Covid-19, Lebak Jangan Banyak Diam

Covid-19, Lebak Jangan Banyak Diam
Ilustrasi (Foto: [email protected])

Pelitabanten.com – Bak pecah telor, salah satu warga Lebak ada yang terinfeksi virus corona. Yang dari dulu warganya selalu santai prihal virus ini. Banyak yang meremehkan bahkan tidak percaya dengan adanya virus ini. Bukan tanpa sebab dan alasan jelas. Yang pasti faktor ketidaktahuan serta kurangnya informasi yang akurat.

Berita yang bertebaran dimedia bahkan dianggap hanya setingan politik yang dilakukan oleh pemerintah. Dan juga budaya serta kebiasaan warga lebak yang terbilang masing dikawasan pelosok dan kental akan tradisi-tradisi leluhur.

Seperti budaya Saling memberi makanan sebelum puasa, riungan untuk mendoakan orang yang telah meninggal, dan beberapa kegiatan yang jika ditinggalkan “Pamali” katanya.

Sempat menjadi satu-satunya daerah “steril” corona di Banten, sekarang satu warga lebak terinfeksi virus corona. Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kabupaten Lebak, Firman Rahmatullah membenarkan telah menerima informasi bahwa ada salah satu pasien dari Lebak, Banten yang kini menjalani perawatan di RSUD Banten terkonfirmasi positif Covid-19.

“Betul, saya dapat kabar dari Tim Surveilans yang dihubungi oleh pihak Dinas Kesehatan Provinsi Banten bahwa ada pasien dari Lebak terkonfirmasi positif,” kata Firman kepada bantennews.co.id melalui sambungan telepon, Kamis 21 Mei 2020.

Sebaran data mengenai virus corona di Lebak sendiri terdapat OTG 41 ODP 543 PDP 31 dan Konfirmasi Covid-19 1. (Sumber Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak. Update 21 Mei 2020)

Mengenai anjuran serta himbauan untuk tidak mudik oleh pemerintah. Bak angin berlalu saja. Nyatanya pendatang dari zona merah ke Stasiun Rangkasbitung membludak tinggi. Beberapa media telah menyiarkan kepadatan yang terjadi di Stasiun Rangkasbitung pada hari Kamis 21 Mei 2020.

Hal yang memperparah keadaan adalah tidak adanya protokol kesehatan yang memadai seperti anjuran phsical distancing, tidak ada tempat cuci tangan yang memadai, dan tidak ada proses rapid tes yang diadakan di Stasiun tersebut.

Hal ini membuat beberapa masyarakat risau akan kesehatan masyarakat Lebak yang bahkan masih ada saja yang satai prihal ini. Beberapa pusat perbelanjaan di Rangkasbitung pun masing ramai oleh pembeli. Seakan-akan lupa tentang keadaan negara saat ini.

Sejumlah warga Kabupaten Lebak melakukan pemeriksaan suhu tubuh bagi warga yang hendak masuk dan keluar permukiman untuk mencegah penyebaran virus Corona jenis baru atau COVID-19.

“Kami memberlakukan pemeriksaan itu secara swadaya dan mandiri,” kata Irawan, seorang warga Perumahaan Grand Sudirman Hill di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Sabtu (11/4/2020).

Pemeriksaan suhu tubuh bagi masyarakat ini diberlakukan kepada warga yang hendak ke luar maupun masuk perumahan, sebab kebanyakan penduduk di kompleks itu bekerja di Tangerang dan Jakarta.

Hanya segelintir orang saja yang sadar akan bahayanya virus corona. Lalu bagaimana dengan kampung-kampung yang masih saja santai? Bagaimana tanggapan Pemerintah Lebak prihal ini?

Setelah saya melakukan diskusi dengan beberapa kawan serta senior saya yang masih warga Lebak. Bahwasannya setiap kampung harus memiliki Tim SATGAS Desa ataupun Kelurahan yang menangani setiap warga yang baru datang ke kampung tersebut (dilakukannya karantina). Lalu ketika kita melihat realita dilapangan nyatanya nihil.

Tidak ada himbauan serta sosialisasi dari Tim tersebut. Pegawai Desa sibuk dengan dana Covid-19 saja. Bahkan pembagian dana tersebut tidak mengindahkan protokol kesehatan.

Tidak efesien jika proses karantina dilakukan oleh Pegawai desa. Karena dikhawatirkan ada warga pendatang yang positif dan sudah banyak berinteraksi dengan warga sekitar.

Sekiranya proses karantina dilakukan oleh Pemerintah Kota dengan melakukan penjagaan disetiap area perbatasan, terminal, dan stasiun. Sehingga pendatang tidak kontak langsung dengan warga. Dan sekiranya karantina tidak dilakukan dirumah masing-masing. Itu sama saja seperti menyediakan tempat untuk menularkan virus kesetiap orang.

Jangan sampai Lebak menjadi Zona Merah karena pemerintah kecolongan ketika banyak pendatang dan menyebarkan Virus Corona. Semoga Pemerintah Kota melakukan himbauan serta membuat praturan yang memadai agar kawasan Lebak tetap aman akan virus corona.

Jangan tunggu sampai darurat lalu kelabakan akan situasi tersebut. Sekarang belum terlambat, perbanyak sosialisasi kepada masyarakat. Agar mereka mengerti dan selalu melakukan protokol kesehatan.

Mamay NurbayaniPenulis: Mamay Nurbayani
(Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kader IMM FIP UMJ Cabang Cirendeu, Kader KUMALA (Keluarga Mahasiwa Lebak) PW. Jakarta)