden untuk menaikkan harga rokok setinggi tingginya.*