Dompet Digital Marak Saat Pandemi, Apa Saja Kelemahannya?

Dompet Digital Marak Saat Pandemi, Apa Saja Kelemahannya
Ilustrasi (Mohamed Hassan/Pixabay)

Pelitabanten.com – Wabah Covid-19 yang terjadi di Indonesia selama beberapa bulan terakhir membuat masyarakat menjadi enggan untuk pergi keluar rumah.Walaupun masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah usai, terlihat beberapa pusat perbelanjaan maupun pasar tradisional di beberapa daerah masih sepi. Hal ini menyebabkan penggunaan uang tunai juga menurun.

Namun, berbeda dengan kegiatan jual beli offline yang melemah, justru terjadi lonjakan penggunaan e-commerce dan uang elektronik. Masyarakat mulai terbiasa untuk berbelanja secara online untuk menghindari kontak dengan orang lain. MarkPlus.Inc mencatat bahwa belanja online meningkat hingga hampir 30% selama pandemi ini.

Peningkatan ini tentu menyebabkan penggunaan uang elektronik juga meningkat tajam. Para pembeli biasanya membayar belanja tersebut dengan teknologi uang elektronik dan dompet digital seperti transfer bank, Dana,OVO, Gopay, ShopeePay, maupun Link Aja. Dompet-dompet digital tersebut juga menyediakan fasilitas-fasilitas pembayaran lain yang juga memudahkan pengguna, seperti pembayaran tagihan listrik dan BPJS, pembelian pulsa, transfer antar pengguna, dan fasilitas lainnya. Namun dibalik kemudahan dan kepraktisan dompet-dompet digital tersebut, tentu masih terdapat beberapa kelemahan yang harus segera dibenahi oleh penyedia jasa.

Lalu apa saja kelemahan penggunaan dompet digital?

1. Menggunakan Koneksi Internet

Koneksi internet merupakan hal wajib ketika ingin melakukan transaksi dengan dompet digital. Sinyal internet yang tidak di semua tempat ada dan kadang mengalami gangguan menjadi hambatan pengguna untuk melakukan transaksi pembayaran.

2. Terdapat Limit Saldo Maksimal

Berbeda dengan penyimpanan tabungan di bank yang tidak memiliki limit maksimal, penyedia dompet digital membatasi saldo penggunanya. Biasanya mereka mematok limit saldo maksimal 10 hingga 20 juta saja. Hal ini tentu membatasi pengguna untuk melakukan transaksi dengan skala besar.

3. Tidak Semua Merchant Bekerjasama

Tentu pembayaran dengan uang elektronik atau lebih spesifiknya dompet digital, hanya bisa dilakukan dengan merchant yang bekerjasama dengan penyedia jasa keuangan tersebut. Sedangkan sekarang masih lebih banyak merchant yang tidak bekerjasama terlebih di daerah pinggiran.

4. Tidak Mendapatkan Imbal Balik

Penyimpanan uang di dalam dompet digital sayangnya tidak mendapatkan imbal balik seperti bunga yang diberikan oleh bank. Tentu saja masalah ini juga menjadi pertimbangan masyarakat dalam mengonversi uang mereka menjadi berbasis elektronik.

Kelemahan-kelemahan tersebut seharusnya dapat segera diatasi oleh para penyedia jasa, mengingat berlakunya masa normal baru yang sudah berjalan dan pembayaran menggunakan uang elektronik mulai marak digunakan. Perbaikan layanan akan meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan jasa tersebut dan juga mengurangi penyebaran virus melalui uang kartal.

Penulis: Arina Noor Rahma
(Mahasiswi semester ke-4 prodi DIII Kebendaharaan Negara PKN STAN Tangerang Selatan Banten)